Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Pesantren Babakan dan Keulamaan Perempuan

Pesantren Babakan dan Keulamaan Perempuan
Santri perempuan sedang mengaji kitab kuning. Foto: dok. Pesantren Assalafie, Babakan Ciwaringin Cirebon.
Santri perempuan sedang mengaji kitab kuning. Foto: dok. Pesantren Assalafie, Babakan Ciwaringin Cirebon.

Oleh Neneng Yanti Khozanatu Lahpan

Tulisan singkat berikut ini hendak memotret pesantren Babakan yang memiliki keistimewaan sebagai pesantren salaf (tradisional) tetapi sangat terbuka dengan pemikiran modern.

Pesantren salaf didefinisikan sebagai pesantren yang hanya mengajarkan pelajaran-pelajaran agama dengan menggabungkan sejumlah metode: bandungan, sorogan dan klasikal. Bila santri hendak belajar ilmu non-agama, hal itu dapat dilakukan di luar pesantren. Di lingkungan pesantren Babakan, terdapat sekolah-sekolah formal yang dapat menjadi pilihan para santri untuk belajar ilmu non-agama. Hal ini telah membuat pesantren dan sekolah formal berkembang bersama-sama dengan baik di Babakan.

Dalam geografi kepesantrenan, Babakan terbilang unik. Jika di tempat lain satu pesantren terpusat di satu area, di Desa Babakan terdapat lebih dari 40 pesantren besar dan kecil. Pesantren Babakan berdiri, tumbuh, dan berkembang oleh para kiai yang datang dari berbagai daerah untuk mengembangkan ilmu agama di wilayah itu. Dalam rentang waktu yang panjang, lebih dari tiga abad, pesantren-pesantren di Babakan itu telah berkontribusi besar dalam pengembangan intelektualitas atau nilai-nilai keulamaan para lulusannya.

Pesantren Perempuan

Dalam kajian kepesantrenan, perhatian terhadap pesantren perempuan masih sangat minim. Padahal dunia pesantren perempuan itu memberi ruang yang begitu besar bagi pemberdayaan potensi keulamaan perempuan seperti yang terefleksikan pada peran para nyai dan para santrinya dalam berkiprah di ruang publik. Fungsi keagenan pesantren putri dan nyai ini berperan penting dalam konteks tranformasi keilmuan dan perubahan sosial masyarakat. Aktivitas para nyai dan para santri tidak hanya berada di area kepesantrenan, di bilik-bilik asrama dan kelas, tetapi juga memasuki ruang-ruang publik seperti memberi pengajian di masyarakat, majelis taklim, organisasi sosial-keagamaan, hingga masuk ke dunia politik atau pemerintahan.

Di lingkungan pesantren salaf, terdapat pola-pola yang unik dalam membangun relasi santri-nyai. Nyai mendidik dengan keteladanan, melalui contoh dalam kehidupan sehari-hari. Dalam konsep gender, Srimulyani (2012) menyebutnya santri ibuism, yakni sebuah peran yang menempatkan nyai sebagai pemelihara, pelindung, pengasuh dalam berbagai aktivitas kepesantrenan sebagai bagian dari kewajiban, tanpa mengharapkan balasan. Di sini, nyai merupakan “the symbolic mother” yang merawat, mengasuh dan mendidik para santrinya. Interaksi yang intens dalam keseharian itu telah membangun relasi santri-nyai seperti anak-ibu.

Selain itu, pendidikan karakter atau pembangunan akhlakul karimah merupakan hal yang utama. Nilai-nilai itu bukan sekedar jargon, akan tetapi dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari: kesederhanaan, sikap menghargai, tawadhu, merupakan praktik keseharian yang membentuk karakter para santri. Dengan kata lain, pesantren Babakan meletakkan dasar bagi terbentuknya potensi keulamaan perempuan pada aspek kediriannya. Dalam konteks keteladanan ini, konsep mengenai keberkahan punya tempat penting dalam tradisi keilmuan pesantren. Sebesar apa pun usaha para santri untuk belajar, jika tanpa diiringi keberkahan kiai/nyai maka diyakini akan sia-sia.

