Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Alfaqir, Kiai Abun dan Maulana Abah Habib Luthfi bin Yahya

Alfaqir, Kiai Abun dan Maulana Abah Habib Luthfi bin Yahya
Alfaqir, Kiai Abun dan Maulana Abah Habib Luthfi bin Yahya
Alfaqir, Kiai Abun dan Maulana Abah Habib Luthfi bin Yahya

Pada suatu acara Jatman di Pekalongan yaitu Word Sufi Forum atau Konferesni Ulama Sufi Internasional (Al Muntada As Sufy Al Alamy) yang berlangsung selama tiga hari (8-10 April 2019) alfaqir bertemu dengan almukarom Pangersa KH A Bunyamin Ruhiat. Guru alfaqir sekaligus Pimpinan Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya.  Sebagai santri beliau Alfaqir bahagia sekali dalam acara tersebut selain karena bisa bertemu dan duduk dalam satu forum dengan Ulama-ulama Sufi Dunia dari 38 negara juga karena bisa bertemu langsung dengan almukarom dan maulana Habib Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Thoha bin Hasan bin Thoha bin Yahya. 


Beliau, almukarom KH Abun, bahkan hadir lebih awal di lokasi pembukaan yaitu di pendopo Bupati Pekalongan. Sementara alfaqir datang kemudian. Sewaktu alfaqir turun dari mobil beserta rombongan Jatman Kabupaten Majalengka, almukarom sudah berada di halaman parkir menuju tempat acara. Alfaqir langsung menghampirinya dan mengucapkan salam serta cium tangan sebagai ciri salam Santri kepada gurunya. Selain karena ta’zhim, takrim dan adab juga karena ngalap berkah sang guru.  


Sesuatu yang khas dari almukarom yang dirasakan alfaqir dari dulu sejak alfaqir mesantren di Cipasung dan khidmah kepada beliau sampai sekarang salahsatunya adalah bila bertemu, almukarom selalu bertanya duluan. Begitu juga ketika bertemu di Pekalongan. “Tep, kumaha cageur…?” tanyanya. “Alhamdulillah pak, sae…” jawabku. “Alhamdulillah Bapak tiasa hadir,” kataku. “Alhamdulillah,” jawab beliau. 

 

Menurut alfaqir, sikap beliau seperti itu merupakan sikap ketawadhuan dan teladan bagi kita semua para santrinya, alumni, dan muhibbin beliau. Padahal beliau adalah seorang ulama besar yang alim, faqih, dan pimpinan pesantren terbesar di Tasikmalaya. 


Pertemuan di halaman pendopo tersebut tidak lah berlangsung lama. Hanya beberapa menit saja. Karena semua peserta Word Sufi Forum termasuk alfaqir dan almukarom bergegas masuk ke ruang pembukaan yaitu di Ruang Utama Pendopo Bupati Pekalongan. Setelah itu alfaqir tidak bertemu lagi sampai acara Word Sufi Forum selesai.


Tapi menurut informasi dari salah satu keluarga Cipasung yang juga ikut ke acara tersebut sebagai utusan Matan Tasikmalaya (Mahasiswa Thoriqoh) pada waktu itu, Cep Azil (biasa dipanggil), sementara nama lengkapnya KH Moh An’am Nazili, (saat ini Mudir Jatman Syu’biyyah Kabupaten Tasikmalaya) bahwa almukarom memngikuti acara sampai selesai. 


Setelah acara pembukaan beliau langsung menuju hotel Indonesia sementara alfaqir menuju hotel Santika. Kedua hotel tersebut berdampingan dan merupakan tempat dilaksanakanya Konferensi Sufi International. Di hotel Santika alfaqir Alhamdulillah bertemu dengan alumni Cipasung yang juga menjadi peserta utusan Jatman kota Bekasi, yaitu kang Hrry alfatih dan Aceng Ginanjar Syaban (Intelektual Muda NU asli kelahiran Majalengka) yang juga moderator Konferensi.

 

Pertemuan alfaqir dengan almukarom dalam kegiatan Thoriqoh atau organisasi Jatman sebagai banom NU tidaklah sering. Bisa dibilang juga jarang. Tapi dalam kegiatan NU sering. Terlebih ketika alfaqir masih di PW LTNU Jabar periode 1997-2005. Karena beliau lebih dikenal sebagai pengurus NU yang menjadi induk daripada Jatman. Masyayikh Cipasung mulai dari al ‘Aarif Billaah Abah Ruhiat, KH. Moch Ilyas Ruhiat, KH. Dudung Abdul Halim, dan KH Abun Bunyamin (Allahu Yarhamhum) pernah menduduki Jabatan Structural di NU. Mulai dari tingkat Cabang, Wilayah sampai PBNU. Sebut saja Abah Ruhiat pernah menjadi Rois Syuriah PCNU Kabupaten Tasikmalaya sampai A’Wan  PBNU. 


