• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Minggu, 14 April 2024

Obituari

Menziarahi Almaghfurlah Kiai Abun Bunyamin Ruhiat (III); Keteladanan

Menziarahi Almaghfurlah Kiai Abun Bunyamin Ruhiat (III); Keteladanan
Menziarahi Almaghfurlah Kiai Abun Bunyamin Ruhiat (III); Keteladanan
Menziarahi Almaghfurlah Kiai Abun Bunyamin Ruhiat (III); Keteladanan

Berbicara ketaladanan Kiai sejatinya ialah berbicara tentang potret hidup beliau yang jadi kompas hidup bagi santrinya. Ada banyak keteladanan baik ucapan, sikap, prinsip hidup yang beliau ajarkan. Karena sejatinya segala perilaku Kiai merupakan teladan bagi santrinya.


Tanpa mengurangi rasa takdzim saya terhadap beliau, saya hanya ingin menggarisbawahi beberapa sikap beliau yang menjadi bahan pembelajaran bagi santri dan siapapun yang mengenal beliau. Karena beliau merupakan sosok yang kompleks dan kompeten dalam berbagai bidang dan berbagai fan ilmu, maka saya hanya membatasi sedikit saja mengulas bagaimana sikap beliau “menghamba” pada ilmu. 


Saya, dan tentu saja seluruh santri Cipasung siapa pun itu, akan sepakat terkait kegigihan dan militansi Bapak dalam hal pengajian.


Hal yang sering saya dengar dari Beliau ialah amanat dari Abah Ruhiat, pendiri Pesantren Cipasung menyampaikan bahwa "Tarekat Cipasung itu ngaji." Ngaji merupakan ruh dan nafas pesantren Cipasung. Saya dan santri Cipasung menyaksikan betapa beliau tidak akan pernah absen dalam mengisi pengajian harian jika tidak karena sakit dan urusan lain yang tak bisa diwakilkan. Jika ada kesempatan sekecil apa pun, bapak akan berusaha mengisi pengajian. Tak jarang ketika selesai mengikuti acara hingga larut malam, bapak masih menyempatkan diri untuk mengisi pengajian dan dengan sabar tetap membacakan kitab, menerjemahkan dan menjelaskannya kepada para santri meskipun dengan katup mata yang menghitam karena lelah. Dalam kondisi apapun beliau akan tetap mengajar santrinya. 


Perhatian dan kepedulian beliau terhadap santri dan pengajian dirasakan sendiri oleh saya. Sekitar tahun 2001 hingga 2003 saya menjadi Rais (kepala) asrama Nugraha selama kurang lebih tiga tahun. Hampir setiap bakda shubuh sebelum pengajian dimulai beliau selalu berkeliling ke tiap asrama untuk memeriksa atau menanyakan santri yang tidak mengikuti pengajian shubuh.


Dul Qohar, kumaha santri tos berangkat ngaji sadayana? Coba pariksa tiap kamar!” tanya beliau sambil berkeliling memeriksa kamar-kamar memastikan keadaan santri di asrama Nugraha.


Muhun, parantos dicek, Pak.” Jawab saya meyakinkan beliau.
  
Keteladanan beliau yang lain ialah konsistensi beliau dalam muthala’ah kitab sebelum mengajarkannya kembali kepada santri. Konsisteni inilah yang bagi saya sangat mengagumkan, betapa tidak, dengan pemahaman ilmu yang sangat luas ditambah lagi pengalaman berpuluh tahun mengajar kitab yang sama beliau tetap melakukan muthala’ah dengan seksama. Beliau benar-benar menerapkan dan sebagai wujud implementasi dari kitab Ta’lim al-Muta’allim yang beliau ajarkan tentang pentingnya mudawamah ‘ala ad-darsi. Secara langsung Bapak mengajarkan kami sikap rendah hati dalam belajar dan pentingnya 'membaca' dan ‘membaca ulang’ dalam proses memperoleh ilmu. Boleh jadi inilah sebuah experiental learning model yang berharga bagi saya.


Hal lain yang saya alami ketika ngaji bersama Bapak, pernah suatu ketika dalam sebuah pengajian ada beberapa santri yang tidak mengikuti pengajian Bapak dengan alasan sedang ngabadalan – menjadi guru pengganti- di beberapa kelas pengajian tanpa seizin dan restu beliau. Lalu beliau berkata di hadapan saya dan santri lain.


Anjeun kudu inget yen tujuan ka Cipasung teh rek diajar, lain rek ngajar. Engke oge mun tos waktuna mah ku Bapak oge rek dititah ngajar. Ayeuna mah ngaji we heula jeung Bapak” pungkas beliau.


Dari kejadian ini saya belajar bahwa Bapak mengajarkan tentang pentingnya kesiapan seorang guru dalam penguasaan materi yang akan diajarkan. Bahwa seorang guru tentu lebih mengetahui kapasitas dan kemampuan santrinya sebelum santri itu mengajarkan kepada yang lainnya. Nanti pada saatnya ketika pemahaman dan ilmu sudah layak untuk ditransfer ke orang lain maka ilmu itu akan utuh dan mudah dipahami. Beliau tahu siapa dan kapan seseorang layak menjadi  guru badal di pengajian.      


