• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Senin, 26 Februari 2024

Opini

Bullying di Sekolah karena Adanya Populisme dan Polarisme Siswa

Bullying di Sekolah karena Adanya Populisme dan Polarisme Siswa
Ilustrasi (NU Online/Freepik)
Ilustrasi (NU Online/Freepik)

Tindakan perundungan (bullying) masih marak terjadi di dunia pendidikan. Kasus-kasus tersebut merupakan segelintir bullying yang terjadi di negeri ini. Tentu masih banyak kasus bullying di sekolah yang tidak terekspos media massa. Maraknya kasus bullying di sekolah harus jadi bahan renungan kita semua. Ternyata proses pendidikan belum mampu membuat karakter anak yang cinta damai. Penyelesaian masalah dengan cara kekerasan lebih ditonjolkan ketimbang upaya berdamai.


Polarisasi sendiri adalah keterbelahan masyarakat/Siswa dalam menyikapi isu-isu lingkungan. Umumnya terjadi karena perubahan sosiokultural dalam lingkungan masyarakat dan munculnya kaum “elit siswa” baru yang memanfaatkan perubahan itu.


Populisme adalah kritikan atas sistem demokrasi representatif yang gagal menciptakan keadilan sosial dan menjadi penyambung lidah rakyat yang diwakilinya. Dalam hal ini siswa yang membuli temannya memberontak karena tidak adanya persamaan sosial dan persamaan kondisional.


Bullying yang ada di sekolah persis dijelaskan dalam buku Bullied Teacher Bullied Student, Parson, L (2005), bisa terjadi saat pelajaran maupun di luar kelas. Bentuknya, berupa kekerasan verbal, fisik, maupun psikis yang pelakunya bisa guru, siswa sendiri, juga karyawan sekolah. Adanya kekerasan dibiarkan sehingga menimbulkan akumulasi perilaku menyimpang pada diri anak. Bentuk pelampiasannya kerap menimpa korban yang lemah secara fisik.


Bullying tidak hanya secara interaksi tatap muka, tetapi sudah menggunakan media sosial dengan istilah cyber bullying. Yakni, segala bentuk kekerasan yang dialami anak atau remaja dan dilakukan teman seusia mereka melalui internet. Cyber bullying terjadi di mana seorang anak atau remaja diejek, dihina, diintimidasi atau dipermalukan oleh anak atau remaja lain melalui media internet, teknologi digital atau telepon seluler.


Kita sepakat bersama-sama mencegah aktivitas bullying, perundungan dan intoleran ke sekolah-sekolah. Meski agak terlambat, langkah koordinatif bersama ini patut diapresiasi karena makin merebaknya gejala populisme dan polarisme di kalangan generasi muda kita. Tidak ada yang lebih berbahaya daripada aksi kekerasan dan terorisme. Seperti ditemukan dalam beberapa riset mutakhir tentang meningkatnya populisme dan polarisme di Sekolah, ada sejumlah akar masalah yang perlu mendapat perhatian serius dari masyarakat dan pemerintah.


“Ancaman Bullying di Sekolah yang semakin marak dan ini meresahkan semua pihak baik di pihak sekolah maupun orang tua. Untuk itu, Berbagai cara dan ikhtiar dilakukan untuk mencegah terjadinya bullying di Sekolah, salah satu yang dilaksanakan di SMPN 2 Kadungora adalah dengan dibentuknya tim pencegahan buliying di tiap kelas, tim ini terdiri dari 4 orang Tim ini bertugas: 


1.memantau/mengawasi setiap gerak gerik murid.
2.Menasehati/memperingati jika sudah terindikasi adanya buliying
3.Melaporkan ke tim satgas sekolah” ujar Hj. Mas Cucu Julaeha, S.Pd., M. Pd (Kepsek SMPN 2 Kadungora-Garut)


Peran Pendidikan Islam


Islam sebagai agama yang sempurna akan mampu untuk memecahkan setiap problematika umat. Termasuk problem bullying. Semua pihak akan bertanggungjawab berdasarkan aturan Islam. Setiap perbuatan manusia terikat dengan aturan Allah SWT. Apapun yang diperintahkan oleh Allah wajib dilaksanakan dan apapun yang dilarang wajib ditinggalkan.  


Di sisi lain, aspek keluarga sangat penting dalam pembinaan anak. Karena, keluarga dalam Islam diberikan tanggung jawab untuk mendidik dan kasih sayang kepada anak-anaknya. Terutama ibu. Peran ibu sebagai (madrasatul ula') pendidikan pertama bagi anak, menanamkan nilai-nilai Islam hingga anak tumbuh dengan pemahaman Islam.


Begitu pula aspek pendidikan Islami. Dimana pendidikan dalam Islam berlandaskan aqidah. Tidak hanya mengajar individu agar mampu memahami ilmu-ilmu terapan namun juga dibarengi dengan Tsaqofaj-tsaqofah Islam sehingga out put dari pendidikan islam ialah menghasilkan individu yang cerdas dan berkepribadian Islam.


Lebih lanjut, perubahan emosional juga bisa menjadi alasan anak-anak gampang dan mudah melakukan bullying. Remaja juga mengalami perubahan emosional yang signifikan. Mereka mulai mengembangkan identitas diri dan mencari tempat mereka di dunia. Proses ini dapat menjadi sulit dan membingungkan, yang dapat menyebabkan stres dan kecemasan. Stres dan kecemasan dapat menyebabkan kemarahan.


Yang tak kalah penting, anak remaja juga menghadapi banyak tekanan sosial. Tekanan ini dapat berasal dari teman sebaya, keluarga, dan sekolah. Tekanan sosial ini dapat menyebabkan stres, yang pada akhirnya dapat menyebabkan kemarahan, dan melampiaskan kepada teman-teman sekitarnya. 