Almukarom KH. Moch. Ilyas Ruhiat pernah aktif di IPNU Tasikmalaya sampai menjadi Rois Am PBNU. Kemudia KH. Dudung Abdul Halim, pernah menjadi Ketua PWNU Jawa Barat. Dan, Almukarom KH. Abun Bunyamin Ruhiat aktif di NU mulai dari Rois PCNU Kabupaten Tasikamalaya sampai  menjadi salahsatu Rois PBNU.  Sedangkan di Banom atau lembaga NU jarang. 


Walaupun begitu, syukur Alhamdulillah salahsatu keluarga Cipasung yaitu mantu dari Abah Ruhiat yaitu almukarom KH. Lukmanul Hakim (Allahu Yarhamhu) pernah aktif di Jatman yaitu sebagai Mudir Jatman Wustho Jawa Barat sekitar tahun 1990an bersama almukarom KH. Moch. Ilyas Ruhiat sebagai Penasehat (Majelis IFTA kalau sekarang). Saat ini Alhamdulillah keaktifan Kyai Lukmanul Hakim diteruskan oleh salahsatu puteranya yaitu KH. Moh. An’am Nazili, cep Azil) sebagai Mudir Jatman Syu’biyyah kab. Tasikmalaya.


Alfaqir merasa perlu dan penting untuk mengungkapkan keaktifan para masyayikh Cipasung di dalam dunia thoriqoh. Walaupun yang nampak dari pada Masyayikh Cipasung (mashurnya) adalah di struktur NU sebagai induk (bukan di Jatman). 


Kenapa penting dan perlu? Minimal ada dua alasan.  Pertama, untuk alfaqir sebagai santri dan alumni Cipasung berThoriqoh itu penting. Karena berThoriqoh adalah berWasail (mencari jalan atau cara dengan mengikuti guru). Mengikuti dan berwasilah dengan guru adalah berThoriqoh. Menurut Maulana Abah Habib Luthfi bin Yahya (Rois Am Jatman Idaroh Aliyah), berTohoriqoh tujuanya adalah wushul kepada Allah swt dengan cara mengikuti Nabi saw dengan bimbingan para guru. Jadi, kalau tidak berThoriqoh, kita mau wushul (sampai) kepada Allah dengan cara apa. 

 

Saat ini, Alhamdulillah, alfaqir mulai dari tahun 2004 berThoriqoh Syadziliyyah dengan Mursyid al Kamil Maulana Habib Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya merasa lega walaupun mungkin dengan Masyayikh Cipasung Thoriqohnya berbeda. Walaupun berbeda, alfaqir bahagia dan bersyukur, karena Cipasung juga berThoriqoh. Mulai dari al ‘Aarif Billah Abah Ruhiat, KH. Yusuf Amin, KH. Moch. Ilyas Ruhiat, dan KH. Abun Bunyamin. Bahkan ketiga putera Abah ini dibaiat langsung oleh Abah Ruhiat. 


Berthoriqohnya Cipasung ini sewaktu alfaqir mondok belum terdengar. Bahkan mungkin oleh Masyayikh Cipasung tidak diberitahukan kepada para santri begitu juga ke masyarakat umum (kalau pun diberitaahukan hanya orang tertentu). Sehingga Cipasung dikenal dengan pesantren khusus mengaji atau belajar. Thoriqoh Cipasung adalah Mengaji. Begitu kira kira.


Kedua, untuk menjawab para alumni, dan Muhibbin Cipasung yang ingin berThoriqoh. Ketika Cipasung berThoriqoh sudah diketahui oleh para alumni, maka Alumni Cipasung yang ingin berThoriqoh bisa mengikuti jejak para masyayikh Cipasung. Walaupun berThoriqoh itu bukan karena ikut ikutan tapi kerena anugerah, kecenderungan hati dan petunjuk sang Guru yang merupakan refresentasi dari petunjuk Nabi saw dan Allah Swt. 

