Home Nasional Warta Adrahi Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Mengenang Muktamar Ke-13 di Menes 1938: Tampilnya Perempuan Sunda dan Anak-anak

Mengenang Muktamar Ke-13 di Menes 1938: Tampilnya Perempuan Sunda dan Anak-anak
Mengenang Muktamar Ke-13 di Menes 1938: Tampilnya Perempuan Sunda dan Anak-anak (Foto: mwcnuasembagus.blogspot.com)
Mengenang Muktamar Ke-13 di Menes 1938: Tampilnya Perempuan Sunda dan Anak-anak (Foto: mwcnuasembagus.blogspot.com)

Jika kita membaca verslag (laporan) muktamar-muktamar NU pada masa kekuasaan Hindia Belanda, maka bisa dipastikan para peserta hanyalah kaum laki-laki dewasa. Bahkan, sebelum tahun 1934, peserta muktamar sangat eksklusif, hanya para kiai (syuriyah) yang menjadi peserta. Sementara pengurus harian (tanfidziyah) tak memiliki hak bersuara.


Chairul Anam menyebut periode 1926-1934 sebagai masa perintisan NU. Maka sejak muktamar ke-9 di Banyuwangi tahun 1934, NU memasuki masa pertumbuhan. Kalangan tanfidziyah mulai menjadi peserta. Juga para pemuda. Pada muktamar itu, Ansor Nahdlatoel Oelama (ANO) yang sekarang menjadi GP Ansor mulai berdiri.


Namun, sampai muktamar ke-12, tak ada satu pun peserta perempuan, apalagi menyampaikan gagasannya pada forum tahunan pada masa itu dan kini jadi ajang 5 tahunan.   


Peristiwa pertama terjadi pada Muktamar ke-13 di Menes, Pandeglang (Banten) pada 1938. Pada waktu itu, dua perempuan Sunda berpidato di hadapan para ulama dari berbagai daerah, yaitu Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Banten, Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, dan Nusa Tenggara Barat. Kebetulan hanya Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari yang absen. 


Dua perempuan itu adalah Nyai Djuaesih, perempuan kelahiran Sukabumi yang tinggal di Bandung dan Siti Syarah, perempuan asal tuan rumah, yaitu Menes sendiri.   


Laporan Muktamar NU Ke-13 menuliskan suasana pada pembukaan: 


Pada hari Kamis 16 Juni 1938 pukul satu siang terdengarlah letusan-letusan bom di sekitar kota Caringin (Menes) sehingga amat menggemparkan penduduk kota yang kecil ini. Jika seandainya mereka itu tak mengetahui atau mendapat kabar terlebih dahulu bahwa papda hari itu akan diadakan arak-arakan oleh ribuan murid madrasah Mathala’ul Anwar Nahdalatul Ulama dengan didahului oleh suara bom boleh jadi mereka itu akan beterbangan kian kemari sebab disangkanya bahwa gunung Krakatau berhajat mencari makanan lagi.


Berita Nahdlatoel Oelama No 6 tahun ke-10 edisi 19 Januari 1941, hal.4 melaporkan tentang tampilnya kaum perempuan pada muktamar itu:  


“Kemudian dari pada itu, tampillah ke muka, Ny Djunaesih, voorzitter (ketua) Muslimat NU Bandung yang telah memerlukan datang di kongres ini, berhubung kecintaan dan tertarik beliau kepadanya. 


Dengan panjang lebar menerangkan akan asas dan tujuan dari NU adalah suatu perkumpulan yang sengaja mendidik umat Islam ke jurusan agamanya dengan seluas-luasnya. Di dalam agama Islam bukan saja kaum laki-laki yang harus dididik tentang soal-soal yang berkenaan dengan agamanya, bahkan kaum perempuan juga harus mendapat didikan yang selaras dengan kehendak dan tuntunan agama, sebagaimana lakinya. Inilah nantinya yang akan dapat membawa keamanan dunia dan akhirat.” 


Lain daripada itu, kaum anak juga tampil pada muktamar tersebut sebagaimana dilukiskan dalam verslag muktamar NU ke-13 berikut ini: 


Pukul tiga sore datanglah mereka berbondong-bondong di muka gedung kongres NU yang indah itu. Arak-arakan adalah di bawah pimpinan guru madrasah tersebut dan dibantu oleh saudara-saudara ANO. Kemudian mereka masuk di dalam gedung ke tempat bapak-bapaknya bersidang. 


Setelah selesai berkumpul, di antara mereka naik di atas loteng gedung kongres tingkatan kedua, dan berkhotbah dengan bahasa Arab dengan lancarnya. Sedang lainnya, sesudah itu, mengikuti berkhotbah dengan bahasa Indonesia yang tak kalah fasihnya, yang kesimpulan dari khotbah itu, ialah berisi permohonan doa dari cngressisten, supaya mereka itu diberi petunjuk yang benar oleh Allah Subhanahu wa taala dan dapatlah kiranya mereka menjadi bapak umat yang berarti di dalam masyarakat yang akan datang. 


Penulis: Abdullah Alawi
​​

Ngalogat Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×