Home Nasional Warta Adrahi Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Kebaikan Sosial KH. Fuad Affandi 

Kebaikan Sosial KH. Fuad Affandi 
KH Fuad Affendi, Pengasuh Pesantren Agribisnis Al-Ittifaq (Foto: NU Online)
KH Fuad Affendi, Pengasuh Pesantren Agribisnis Al-Ittifaq (Foto: NU Online)

Oleh Faiz Manshur 
Tahun 2009 silam saya menulis buku biografi KH. Fuad Affandi, Pengasuh Pesantren Agribisnis Al-Ittifaq Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung. Ia seorang kiai, pemimpin pesantren dan wirausahawan sekaligus penggerak sosial kemasyarakatan. Mang Haji, demikian nama akrab panggilan KH. Fuad Affandi, Lahir 20 Juli 1948 – wafat 25 November 2021, di usia ke-74.

 

Ia berlatarbelakang dari keluarga kiai desa, berguru kepada kiai legendaris dari Tanah Jawa KH. Maksum Lasem Kabupaten Rembang dan puluhan beberapa kiai lain di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Saya menulis sosok ini bukan karena kiainya, melainkan karena kiprahnya sebagai penggerak kemajuan bagi petani miskin. 

 

Melakukan Apa?

 

Tahun 2009 lalu saya berkesimpulan Mang Haji ini penting ditulis karena dedikasinya yang Panjang mendampingi ratusan petani miskin agar hidup lebih bermartabat. Penting kiranya kita mengetahui sosok KH. Fuad Affandi dengan tiga pertanyaan: 1) Apa yang dia lakukan, 2) mengapa ia melakukan itu, 3) bagaimana cara melakukannya?

 

KH.Fuad Affandi melakukan apa? Jawabannya adalah melakukan tindakan sosial -yang jika ditinjau dari ilmu sosial layak disebut gerakan komunitarianisme. Bagi Mang Haji, agama dijadikan sandaran untuk memperbaiki masyarakat, bukan sekadar memperbaiki akhlak santri di asrama. Pesantren dan aktivitasnya menyatu secara inklusif dengan denyut nadi kehidupan sehari-hari warga di sekitarnya. Potret ini penting dijadikan acuan analisis banyak pesantren di Jawa Barat yang beraktivitas secara eksklusif.

 

Mengapa ia melakukan itu? Karena ia sadar tanggungjawab untuk mengatasi problem objektif di masyarakat yang hidup dalam situasi jumud, bodoh, terbelakang dan miskin. Kesadaran sosialnya melampui normalitas umumnya kiai yang biasanya hanya mau mengambil peran keagamaan melalui majelis tak’lim. Mang Haji punya gairah besar dalam membenahi kebrobrokan masyarakat melalui beragam tindakan seperti budidaya pertanian, membangun organisasi ekonomi, berwirausaha dan juga berkesenian.

 

Bagaimana dia melakukan gerakan itu? Ia punya slogan, “malam diwejang, siang tempur di ladang.” Untuk urusan masjid dan pesantren Mang Haji tetap seorang guru ngaji. Itu ia lakukan pada jam belajar, terutama malam. Adapun siangnya ia terjun ke ladang menjadi petani dan terus-menerus mencari solusi bagi para petani.

 

Jika problemnya adalah urusan pupuk, ia gali persoalan pupuk dan mencarikan solusi. Sampailah kemudian mewujud karya berprestasi “Mikroorganisme Fermentasi Alami” (MFA).  Saat ada masalah harga komoditi ia pun mencarikan jalan keluar. Puluhan petani berhimpun sepanjang 20 tahun hanya dalam jumlah belasan orang. Tetapi memiliki semangat kebersamaan dan menjadi model baru usaha ekonomi tani. Kini meningkat pesat menjadi ribuan orang dengan badan koperasi.

 

Pada masalah perdagangan Mang Haji juga aktif mencarikan solusi. Untuk soal ini jauh-jauh hari sejak keluar dari pesantren Mang Haji sudah berpengalaman sebagai pedagang sehingga paham persoalan pasar, bahkan mampu menciptakan pasar-pasar baru.

 

Sadar kehidupan saling bergantung satu sama lain, Mang Haji keluar dari cara pandang kuper (kurang pergaulan). Ia terus memperbaiki diri dalam berelasi dengan beragam golongan masyarakat. Baginya pesantren harus terbuka, sebagai ruang pertemuan untuk keilmuan siapa saja, tak terkecuali bagi umat agama yang berbeda. Ia punya garis pemikiran lintas mazhab, lintas etnik, lintas golongan, lintas agama.

 

Di mata Mang Haji, kemiskinan adalah sumber bencana. Tetapi cara mengatasinya bukan sekadar berburu harta, melainkan melalui ilmu yang laras dengan problem di masyarakat. Pendidikan yang sifatnya praktis maupun yang sifatnya etis ditegakkan bersama dengan komunikasi yang pas sesuai kemampuan nalar petani. Dalam pandangan Mang Haji, kemiskinan dan kebodohan adalah satu problem yang harus diuraui bersama. Caranya, ia membagi dua strategi.

 

Pertama, menyatu dengan petani dalam rangka membenahi persoalan ladang dan tata ekonomi keluarga (tindakan cepat keseharian), dan kedua, mendirikan pesantren dan sekolahnya untuk mendidik anak-anak petani (tindakan investasi bagi generasi).

 

Pernah ia bilang, “apa benar santri itu kegiatannya hanya ngaji terus selama 24 jam?”.  Dengan empat jam santri meladang atau mengurus pasca panen itu juga bagian dari proses pembelajaran yang aktif. Demikian juga pada petani. Tak seluruh urusan hidup petani adalah bertani atau berekonomi. Waktu kosong harus dimanfaatkan untuk ilmu, bukan untuk nongkrong tak jelas apalagi berjudi.

 

Lalu ia ciptakan strategi dengan membangun kultur keilmuan untuk petani. Rutinitas, intensivitas dan kontinuitas inilah yang kemudian mengubah mind-set para petani. Lama-kelamaan berkembanglah pola pikir yang lebih terbuka, tidak pelit sekaligus tidak boros, berumah tangga dengan tertib, menghormati orang tua, menghargai ilmu, menghargai hak milik, dan memiliki sadar tanggungjawab sosial.

 

Mang Haji juga mengajarkan sikap hidup moderat, termasuk menghindari pola pikir Islam-radikal. Sekalipun kakeknya bagian dari gerakan Darul Islam (DI), tetapi bagi Mang Haji hal itu tidak perlu dilanjutkan karena Pancasila lebih tepat untuk aktualisasi kehidupan berbangsa, termasuk aktualisasi kehidupan beragama.

 

Mang Haji juga bilang, “semestinya jadi kiai itu tidak membebani masyarakat dan negara. Syukur-syukur pesantren bisa membantu masyarakat dan negara. Inilah yang penting dari sebuah norma etik pada gerakan sipil yang perlu diserap untuk para pegiat sosial.

 

Mang Haji telah pergi. Ia pribadi yang bahagia saat mengalami situasi sulit sekalipun. Ia bahagia bukan karena kekayaaan, melainkan karena bisa hidup dengan cara sederhana dan banyak sahabat. Semoga Tuhan yang Maha Esa menerima amal kebaikannya.

 

Penulis adalah Ketua Yayasan Odesa Indonesia 

Ngalogat Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×