 

Saat ini yang alfaqir ketahui alumni Cipasung yang berThoriqoh dan masuk pengurus Jatman baik di Pusat (Idaroh Aliyah) maupun di Cabang (Idaroh Syu’biyyah) masih jarang. Sebut saja selain alfaqir dan A Azil ada ustadz Heri Rahman Mufti (kota Bekasi), dan Andri Apriyanto (Karawang).


Alfaqir, Kyai Abun dan Maulana Habib Luthfi Bertemu dalam Mimpi
Pada waktu itu, di malam takbiran 1443 H., alfaqir hanya ikut berjamaah Maghrib dan Isya di masjid Al-Mizan yang letakanya berdekatan dengan rumah alfaqir. Tidak ikut takbiran di masjid full seperti biasa waktu kecil di masjid di kampung halamanku di Subang.  Alfaqir hanya mengikuti takbiran dari rumah saja sampai sekira jam 21an. Selesai takbiran sambil rebahan, alfaqir tidur dan bangun sekira jam 03.00 wib. Selesai tahajud dan wirid di rumah, alfaqir kemudian ikut berjamaah Shubuh di masjid. 


Sewaktu bangun tidur perasaan terasa bahagia sekali. Selain karena selesai puasa ramadan juga karena mimpi bertemu dan duduk di samping Maulana Abah Habib Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya. Dalam catatan alfaqir, ini merupakan mimpi ke-13 dengan Maulana Habib Luthfi bin Yahya. 


Dalam mimpi tersebut alfaqir berada disamping kanan Abah Habib Luthfi. Di samping kanan alfaqir ada ustadz Wawan Hermawa. Sementara di depan Habib Luthfi dan alfaqir ada poci/teko (wadah yang berisi air minum). Menurut Abah Habib Luthfi dalam mimpi tersebut,” poci/teko ini warisan dari guru Abah yaitu Syeikh Abdul Malik bin Ilyas, Purwokerto”, katanya. Setelah Abah Habib Luthfi menjelaskan tiba-tiba ustadz Wawan Hermawan pegang poci/teko tersebut dengan tangan kananya tanpa seijin Abah Habib Luthfi. Pas dia pegang langsung mengankat tanganya sambil berteriak panas. 


Dalam suasana asyik dan gembira bersama Abah Habib Luthfi tiba-tiba ada suara dari lantai dua rumah Abah Habib Luthfi, "Tep, Tep, kahade air sisa minum dan makan Abah Habib Luthfi untuk Bapak", kata suara tersebut. Pas alfaqir lihat ke atas ternyata suara tersebut berasaldari Guruku Almuakrom KH. Abun Bunyamin, Cipasung. Setelah itu alfaqir jawab, "iya pak…". Selesai itu keburu bangun. 


Tentang air dan makan sisa atau bekas Ulama, Wali, dan orang orang Shaleh itu adalah rebutan dikalangan santri pesantren dan nahdliyyin.  Kenapa? Karena kaum pesantren dan nahdliyyin bahwa keberkahan dari seorang guru, ulama, wali, habaib, dan orang shaleh bukan hanya bisa di dapat  dari khidmah, ta’lim dan takrim, tapi juga dari bekas-bekas, sisa-sisa, makanan, minuman, dan pakaian yang pernah dimakan, minum dan dipakai para Wali. Dan, hal itu pula yang dialami dan dirasakan oleh alfaqir baik dari Guru Mulia Kyai Abun Bunyamin Ruhiat dan Maulana Abah Habib Luthfi bin Yahya, amiin.

 

Tafsir mimpi bersama almukarom KH. Abun Bunyamin dan maulana Abah Habib Luthfi ini menurut alfaqir adalah kebaikan. Alfaqir berharap itu akan menjadi kenyataan. Bahwa alfaqir, almukarom KH Abun dan Maulana Abah Habib Luthfi bisa bertemu dalam satu waktu dan satu Majelis di dunia nyata ini. Itu lah harapan alfaqir. 


Saking bahagia nya alfaqir terus mengingat-ngingatnya dan ingin pengalaman ini diceritakan kepada Al Mukarom dan Maulana Abah Habib Luthfi.


Alhamdulillah, ketika waktu Haul Abah Ruhiat dan KH. Moch. Ilyas Ruhiat tiba tahun 2022, alfaqir sampaikan tentang mimpi tersebut kepada almukarom KH. Abun Bunyamin di rumah kediamanya. Walaupun pada waktu itu banyak para alumni antri untuk bersalaman tapi alfaqir Alhamdulillah terlebih dahulu menyalaminya. Sambil almukarom duduk dikursi sementara alfaqir dan para alumni lainya dibawah. Beliau mempersilahkan untuk dikursi setara denganya. 

