• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Selasa, 27 Februari 2024

Opini

KOLOM GUS ISHOM

Bagian Rumit Dari Suatu Bidang Ilmu Jangan Dihindari

Bagian Rumit Dari Suatu Bidang Ilmu Jangan Dihindari
Bagia Rumit Dari Suatu Bidang Ilmu Jangan Dihindari
Bagia Rumit Dari Suatu Bidang Ilmu Jangan Dihindari

Para penuntut ilmu mempelajari setiap bidang ilmu semula dari mengenal huruf, belajar membaca, mengkaji dasar-dasarnya, memulai memahaminya dari yang termudah. Demikian seterusnya hingga dengan tingkat kerumitan yang semakin tinggi mengikuti peringkat jenjang kelasnya. Itu pun perlu dibimbing oleh para guru yang ahli di bidangnya masing-masing.


Tingkat kerumitan suatu bidang ilmu inilah yang seringkali dihindari oleh para penuntut ilmu. Padahal di sinilah tantangannya, letak rasa lezat dan manisnya ilmu yang sedang dipelajari. Sejatinya, siapa saja yang tidak mampu memahami kerumitan-kerumitan, hal-hal yang pelik dalam suatu bidang ilmu, sungguh ia tidak memiliki koneksi dengan ilmu yang dituntutnya itu. Karena justru letak manisnya ilmu itu berada pada tingkat kerumitannya.


Untuk memahami bagian ilmu yang relatif rumit perlu mendayagunakan nalar yang maksimal dan perenungan yang lebih mendalam, bahkan perlu berulangkali membacanya, mendiskusikannya, atau hingga bertanya-tanya sampai ia benar-benar memeroleh jawaban dan bisa mengerti maksudnya. Bagi para pemula dalam menuntut ilmu mengetahui bagian yang relatif rumit dari sebuah ilmu sudah menunjukkan ada perkembangan, walaupun belum mencapai tahapan mampu menganalisisnya.


Cobalah mengamati pemikiran orang berilmu (al-'alim) yang dibangun dengan alur logika berpikir yang begitu runut, sistematis, mampu menganilisisnya, dan tentu saja bisa mempertanggungjawabkan secara ilmiah. Seorang peneliti ilmu dengan cerdas mampu mengaitkan satu masalah dengan masalah lainnya dengan amat jelas.


Perkataan orang-orang yang berilmu itu bukan saja tentang ilmu yang dibutuhkan, melainkan juga mengajarkan bagaimana mampu membaca persoalan, mampu mengurai, mencari alternatif solusi atas masalah kehidupan yang datang silih berganti. Walau sepatutnya disadari, bahwa tidak setiap orang berilmu itu adalah orang yang mampu bicara apa saja, melainkan ia hanya mengulas sebatas apa yang nampak jelas baginya. Berikutnya mereka akan mewariskan ilmu yang telah jelas baginya itu kepada generasi berikutnya.


Suatu bidang ilmu menuntut--antara lain--perubahan kehidupan manusia ke arah yang lebih baik, memberikan kemudahan dalam perkara yang sebelumnya sulit, dan memberikan manfaat secara lebih luas bagi peradaban manusia. Perubahan tersebut hanya bisa dicapai apabila para penuntut ilmu tekun membaca apa yang memang dibutuhkan, memahami tujuannya dengan baik, melakukan riset yang berkesinambungan dan tidak menghindari tantangan ragam problema kehidupan yang kadangkala begitu rumit.


KH Ahmad Ishomuddin, salah seorang Rais Syuriah PBNU masa khidmah 2010-2015 dan 2015-2021.


Opini Terbaru