• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Selasa, 18 Juni 2024

Opini

AI: Tantangan dan Peluang Bagi Jurnalisme di Era Digital

AI: Tantangan dan Peluang Bagi Jurnalisme di Era Digital
Ilustrasi. (Foto: NU Online/freepik)
Ilustrasi. (Foto: NU Online/freepik)

Baru-baru ini, saya mengikuti pelatihan kecerdasan buatan atau AI yang diadakan oleh Media Development Investment Fund (MDIF). Pelatihan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman dasar tentang AI dan bagaimana AI dapat diterapkan dalam berbagai bidang, termasuk jurnalisme.


Pelatihan berlangsung selama dua hari dimulai pada tanggal 6-7 Mei 2024 di Komunitas Utan Kayu, Matraman, Jakarta Timur, diikuti oleh media partner MDIF regional Asia.


Greg Piechota, seorang peneliti yang tinggal di International News Media Association dan mantan peneliti di Harvard Business School serta Universitas Oxford mengatakan bahwa penting saat ini bagi para pemimpin redaksi (small newsroom) untuk memahami bagaimana implikasi, strategi, dan pemanfaatan potensi teknologi baru ini.


Tak bisa dipungkiri jika AI membawa revolusi jurnalisme ketika AI digunakan ruang redaksi untuk mencari riset, cek fakta, membuat opsi judul berita dan mendorong produktivitas reporter atau jurnalis untuk menghasilkan karya tulisan mereka.


Bukan hanya itu, AI bahkan bisa digunakan untuk mempersonalisasi karya jurnalistik menjadi sebuah karya multimedia seperti audio dan video ketika tugas seorang presenter digantikan oleh AI dan kecerdasan buatan tersebut digunakan ruang redaksi untuk mulai memproduksi konten media sosial.


Peluang AI bagi Jurnalisme: 


Meningkatkan akurasi dan kecepatan: AI dapat membantu seorang jurnalis untuk bekerja lebih cepat dan efisien. Dengan AI mereka dapat menghasilkan laporan yang lebih akurat dan objektif, memverifikasi data dengan cepat, dan mengidentifikasi informasi yang salah.


Membuat jurnalisme yang lebih personal: AI dapat membantu jurnalis untuk mengidentifikasi data dan minat pembaca, sehingga data tersebut bisa diolah oleh seorang jurnalis untuk membuat artikel dan berita yang relevan dengan mereka.


Otomatisasi tugas repetitif: AI juga dapat digunakan untuk mengotomatisasi tugas-tugas jurnalis yang banyak memakan waktu seperti transkip wawancara, mengumpulkan dan menganalisis data, dan menghasilkan laporan.


Namun, di sisi lain AI juga membawa tantangan bagi jurnalisme ketika kecerdasan buatan tersebut memiliki beberapa potensi bahaya yang melanggar etik jurnalisme seperti bias, diskriminasi, dan penyalahgunaan informasi. 


Penyalahgunaan informasi: AI bisa saja digunakan untuk menyebarkan informasi yang menyesatkan. Sebab itu, nalar kritis dari seorang jurnalis diperlukan untuk memverifikasi data yang didapat dari AI sebelum menyebarkannya.


Diskriminasi: AI juga dapat digunakan untuk mendiskrimanasi individu atau kelompok tertentu, sehingga sangat penting bagi seorang jurnalis untuk menggunakan AI secara etis dan bertanggung jawab untuk menghindari pelanggaran hak asasi manusia.


Potensi bisa: AI juga dapat menghasilkan laporan yang tidak akurat sehingga bisa menyebabkan penyebaran informasi yang salah dan menyesatkan.


Dengan demikian, dapat dipahami bahwa AI adalah alat yang ampuh yang dapat digunakan untuk meningkatkan jurnalisme dalam banyak hal. Akan tetapi, penting bagi jurnalis untuk menggunakan AI secara bertanggung jawab dan etis. Oleh karena itu, penting bagi jurnalis untuk memahami AI dan bagaimana AI dapat digunakan untuk meningkatkan pekerjaan mereka.


Agung Gumelar, Redaktur NU Online Jabar


Opini Terbaru