• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Selasa, 16 April 2024

Ngalogat

Pengarusutamaan Moderasi di Indonesia: Refleksi Konferensi Moderasi Beragama Asia Afrika dan Amerika Latin

Pengarusutamaan Moderasi di Indonesia: Refleksi Konferensi Moderasi Beragama Asia Afrika dan Amerika Latin
Para tokoh dalam pembukaan Konferensi Moderasi Beragama Asia Afrika dan Amerika Latin di Bandung, Jawa Barat, Rabu (20/12/2023) (Foto: kemenag.go.id)
Para tokoh dalam pembukaan Konferensi Moderasi Beragama Asia Afrika dan Amerika Latin di Bandung, Jawa Barat, Rabu (20/12/2023) (Foto: kemenag.go.id)

Bandung, NU Online Jabar
Konferensi Moderasi Beragama Asia Afrika dan Amerika Latin (KMB-AAA) dengan tema "Religion and Humanity" yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama (Kemenag) dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) telah menjadi momentum penting dalam memperkuat moderasi beragama secara global.


Indonesia, dengan keberagaman kehidupan keagamaannya, menjadi sorotan utama dalam upaya menciptakan kerukunan dan kedamaian. Dalam konteks ini, Islam di Indonesia menjadi landasan unik yang memadukan elemen-elemen modernis dan tradisionalis. Perbedaan antara kaum modernis dan tradisionalis di lingkungan santri menjadi cermin dari dinamika Islam di Era Abad XX M.


Pentingnya pendekatan moderasi beragama tercermin dalam usaha mencari titik temu antara dua kutub ekstrim dalam beragama. Visi untuk menciptakan kerukunan dan kedamaian di tengah keberagaman tafsir agama menjadi fokus utama. Moderasi beragama menolak ekstremisme, intoleransi, dan tindakan kekerasan atas nama agama.


Gus Yahya, Ketua Umum PBNU, menyoroti dinamika global yang menuju pertarungan dominasi kekuatan global. Acara KMB-AAA yang berlangsung di Gedung Merdeka, Bandung, dan Hotel Savoy Homann, Bandung, pada 20-22 Desember 2023, merupakan wujud kerjasama antara Kemenag dan PBNU untuk menghadirkan solusi terhadap konflik global yang semakin meningkat.


Konferensi ini bukan hanya mencerminkan kondisi global saat ini, tetapi juga menjadi momentum penting untuk mendorong negara-negara di Asia, Afrika, Amerika Latin, dan benua lainnya untuk menghentikan eskalasi konflik dan menciptakan perdamaian.


Sebagai tanggapan dari santri dan alumni pesantren yang mengikuti acara, dapat dikatakan bahwa konflik yang menciptakan tragedi kemanusiaan di berbagai negara menjadi suatu keniscayaan. Kompleksitas kehidupan manusia dan agama memerlukan pendekatan moderasi agar peradaban manusia tidak terancam oleh konflik berlatar agama.


Dengan demikian, Konferensi Moderasi Beragama menjadi langkah konkret dalam menghadapi tantangan global, menjunjung tinggi nilai-nilai moderasi, dan mengukuhkan Indonesia sebagai pemimpin dalam mempromosikan perdamaian dan harmoni di tengah keberagaman agama.


Penulis: Abdul Majid Ramdhani, Alumni Ponpes Al-Hamidiyah Depok
 


Ngalogat Terbaru