• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Selasa, 16 April 2024

Ngalogat

Santri Jangan Minder Menunjukkan Identitas Kesantriannya 

Santri Jangan Minder Menunjukkan Identitas Kesantriannya 
Para Santri mengikuti Apel Hari Santri Nasional di Stadion Wiradadaha, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Ahad (22/10/2023). (Foto: NU Online Jabar/Abdul Manap)
Para Santri mengikuti Apel Hari Santri Nasional di Stadion Wiradadaha, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Ahad (22/10/2023). (Foto: NU Online Jabar/Abdul Manap)

Oleh Abdul Majid Ramdhani
Hari Santri adalah hari untuk memperingati peran besar kaum kiai dan santri di dalam perjuangan melawan penjajahan. Perjuangan ini tentu melibatkan para ulama dan santri. Kemudian, perjuangan yang berlandaskan jihad kebangsaan demi meraih kemerdekaan tersebut juga melahirkan peristiwa heroik pada 10 November 1945 di Surabaya yang dikenal dengan Hari Pahlawan. 


Dengan demikian, fatwa ‘Resolusi Jihad’ itu dijadikan landasan peringatan Hari Santri setiap tanggal 22 Oktober. 


Dua puluh dua Oktober pengakuan itu tiba, santri tidak perlu meminta kekuasaan pada struktur politik dan birokrasi, tapi harus tetap menyusun strategi dan melakukan konsolidasi untuk 'merebut' kekuasaan dan mengakselerasi persamaan hak kemanusiaan serta tidak boleh merasa lelah berkontribusi untuk negara guna dapat membangun Indonesia ke arah yang lebih baik. 


“Seorang santri harus berprinsip: Jangan pernah berhenti belajar. Seorang santri harus kritis; Mampu membaca keadaan baik tekstual ataupun kontekstual. Seorang santri harus berani tidak minder : Namun harus diimbangi dengan ilmu.” -KH. Sahal Mahfudh-


Tercatat, beberapa Pondok Pesantren sudah memunculkan berbagai inovasi untuk mempersiapkan dan merespons  tantangan zaman. Santri zaman kini harus mampu mengimbangi kemampuan dan kecakapan teknologi  yang semakin berkembang pesat, sehingga ketika lulus nanti dari pondok pesantren para santri tidak dianggap gagap teknologi (gaptek) dan ketinggalan zaman. 


Terlepas dinamika zaman di era transformasi digital ini, identitas para santri dengan kesederhanaan dan ke-tawadluan terhadap ilmu merupakan tradisi yang ada di pesantren-pesantren. Dengan begitu santri bisa belajar cara bersyukur dan memiliki semangat berjihad dalam menegakkan agama. Sebagaimana pesan para kiai dan guru di pesantren, bahwa santri tidak dituntut untuk menjadi besar tetapi bermanfaat dan mengamalkan ilmunya untuk kemaslahatan bersama. 


Lebih lanjut, santri adalah harapan bangsa, penerus para ulama, pembela agama dan pemersatu umat. Santri tak usah minder menunjukkan identitas kesantrian-nya. Dari pesantren ilmu diendapkan dan ditirakati para santri. Tatkala sarung santri itu tampak kusam. Sebab sudah sangat lama dipakai untuk beraktivitas sehari-hari dan barangkali pun sudah berkali-kali dicuci. Santri bukan semata 'pejuang berpeci', santri ialah sebagai identitas abadi. 


Istilah nyantri, bukan sekadar sebuah proses panjang belajar-mengajar atau mendalami ilmu agama. Lebih dari itu, nyantri merupakan sebuah peristiwa spiritual santri bersama para kiai-nya di pondok, sebuah upaya perjalanan untuk mencari jati diri manusia, untuk menjadi manusia yang paripurna (insan kamil) dan memahami arti kehidupan. Dalam menunjukkan eksistensinya, seorang santri harus berani melanglang buana namun tetap memperhatikan etika khas santri. 


Santri harus punya sikap yang lentur namun tetap berakhlak santun. Santri sebagai jati diri, merupakan prinsip hidup yang harus dibawa sampai mati, santri juga abdi negeri yang secara sukarela berkontribusi, berpartisipasi dan berjuang demi NKRI, seperti jargon peringatan Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2023: "Jihad Santri, Jayakan Negeri"


Penulis merupakan Alumni Pesantren Al-Hamidiyah Depok


Ngalogat Terbaru