 

itulah akhlaq mulia yang almurkarom tunjukan kepada para alumninya. Sementara perasaan alfaqir bergetar dan merasa tidak nyaman dan tidak pantas untuk duduk dikursi setara denganya. Tapi karena terus diminta akhirnya alfaqir duduk dikursi juga. Disela sela itulah alfaqir sampaikan, “Bapak, Alhamdulillah Atep tiasa bermimpi bertiga dengan Bapak dan Maulana Abah Habib Luthfi dalam satu tempat. Dan itu kejadianya pada malam takbiran Idul Fitri 1444 H.…”, kataku. “Ooh, kitu…” jawaban almukarom sambil menatap wajah alfaqir dengan penuh kelembutan.  Setelah itu, beliau meminta alfaqir dan juga para alumni lainya untuk makan di tempat yang sudah beliau sediakan. Alfaqir hanya bisa menjawab, “Muhun pak, Muhun pak…” sambil tetap ditempat. Karena alfaqir dan juga yang lainya tidak berdiri menuju tempat makan, akhirnya almukarom berdiri dari kursinya dan terus ke dapur menunjukan kepada alfaqir supaya makan. Sementara di ruang tengah masih banyak para alumni ingin bersalaman. 


Sampai acara haul selesai dan pulang ke rumah, alfaqir masih keingatan tentang mimpi tersebut. Kira-kira maknanya apa, khususnya buat alfaqir. Selain ingin disampaikan kepada almukarom, alfaqir juga ingin menyampaikanya kepada Maulana Abah Habib Luthfi. Tapi untuk bisa sampai dan menceritakanya kepada Maulana Habib Luthfi menurut alfaqir sangat sulit. Walaupun alfaqir pernah dan beberapa kali bertemu dengan beliau. Bahkan di kamar pribadi beliau. Tapi untuk menyampaikan tafsir mimpi ini  secara langsung,  berat.  Akhirnya alfaqir berHusnuzhon bahwa insyaAllah mimpi ini membawa kebaikan untuk alfaqir khususnya. Aamiin


Sambil terus berdoa dan berharap suatu saat alfaqir bisa bertemu dan mempertemukanya dalam suatu Majelis, alfaqir ingat bahwa Pesantren Cipasung sekira tahun 2019an pernah berkeinginan menghadirkan Maulana Abah Habib Luthfi dalam acara Maulid Nabi Muhammad Saw. Pesantren Cipasung. Tapi karena waktunya mendadak dan mungkin karena agenda Maulana Abah Habib Luthfi yang padat, akhirnya maulana Habib Luthfi tidak bisa hadir.

 
Hal ini alfaqir dapatkan infonya dari salahseorang Pengurus Jatman Kab. Ciamis dan dibenarkan oleh salahseorang Cucu Abah Ruhiat yaitu Cep Azil yang aktif di Jatman Kab. Tasikmalaya. 


Perasaan alfaqir, apakah mimpi tersebut ada hubunganya dengan akan hadirnya Maulana Abah Habib Luthfi di Cipasung? Wallahu a’lam.


Tapi, sekarang almukarom KH Abun sudah tiada. Inna lillaahi Wainna ilayhi raaji’uun. Betapa sedihnya alfaqir, santri, alumni dan seluruh para muhibbinya. 

 

Keinginan alfaqir bertemu secara tatap muka dengan beliau dan Maulana Habib Luthfi dalam satu majelis sirna lah sudah. Tapi, Allah maha kuasa atas segalanya. Alfaqir bertawakal kepadaNya seraya berdoa, semoga Almukarom KH Abun ditempatkan di SurgaNya. Alfaqir, para alumni Cipasung dan para muhibbinya suatu saat nanti dikumpulkan bersamanya di surga bersama para Masyayikh Cipasung, maulana Abah Habib Luthfi dan Rasulullah Saw. Aamiin 


HM. Zaenal Muhyidin, Santri Cipasung Tahun 1989 sd 2007. Pernah menjadi Pengurus Wilayah LTN NU Jawa Barat Masa Khidmat 1997 – 2005. Saat ini selain menjadi Pengurus Jatman Syu’biyyah Kab. Majalengka juga sebagai  Khadim Pesantren Al-Mizan, Jatiwangi, Majalengka.

Terkait

Obituari Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×