• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Senin, 27 Mei 2024

Ngalogat

Tradisi Sunda Sambut Datangnya Bulan Ramadhan: Munggahan dan Papajar

Tradisi Sunda Sambut Datangnya Bulan Ramadhan: Munggahan dan Papajar
Munggahan ala santri Al-Ihsan Cibiru Hilir Bandung (Foto: Doc. Pribadi)
Munggahan ala santri Al-Ihsan Cibiru Hilir Bandung (Foto: Doc. Pribadi)

Bandung, NU Online Jabar
Menyongsong kedatangan bulan suci Ramadhan, masyarakat Sunda di Jawa Barat menjalankan beragam tradisi yang kental dengan nuansa kebersamaan dan spiritualitas. Dua tradisi yang menjadi ciri khas adalah Munggahan dan Papajar, yang memiliki makna mendalam dalam persiapan menyambut bulan penuh berkah tersebut.


Munggahan dan Papajar, dua tradisi yang hampir serupa, menjadi momen penting bagi masyarakat Islam suku Sunda. Dilakukan menjelang bulan Ramadhan atau pada akhir bulan Sya'ban (satu atau dua hari menjelang bulan Ramadhan). Tradisi ini tidak hanya sekedar persiapan fisik, tetapi juga persiapan mental dan spiritual.


Munggahan berasal dari Bahasa Sunda 'unggah' yang berarti naik, merupakan ungkapan syukur kepada Allah serta upaya membersihkan diri dari hal-hal negatif dalam setahun sebelumnya. Sementara Papajar berasal dari 'mapag pajar' atau fajar, (srangenge ti langit, tangara raja papajar) adalah sambutan akan terbitnya bulan Ramadhan. 


Kedua tradisi tersebut memiliki kegiatan yang bervariasi, umumnya berkumpul bersama keluarga dan kerabat, makan bersama (botram), kerja bakti, saling bermaafan, dan berdoa bersama. Selain itu, ada pula yang mengunjungi tempat wisata bersama keluarga, berziarah ke makam orang tua atau orang soleh
 

Ziarah kubur menjadi bagian penting dari tradisi ini, karena mengingatkan kita akan keterbatasan hidup dan meningkatkan kesadaran akan kehidupan akhirat.
 

Selain itu, tradisi Munggahan juga dipenuhi dengan kegembiraan, karena datangnya bulan Ramadhan dianggap sebagai berkah yang harus disambut dengan sukacita. Sebuah Hadits yang tercantum dalam Kitab Durrotun Nasihin turut memperkuat makna kegembiraan dalam menyambut bulan suci tersebut.
 

 مَنْ فَرِحَ بِدُخُولِ رَمَضَانَ حَرَّمَ اللهُ جَسَدَهُ عَلىَ النِّيْرَانِ 


"Siapa bergembira dengan masuknya bulan Ramadhan, Allah akan mengharamkan jasadnya masuk neraka". 
 
Berdasarkan dalil tersebut, begitu mulianya bulan Ramadhan sehingga untuk menyambutnya saja, Allah telah menggaransi kita selamat dari api neraka. 


Oleh karena itu wajar jika para ulama salaf terdahulu selalu mengucapkan doa:


اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِى رَجَبَ وَ شَعْبَانَ وَ بَلِغْنَا رَمَضَانَ 


"Ya Allah sampaikanlah aku dengan selamat ke Ramadhan, selamatkan Ramadhan untukku dan selamatkan aku hingga selesai Ramadhan." 


Sampai kepada Ramadhan adalah kebahagiaan yang luar biasa, karena hanya di bulan itu mereka bisa mendapatkan nikmat dan karunia Allah yang tidak terkira. Tidak mengherankan jika kemudian Nabi saw dan para sahabat menyambut Ramadhan dengan senyum dan tahmid, dan melepas kepergian Ramadhan dengan tangis. 


Abdul Manap, Redaktur NU Online Jabar


Ngalogat Terbaru