• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Jumat, 23 Februari 2024

Ngalogat

Indonesia, Budaya Ibu dan Keheningan

Indonesia, Budaya Ibu dan Keheningan
Indonesia, Budaya Ibu dan Keheningan (Foto: Nasihin/NUJO)
Indonesia, Budaya Ibu dan Keheningan (Foto: Nasihin/NUJO)

Oleh Nasihin

Bangsa ini tidak terbangun dan berdiri begitu saja, ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu sejarah mencatat, lahirnya orang-orang hebat yang membuat sejarah, melahirkan kesadaran, bahwa bangsa ini diciptakan Tuhan dengan "Budaya Ibu" yang indah dan bermakna tak terhingga.

 

Bangsa ini begitu indah dengan deretan pulau-pulau, suku, bahasa, adat istiadat, laut, hutan, pedesaan, kota yang memukau.

 

Lahir pula para Tokoh, Pahlawan yang membuat kita bangga, mereka telah memerankan ke-manusiannya untuk manusia, memberikan sumbangsih untuk negeri dan kemanusiaan.

 

Namun hari ini menjadi "Indonesia" yang di dalamnya ada Sunda, Jawa, Minang, Bugis, Aceh, Sasak, dan banyak lagi seperti jalan yang sunyi. Hilang identitas digerus globalisasi dan materialisme, Budaya ibu seperti hilang daya gravitasinya karena kesadaran menjadi "Sunda " contohnya sudah dirasa kuno dan tidak keren.

 

Coba kita diam merenung, hilangkan pikiran kita dari tumpukan isme-isme barat, maka kita akan menemukan getaran hati dengan bahasa ibu kita. Dalam arti bukan menolak globalisasi dan paham-paham barat tapi filter sangat dibutuhkan untuk memilah dan memilih.

 

Kita punya adat istiadat, etika dan tatakrama timur yang mulia, kita punya babad, serat, naskah, dangding, dan beragam karya sastra yang indah. Di kalangan nahdliyin sendiri pasti sudah tidak asing dengan khasanah karya sastra dunia pesantren, dimulai serat, naskah para Wali Songo sampai karya-karya para Ulama dari mulai kitab hingga seni sastra yang sering di dendangkan lewat tembang ataupun nadzoman.

 

Tugas ini memang berat tapi kita tidak sendiri, mengenali kembali tradisi, menghimpun kembali potongan budaya yang tercecer, menghadirkan kembali ruang-ruang diskusi budaya kemudian mengaplikasikan nilai dan ruh budaya pada media visual, cinematik ruang-ruang lingkungan, desain, di media sosial dan tentunya di ruang  batin kita.

 

Indonesia adalah rumah kita, tempat makan dan minum kita, tempat menghirup udara dan berbaring kita. Indonesia tempat berproses kita dan leluhur kita, yang air, udaranya mengalir di tubuh kita dan ruhnya berdiam di batin kita.

 

Penulis adalah Pengurus Lesbumi PCNU Kabupaten Bandung


Ngalogat Terbaru