Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Wayang Semata

Wayang Semata
Semar (Sumber Ilustrasi: FB Makmun Alfikry).
Semar (Sumber Ilustrasi: FB Makmun Alfikry).

Saya suka dengan wayang. Itu dulu. Sejak wayang masih jadi tontonan sekaligus hiburan warga. Saya mulai diperkenalkan dengan wayang sejak waktu bocah. Kira-kira seumuran kelas 3 sekolah dasar. Setiap menjelang waktu tidur abah selalu menyetel radio. Ada wayang di dalamnya. Waktu itu belum ada aliran listrik. Tentu saja radio masih menggunakan baterai. 

 

Saya masih ingat radio nasional dengan empat buah baterai ABC jumbo berwarna kuning. Di siang hari ke empat baterai tersebut mendapat jatah untuk disimpan dalam terik matahari. Tujuannya agar daya tahan energinya bertambah  atau paling tidak bertahan. Tidak lemah dikala dipakai lagi untuk menyimak wayang dikala malam.

 

Hampir setiap malam, menjelang tidur suara sayup cerita wayang memembersamai saya hingga akhirnya lenyap seiring saya memasuki alam tidur. Selain menyimak siaran radio, pernah beberapa kali nonton langsung di lapangan. Semalam suntuk. Hingga pada satu masa acara nonton wayang golek pun akhirnya ‘tergerus’.

 

Selain pagelaran wayang arena tonton adalah layar tancap. Tayangan ini justru hal yang sering kami dapati. Hampir setiap bulan kerap disuguhi tontonan ini. Berduyun kami memadati lapangan. Banyak yang menggelar tikar ada pula yang cukup beralas sendal jepit. Yang pasti semuanya bergembira, selagi menyerap ‘hikmah’ dari ceritanya. Kala itu film Rhoma Irama sedang merajai.

 

Era layar tancap pada akhirnya perlahan pudar, sejak hadirnya era ‘kaset’. Dimana nonton film bisa diputar di layar tv, alih-alih semakin bermunculan stasiun TV swasta dengan beragama tontonan, termasuk tayangan film. Pada masa ini pun pemutaran wayang mulai hadir dalam layar kaca.

 

Dan kini media TV sudah sayup. Eranya sudah melandai, setidaknya sejak sepuluh tahun terakhir, diganti dengan tayangan digital serta media sosial. Dimana setiap orang ‘bebas’ mengakses tanyangan apa saja sekehendak hati. Temasuk tidak berbatas waktu. Diawali dengan eranya Youtube. Hal terakhir ini pun kiranya ada batasnya hingga suatu waktu orang menemukan media yang lebih ‘menggoda’.

 

Demikianlah evolusimedia tontonan yang saya alami. Bilakah di daerah lain berbeda?. Boleh jadi ya. Alih-alih para pihak yang lahir jauh setelah era saya. Mereka tidak mengalami beberapa fase. Atau  di beberapa kawasan yang hingga kini masih ‘tertinggal’ yang baru masuk pada fase tertentu. Atau sebaliknya, di kawasan yang lebih maju. Mereka telah melangkah lebih jauh dari apa yang saya alami.

 

Dari cerita di atas, saya hanya ingin mengatakan bahwa wayang tidak ada bedanya dengan ‘sinetron’ dan/atau produk sineas lain sesuai zamannya. Ia adalah sarana hiburan. Tentu saja tidak melulu menghibur. Di dalamnya tersempil pesan yang hendak disampaikan. Ada yang menyajikan sejarah, ada menyimpan pesan moral, termasuk soal tuntunan agama. Wayang adalah ‘aktor’ seperti mereka para monolog, dikala menyampaikan kisah atau dakwah.

 

Dengan wayang banyak orang yang terhibur. Tak sedikit pula yang tercerahkan. Tidak ada bedanya dengan hadir di bioskop. Banyak yang menuai hikmah dari film yang ia ‘beli’. Memang ada yang ‘sesat’, dengan meneladani hal buruknya dari film tersebut. Banyak yang berbuat kriminal setelah menonton. Termasuk banyak yang ‘menghadiri’ dakwah untuk tujuan tertentu. Para pendakwah pun tidak rata untuk tujuan kebaikan, ada pula medakwahkan untuk kebathilan. Fitnah dan provokasi.

 

Kembali lagi soal wayang. Ia adalah cerita indah di masanya. Namun demikian banyak pihak yang masih merindukannya. Sekedar  ingin mengingat, bernostalgia dengan masa lalu. Buah  karya, budaya  para orang tuanya. Jangan sampai musnah tinggal cerita. Perlu dilestarikan, sebagai identitas dirinya. Ada pula yang melakukan inovasi. Menyesusaikan dengan kekinian, dengan merubah alur cerita termasuk karakter. Hingga digemari audiens.

 

Apapun penampilannya wayang adalah ‘boneka’ tergantung orang yang memainkan. Ia tidak punya nyawa untuk menerima amar apalagi hukum. Sepeti saya yang lebih sering memantau dunia digital cukup banyak pilihan untuk dilahap atau dimutahkan. Jikapun ada konten kriminal di dlamnya, tentu bukan TV atau penyedia konten yang diharamkan. Sebab dia wayang semata. Lalu siapa? Yang pasti dalangnya.

 

Makmun Alfikry, Penulis adalah pemerhati budaya tinggal di Kota Tasikmalaya

Terkait

Ngalogat Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×