Keteladanan beliau yang lain dan ini merupakan filosofi hidup yang sering diutarakan kepada saya dan juga para santri. 


“Lamun teu ayeuna rek iraha deui, lamun teu ku urang rek ku saha deui?


Kalimat ini menjadi kalimat sakti dan merupakan kalimat penggerak bagi kami untuk senantiasa produktif dan sensitif terhadap kondisi apapun. Setiap pekerjaan sejatinya tidak ditangguhkan dan segera diselesaikan sebisa mungkin, sesegera mungkin. Tak perlu mengandalkan orang lain, maka setiap individu santri sejatinya menjadi penggerak bukan menunggu digerakkan oleh orang lain, atau mengandalakan orang lain.


Keteladanan lain yang kiranya penting untuk kita contoh ialah bagaimana beliau berkhidmat untuk NU. Sama seperti para pendahulunya (Abah Ruhiat, KH.Ilyas Ruhiat, KH. Dudung Abd. Halim Ruhiat), Bapak pun sangat aktif berkegiatan di NU dari mulai tingkat Ranting sampai level PBNU. Kecintaan beliau dan khidmat terhadap NU tak perlu diragukan lagi. Posisi Rais Syuriah PBNU 2022-2027 adalah bukti shahih bagaimana khidmat dan pengabdian beliau untuk NU tetap terjaga.


Yang menarik pula untuk diteladani ialan bagaimana beliau memuliakan para tamu yang berkunjung ke Cipasung. Penyambutan dan keramahan beliau terhadap tamu baik dari PBNU, kalangan pemerintahan, maupun tamu lainnya memberikan kesan bahwa beliau adalah orang yang sangat welcome terhadap siapapun.


Hal ini  saya rasakan sendiri setiap kali saya dan para alumni berkunjung ke Cipasung baik untuk acara Haul, reuni, maupun acara lainnya, beliau selalu menyambut kami dengan ramah dan penuh keakraban. Dan tak lupa kami “dilarang” meninggalkan kediaman beliau sebelum mencicipi makanan yang telah beliau sediakan, beliau mempersilakan para santri dan alumni segera makan, bahkan beliau sendiri yang sibuk mengatur hidangan yang tersedia di meja makan serta mengatur segala keperluannya secara langsung. 


Cipasung juga seringkali ditunjuk sebagai tuan rumah untuk berbagai macam kegiatan ke-NU-an maupun kegiatan lainnya dari mulai kegiatan skala kecamatan, kabupaten, provinsi, hingga nasional. Segala keperluan tamu dari semua kalangan telah beliau siapkan dengan segala fasilitasnya.


Sikap beliau dalam memuliakan para tamu inilah yang mebuat decak kagum siapa pun yang berkunjung ke Cipasung, hingga tak heran kalau KH. Zulfa Mustofa (Mustasyar PBNU) mengekspresikan kekagumannya terhadap Cipasung melalui syair yang beliau ciptakan sendiri: 


عَجِبْتُ مِنْ شِى فَا سُونْج عَلَى تَفَضُلِهِ # لِضَيْفِهِ مُكْرِمٌ أَعْظِم مَشَا يِخَهُ
وَ عَا لِمُ الصُندَاوِى أَجنغَانْ رُحِيَتِنَا # مُسْنِدُ نَا فِي العُلُوْمِ اَنْتَ نَوَّرْ تَهُ
وَأَجغَانْ إِلْيَاسَا أَهَمُّ مَرْجَعِنَا # وُبُنْيَامِنْ قُدْوَةٌ سِيَمَا خِدْ مَتُهُ


Saya kagum terhadap pondok pesantren Cipasung atas keutamaannya
Begitu memuliakan tamunya, maka muliakanlah Masyayikh dan guru Cipasung
Dan orang alim dari tanah Sunda yakni Ajengan Ruhiat kita, Beliau adalah sanad kita semua dalam ilmu agama, Semoga engkau Allah selalu menyinari kuburan beliau.
Dan Ajengan Ilyas Ruhiat rujukan kami yang paling utama 
Dan Ajengan Bunyamin panutan kita dalam berkhidmah kepada masyarakat lewat pesantren dan Nahdlatul Ulama
.


‘Alaa kulli haal, KH. Abun Bunyamin Ruhiat merupakan server rohani, kompas kehidupan santri dan masyarakat, yang menyediakan dan mewakafkan dirinya sebagai tumpuan bagi para santri dan umat agar koneksi jiwa tetap terjaga. Semasa hidupnya Beliau menjadi “Manusia Ruang” – dalam istilah Cak Nun — yang tidak lagi membutuhkan tempat, melainkan justru menyediakan tempat bagi siapa pun yang membutuhan tempat bersandar, butuh bimbingan rohani, dan lainnya.


“Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al-Fajr: 27-30).


Selamat jalan, Bapak. 
Selamat berbahagia di keabadian.
Linnabiyyi wa lahu al-fatihah.


Abdul Qohar, Penulis merupakan Santri Cipasung 1998 – 2005 Ketua KAC Kab. Subang 


Obituari Terbaru