• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Senin, 15 April 2024

Opini

9 Prinsip Bisnis yang Harus Dipegang Jika Ingin Sukses

9 Prinsip Bisnis yang Harus Dipegang Jika Ingin Sukses
Ilustrasi. (Foto: NU Online/freepik)
Ilustrasi. (Foto: NU Online/freepik)

Ada beberapa etika bisnis yang berkaitan dengan keluarga yang harus dipegang. Beberapa hal ini saya dapatkan dalam perbincangan dengan para senior di bidangnya. Sembilan prinsip tersebut di antaranya:

 

1. Beberapa orang yang mengalami beberapa kali penipuan dalam berbisnis, biasanya pelit kepada ayah-ibunya, atau kepada anak istrinya.

 

2. Kalau lagi marah-marah kepada anak istri, atau sebaliknya, omzet malah turun. (Ini ilmu yang saya dapat setelah membaca statemen pengusaha sukses asal Bali yang ditemui oleh Mas Muhammad A Nasir)

 

3. Semakin royal kepada orang tua dan anak istri, semakin lancar rezeki.

 

4. Kalau hutang kepada orang lain untuk urusan bisnis tapi merahasiakannya dari pasangannya--dengan beberapa pertimbangan--biasanya malah kesulitan melunasinya. 

 

5. Suami yang bisnisnya berkembang biasanya mendapatkan dukungan dari istri. Sebaliknya demikian. Saling meminta doa. Beberapa bisnis yang dijalankan istri berkembang di awal lantas ambruk dan sulit bangkit karena tidak mendapatkan izin dari suaminya sejak awal. Sebaliknya juga sama. Suami butuh dukungan dari ridlo dari istri. Komunikasi menjadi kunci. Suami dan istri masing-masing punya "tuah".

 

6. Ketika kita kesulitan menagih hak kita yang ada di orang lain, biasanya ada hak orang lain yang sengaja atau tidak, kita tahan dan tidak segera kita serahkan.

 

7. Porsi rezeki yang kita siapkan untuk membantu orangtua meraih harapannya (berangkat haji, umrah, qurban maupun memperbaiki rumah) tidak usah diotak-atik. Sekali anggaran itu "kita pinjam" untuk diputar di bisnis, akan sulit kita kumpulkan lagi. 

 

8. Setelah zakat dikeluarkan, atau--jika belum mencapai nishab--sedekah diberikan kepada yang membutuhkan, bisnis semakin stabil. Kalau sudah mencapai nishab dan haul, tapi kok zakat belum juga dikeluarkan, Allah "memaksa" kita mengeluarkan harta yang senilai dengan zakat yang seharusnya dikeluarkan. 

 

Misalnya, sudah nyetir mobil hati-hati, eh ditabrak pengendara motor/mobil ugal-ugalan yang langsung bablas lari. Ongkos benerin mobil penyok jika dikalkulasi lhakok nyaris setara dengan jumlah nominal zakat yang seharusnya ditunaikan. Dan, kasus-kasus "apes" lainnya... 

 

9. Beberapa pebisnis pemula hingga bisa berkembang punya amalan rutin yang dikerjakan secara istiqamah. Bukan soal ibadah, melainkan misi sosial. Ada yang rutin memberi beasiswa santri, ada yang merawat anak yatim, ada juga yang nyemplungi kotak amal masjid. Walaupun nominal tidak banyak, keistimewaannya terletak pada sisi istiqomahnya. 

 

Gus Rijal Mumazziq Z , rektor INAIFAS Jember


Opini Terbaru