Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

KH Abun Bunyamin Ruhiat dalam Pandanganku (I)

KH Abun Bunyamin Ruhiat dalam Pandanganku (I)
KH Abun Bunyamin dan Eki Naufal Fauzi dalam satu kesempatan (Dok. Pribadi)
KH Abun Bunyamin dan Eki Naufal Fauzi dalam satu kesempatan (Dok. Pribadi)

Oleh Eki Naufal Fauzi

Bapak. Begitulah kiranya kami semua memanggilnya disini. Sejujurnya, aku tidak begitu ingat bagaimana kedekatanku secara personal dengan bapak bermula. Kehidupanku di Cipasung berawal sejak masa Tsanawiyah, saat Cipasung masih dipimpin KH Dudung Abdul Halim. Dari sekian banyak orang luar, aku merasa sangat beruntung. Sebagai “non-santri” yang dapat dekat dengan bapak. Tidak pernah merasakan “nyantren” secara formal, bapak tahu persis bahwa aku bukan santri yang teregistrasi di Pesantrennya.


Aku adalah anaknya yang culangung. Figur bapa memang sudah seperti ayah buatku. Dan aku memperlakukan dan menghormatinya dengan caraku.


Diluar dugaan, dengan attitude-ku yang mahiwal, bapak selalu ringan menerima dan menyambutku. Ini membuktikan bahwa betapa Bapa sangat membuka lebar tangannya bagi siapapun yang ingin dekat mengenalnya, tidak terkecuali untukku, anaknya yang akhlaknya tidak bagus ini. Beberapa teman (yang santri) juga keluargaku terkadang merasa risih denganku yang terbilang “berani” pada bapa. Aku tidak pernah segan untuk sekedar bercanda ringan atau membicarakan apapun pada beliau.


Tidak banyak Kiai yang bersentuhan denganku di kehidupan. Bapak selalu mengajarkan hal dengan berbagai perspektif. Sebab itu juga mungkin Bapa selalu toleran denganku yang rada-rada ini.  


Jikapun ada yang melewat batas, bapak selalu meluruskannya dengan lirih, menjelaskan tentang hal-hal yang ‘kurang pas’ pada tempatnya.


Rambut Panjang


Masa kuliahku diwarnai dengan kebebasan. Rambutku kubiarkan tumbuh sangat panjang. Saat masa ini Aku sesekali berkunjung ke Cipasung untuk membantu guru kesenianku jika sedang ada kegiatan atau acara di SMA, pada sela-sela itu Aku kadang bertemu dengan bapak. Aku sebenarnya agak malu datang ke Cipasung dengan ‘interface’ seperti ini, tapi ternyata Bapak tidak mempermasalahkan itu. Hanya saja Bapa selalu mencandaiku dengan guyonan seperti, “Eki teu nanaon rambutna panjang, tapi cicingna di Uswahnya..(Eki tidak apa-apa rambutnya panjang, tapi tinggalnya di asrama perempuan)”, atau, “Eki tara arateul eta? (Apakah kepalamu tidak gatal-gatal?)”.


Bapak mengatakannya dengan tawa sambil menggerai rambutku yang nyaris sepunggung. Yah, buatku mungkin itu cara kapak ‘ngagenggereuhkeun’ aku yang urakan begini, jauh dari predikat sebagai seorang santrinya.


Amanah Mengajar


2015, berhasil lulus kuliah. Disaat teman-teman sebayaku sudah mulai meniti karir, meluapkan hasrat yang terkekang selama empat tahun dengan harus bertahan dengan apapun di Tasik, aku melarikan diri dengan banyak melakukan perjalanan-pencarian.


Genap dua tahun dari itu, aku merasa begitu gelap. Akhirnya aku berniat kembali sementara. Aku bertemu beberapa teman lama juga guruku, dan dengan satu cara aku diarahkan untuk mengajar di SMA Islam Cipasung. Aku belum begitu percaya untuk mendapatkan amanah itu. Mengingat tentang itu-tentang Cipasung, aku hendak berziarah ke makam Pak Kiai Ruhiat dan Kyai Ilyas, untuk meyakinkan apakah aku harus tinggal atau tidak. Soal ziarah, karena aku tidak tahu bagaimana cara melakukan ziarah yang benar, aku menghubungi Furqon Taufiq, sahabatku semasa aliyah yang tersisa di Cipasung untuk membimbingku selama ziarah.


Aku merasa agak tenang dan sedikit mendapat arah, diperjalanan pulang dari makam menuju gerbang, hanya dalam dua tahun saja aku disuguhkan pandangan-pandangan baru yang berbeda dari apa yang dulu pernah kulewati disini. Tidak berlebihan jika bapak dikenal sebagai Kiai pembangunan Cipasung.


Selepas ziarah, Aku dan Furqon berpisah. Furqon menuju asrama selamet (Dulu Furqon masih sebagai pengurus di sana), aku terhenti melihat bapa yang sedang membaca koran di depan rumahnya. Pertemuan dengan Bapa agak sudah lama sejak terakhir kali, jadi aku merasa canggung dan memberanikan diri untuk  menyapa. Mendapat salam dari tangan Bapa aku merasa bertambah tenang.


“Tos lulus kuliah teh ?”, bapa bertanya padaku sambil membaca, matanya tetap tertuju pada koran.


“Alhamdulillah atos Pa..”, kujawab pelan duduk lesehan di sampingnya.