Keulamaan Perempuan

Kehidupan kaum perempuan di Indonesia pada umumnya lebih cair terkait dikotomi public dan privat. Kaum perempuan Indonesia lebih menikmati kebebasan di ruang publik dibandingkan dengan perempuan muslim di Timur Tengah (Smith dalam Srimulyani 2012). Hal ini menegaskan karakteristik Islam di Indonesia yang khas, yang memberi ruang besar bagi kaum perempuan untuk berkiprah luas di ruang publik.

Dalam institusi pesantren salaf seperti di Babakan, ketika kepemimpinan pesantren bersifat patriarkis, ternyata peran dan kehadiran ibu nyai dalam proses pendidikan pesantren sangat penting. Para nyai memiliki legitimasi untuk melaksanakan tugas-tugas terkait kekiaian. Nyai merupakan representasi kiai di pesantren putri: menjadi pemimpin pesantren, pengajar, hingga aktif dalam berbagai forum pengajian dan kegiatan sosial serta organisasi keagamaan.

Peran nyai dan keterbukaan di Pesantren Babakan terbilang istimewa karena beberapa alasan. Pertama, keterbukaan Babakan sebagai wilayah kepesantrenan yang memungkinkan sejumlah kiai tidak hanya berasal dari ‘darah biru’ keluarga kiai. Situasi ini memungkinkan siapa pun yang dianggap memiliki kapasitas keilmuan dapat mendirikan pesantren di Babakan. Sejumlah kiai Babakan adalah santri-santri terbaik yang kemudian menikah dengan para putri kiai. Menurut Royanach Ahal, salah seorang nyai di Babakan, 90 persen keturunan kiai Babakan adalah perempuan sehingga para penerus kiai Babakan adalah menantu yang berasal dari para santri pilihan.

Kedua, kendali para nyai di Babakan dalam urusan kepesantrenan cukup besar. Hampir seluruh aktivitas keseharian para santri berada di tangan para nyainya. Mereka mengurus segala keperluan para santri hingga kiai. Bahkan, kadang tidak hanya mengurusi santri putri, tetapi juga santri putra. Nyai berperan penting dalam menjaga keteraturan sosial di lingkungan pesantren.

Situasi yang terbuka ini memungkinkan cairnya pemahaman aspek kepesantrenan di Babakan. Hal ini terbukti dari keberhasilan Nyai Masriyah Amva yang memimpin Pesantren Kebon Jambu sepeninggal suaminya, Kiai Muhammad, dengan capaian yang istimewa. Nyai Marsiyah tidak hanya berhasil memimpin pesantren, baik santri laki-laki maupun perempuan, membawahi para staf/ustadz laki-laki dan perempuan, tetapi juga aktif berkiprah di ruang publik sebagai penulis/penyair yang cukup produktif beserta berbagai aktivitas lain. Di sini, kemampuan manajerial nyai dalam mengelola pesantren tampak menonjol.

Meskipun demikian, masih terdapat sejumlah hambatan terkait relasi sosial dan kultural yang bersifat partiarkis dengan batasan-batasan yang ketat. Hal ini membuat peran nyai lebih sering terbatas pada dunia santri perempuan saja. Padahal, dengan potensi keilmuan yang dimilikinya, ulama perempuan dapat mentransformasikan keilmuannya bagi semua santri, laki-laki dan perempuan. Hambatan lain ialah dari sisi potensi santri. Di sejumlah daerah, masyarakat masih menganut pola-pola pemahaman tradisional yang beranggapan capaian utama perempuan adalah menikah sehingga tak jarang masa belajar menjadi sangat singkat. Ini berarti potensi keulamaan juga seringkali terbentur dinding kultural yang masih keras menyangkut posisi dan peran perempuan secara tradisional ini, yakni terbatasnya ruang dan waktu yang didedikasikan untuk belajar. Wallahu A’lam.

Penulis adalah alumni Pondok Pesantren Miftahul Mut’allimat, Babakan Ciwaringin Cirebon, pengurus PW Fatayat Jabar.  

 

Terkait

Opini Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×