Islam mendorong sikap kasih sayang, keadilan, dan perdamaian dalam hubungan antar individu. Tindakan bullying atau penindasan terhadap orang lain dilarang dalam ajaran Islam dan dianggap sebagai tindakan yang salah dan tidak etis. Lebih lanjut, Islam mengajarkan bahwa kehidupan manusia memiliki nilai yang tinggi dan harus dihormati.


Tindakan bullying dapat merusak kesejahteraan fisik dan mental seseorang.  Korban bullying dapat mengalami masalah kesehatan fisik, seperti sakit perut, sakit kepala, atau gangguan tidur. Yang lebih berbahaya, korban bullying juga dapat mengalami masalah kesehatan mental, seperti depresi, kecemasan, atau gangguan stres Dalam Al-Qur’an, Q.S al Hujarat 49/ ayat 11 berfirman:


 يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ 


Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan itu) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olok itu) lebih baik daripada perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela dan saling memanggil dengan julukan yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) fasik) setelah beriman. Siapa yang tidak bertobat, mereka itulah orang-orang zalim."


Kemudian yang jadi pertanyaan, bagaimana cara mengantisipasi agar anak tidak menjadi pelaku bullying? Jawabannya adalah menanamkan akhlak mulia pada anak sejak usia dini. Seorang orang tua memiliki kewajiban untuk mendidik anak dengan baik dan benar. Penanam karakter dan budi pekerti yang baik, adalah solusi untuk memutus mata rantai bullying.  


Pendidikan akhlak mulia bagi anak sangatlah penting, karena akan menjadi bekal bagi mereka untuk menjalani kehidupan yang baik dan bahagia di masa depan. Pendidikan akhlak mulia akan membantu anak untuk membentuk karakter yang baik, seperti jujur, adil, bertanggung jawab, santun, dan penyayang. Karakter yang baik tersebut akan sangat bermanfaat bagi anak dalam menjalani kehidupan di masa depan, baik dalam keluarga, sekolah, masyarakat, maupun di tempat kerja. lebih dari itu, akhlak yang baik melindungi anak dari perbuatan buruk.


Pendidikan akhlak mulia akan mengajarkan anak untuk membedakan antara perbuatan baik dan buruk, serta untuk menghindari perbuatan buruk. Hal ini akan melindungi anak dari berbagai macam bahaya dan permasalahan di masa depan. Rasulullah bersabda:


 مَا نَحَلَ وَالِدٌ وَلَدَهُ أَفْضَلَ مِنْ أَدَبٍ حَسَنٍ


Artinya: "Tidak ada pemberian seorang ayah untuk anaknya yang lebih utama dari pada (pendidikan) tata krama yang baik". (HR At-Tirmidzi dan Hakim).


Aplikatif Sosio-Keberagaman


Dalam ranah pendidikan, keberagaman juga menjadi bahan perdebatan yang menarik, terutama saat kesadaran untuk merayakan perbedaan agaknya tidak selalu menjadi prioritas dalam pendidikan’ kita. Padahal, menimbang keberagaman yang ada di sekolah misalnya, pemahaman tentangnya mestinya mendapat perhatian yang lebih serius, terutama dalam mengatasi kegagapan dunia pendidikan kita dalam menghadapinya.


Dalam keseharian, sering kita temukan berbagai kegagapan yang dihadapi anak didik dan juga guru dalam menyikapi perbedaan. Praktik bullying sering kali mengeksploitasi perbedaan fisik, cara pandang, dan kepercayaan seseorang. Realitas utama yang tak dapat dihindari dalam relasi sosial kita sekarang ini adalah soal makin cepatnya arus perkembangan teknologi informasi yang membuat para anak hari ini lebih suka mencari informasi dan berdiskusi dalam media sosial.


Konsekuensinya relasi sosial secara nyata menjadi mudah terabaikan.Ketika anak lebih suka mencari pembenaran di dunia maya daripada menjaga hubungan interaksi sosial dalam dunia nyata maka hal ini dapat mengakibatkan menurunnya sikap penghargaan dan penghormatan anak kepada kontekstual lingkungannya. Anak dalam konteks ini merasa lebih dominan daripada relasi nyata sosialnya.


Dalam menjalani siklus kehidupan sosial masa milineal seperti sekarang. Memberi edukasi dan aplikatif sosial yang bijak tanpa meninggalkan perkembangan internet yang pesat merupakan proyeksi besar bagi peningkatan kualitas sosial anakmasa kini.Perilaku mengedukasi sosial bukan hanya melalui anjuran ataupun argumentatif tapi juga harus memberi contoh aplikatif dalam membangun relasi yang elegan dalam komunitas sosialnya masing – masing.


Nilai eksistensi diri menjadi hal yang baik dalam memupuk nilai semangat untuk berpikir maju dan nilai seperti ini dapat lebih dimaksimalkan dengan aktif turut serta dalam banyak rutinitas yang menunjang keharmonisan sosial. Aktif dalam banyak komunitas sosial merupakan satu contoh dari cara terbaik untuk membuang maraknya kekerasan bullying dalam interaksi kehidupan kita.


Selain itu, kita sebagai mahkluk sosial juga tetap mawas diri dan harus peka terhadap hubungan sosial satu sama lain. Menjalin nilai toleransi dan menjunjung tinggi arti kemajemukan sosial merupakan aplikatif sosial yang harus terus dibudayakan secara bersama–sama. Untuk itu, stop kekerasan bullying di Indonesia.


Nyanyang D Rahmat, (Guru PAI SMPN 2 Kadungora-Garut)


Opini Terbaru