Kami tidak saling bicara. Suasana ini agak canggung, aku merasa tidak nyaman takutnya mengganggu atau apa karena bapak terlihat sedang khusyuk. Tidak lama dari itu Bapa memberikan sebagian korannya padaku.


“Eki baca sawareh, ke terangkeun ka Bapak, meh tereh nya,” ucap bapak.


Aku langsung ngagurudug membacanya. Kami sama-sama terdiam membaca. Berselang 5 menitan bapa bertanya lagi


“Atos maca na Ki ?, sok terangkeun ka Bapak.”, bapak bertanya lagi.


Aku lupa apa yang kubaca waktu itu, yang jelas headline-nya masalah ekonomi, tapi belum selesai menerangkannya, Bapa masuk ke rumah ke kamarnya. Aku jelas kebingungan harus melakukan apa, tapi tidak lama Bapa keluar lagi menghampiriku.


“Engke sore Eki kadieu deui we, tapi tos dicukurnya, jig ayeuna mah uih heula. Bapa aya pangaosan ayeuna mah..”, ujar Bapa sambil memberiku uang.


Aku pulang dengan banyak pertanyaan. Dengan segala yang terjadi aku memikirkannya. Ini titah Kiai, tidak mungkin tidak baik. Rambut yang kusayangi, bagian paling kusukai dari waragadku, ku potong siang itu. 


Sore harinya, sesuai permintaan bapak, aku kembali ke rumahnya untuk menemui Bapak. Bapak sudah tersenyum sejak melihatku di luar rumahnya.


Tah ningan tos kasep ayeuna mah. Ke senen tingal ka sakola, sing rapih. Ngajar nu biasa we..”, ucap Bapa bahkan sebelum aku mengucapkan salam masuk.


Pertemuan yang kali itu tidak lama, Bapa kelihatan sibuk dengan santri-santrinya yang ada di rumah, Aku pulang dengan pertanyaan. Nu biasa ? aku tidak tahu apa maksud nu biasa buatku.. Jika sesuai linearitas studi, aku harusnya mengajar matematika atau fisika, ditambah lagi aku bukan dari jurusan pendidikan. Tahun 2017, hari senin. Aku datang ke SMA Islam Cipasung, melihat jadwal pelajaran dengan nomor kode guru 46 saat itu, aku mulai mengerti maksud perkataan Bapa tentang ‘nu biasa’, aku diamanahi untuk berbagi ilmu pada pelajaran Seni Budaya.


Selama aku berkegiatan di sekolah, SMA Islam Cipasung sudah dikepalai putrinya Hj. Neng Ina Muthma’innah. Dengan jalan Bapak, aku merasa mendapatkan perlakuan khusus. Aku dapat akses untuk menempati ruang sanggar yang diperbolehkan kutata sedemikian rupa sesuai dengan keinginanku (bahkan ruangan terpisah untuk kelas seni rupa, biasanya bapak rewel masalah dekorasi ruangan, harus sesuai selera Bapa).


Aku tidak betahan pakai seragam ‘tugas’ yang kaku itu, aku selalu menggunakan aksesoris-aksesoris sebagai aksen warna. Selain itu, rambutku yang cepat sekali tumbuh panjang selalu jadi bahan obrolan guru-guru yang lain, BK, bahkan pengawas yang ditugaskan di sekolah ini. Seseorang pernah mengataiku dengan kalimat, “Kamu tidak mencontohkan yang baik untuk peserta didik !” yang sampai membuatku kesal. Maksudku, rasanya rambutku ini selalu jadi masalah dimanapun, di keluarga, sekolah, bahkan kehidupan sosial.


Satu hal, ini bukan gara-gara aku menyukai kesenian atau gara-gara notabene seniman-seniman kerap ditemukan berambut panjang (dan lagi aku bukan seorang seniman kok), atau gaya-gayaan, bukan. Aku memang nyaman saja begini. Bagaimana dengan tanggapan Bapak?


Bapak tidak pernah rewel. Selama tugas dan kewajibanku selesai, Bapa tidak pernah ngomel-ngomel seperti seseorang yang itu. Bapa hanya mencandaiku dengan “Ki, tos rada panjang deui ningan” atau “Angger ieu mah sagala diterapkeun”, selesai. Tanpa alis yang dikerutkan dan nada bicara tinggi, Bapa berbicara tentang itu dengan ringan dan senyuman. 


Setelah dua tahun berbagi ilmu di SMA, tahun 2019, dengan alasan yang tak bisa kuhindari, dengan berat hati aku harus meninggalkan sekolah ke luar jawa. Saat meminta izin, bapak sebenarnya tidak begitu luyu dengan ini. Terlebih karena tidak ada masalah apapun. Saat acara pelepasan purna (beberapa guru ada yang pensiun dan pindah), selama tinggal di Cipasung, aku pertama kali melihat bapak menangis.


Bapak memelukku, dan malah bapak yang meminta maaf padaku. Seorang setinggi bapak masih berkenan meminta maaf padaku, anaknya yang joledar dan meninggalkannya. Aku sakit hati. Aku merasa bersalah sekali, sisa hari itu kuhabiskan dengan tangis sendirian di ruangan sanggar sekolah yang biasa kutempati. 


Penulis salah seorang Alumni Pesantren Cipasung.

Terkait

Obituari Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×