Home Nasional Warta Adrahi Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Catatan Ringkas Perjalanan ke Muktamar: Si Akang Banser di Dermaga

Catatan Ringkas Perjalanan ke Muktamar: Si Akang Banser di Dermaga
Si Akang Banser di Dermaga (Foto: istimewa)
Si Akang Banser di Dermaga (Foto: istimewa)

Sekalipun bukan orang penting di NU, namun keinginan untuk bisa mencium tangan para kiai, minta foto, dan meminum sisa kopi mereka, ditambah ingin ngalap elmu dalam acara-acara diskusi yang diisi oleh para intelektual NU, membuat saya akhirnya berangkat juga ke Lampung.


Selasa 21 Desember, ba'da Maghrib saya berangkat dari Bandung memakai kendaraan pribadi bersama Kang Dr. Aceng Abdul Qodir. Kami meluncur melewati jalan tol mulai Purbaleunyi hingga terus ke Merak.


Sebelum sampai di pelabuhan Merak, kami istirahat sejenak di sebuah posko Banser yang tidak jauh dari dermaga. Di sana kami melihat para anggota Banser sibuk "kacah-kicih", kata orang Sunda mah. Mereka bertugas dengan sigap menyambut, dan mengarahkan siapa saja kaum Nahdliyin yang akan masuk pelabuhan.


Itu dilakukan karena tentu tidak semua Nahdliyin sudah tau mekanisme beli tiket, rute ke dermaga, serta bawa kendaraan masuk kapal, atau mungkin hal-hal lainnya. Maka Banser-lah yang memberikan informasi.


Kami pun demikian. Setiba di Posko itu kami disamperin dua orang akang-akang Banser. Dari logat bicara bahasa Sundanya yang agak teugeug, saya pastikan mereka orang Banten. Waktu sudah menunjukkan pukul 01.00. Sehabis ngobrol sebentar, Kang Banser mengantar kami ke loket tiket, mereka pakai motor Mega Pro merah, dan kami mengikutinya di belakang. Dan selama proses pemesanan tiket, mereka juga menunggu kami.


Lalu selepas itu kami diantar sampai ke gerbang dermaga. Di situ Kang Banser bicara sejenak dengan petugas setempat untuk menginformasikan bahwa kami adalah Muktamirin. Dengan raut wajah yang nampaknya belum bisa beristirahat, Kang Banser sembari senyum mempersilakan kami lewat gerbang dan masuk dermaga. Seperti mungkin Bu Inggit Garnasih yang menulis buku "Ku Antar Kau Ke Gerbang Istana" untuk Bung Karno.


Dari apa yang mereka lakukan, jujur saya terharu. Kepada kami yang bukan kiai saja, Kang Banser begitu baiknya, apalagi kepada para ulama, saya yakin mereka tulus ikhlas berkhidmat. Maka dari itu, saya sejenak turun dari mobil. Meski mereka tidak meminta imbalan, sambil berucap terima kasih, kami beri mereka uang alakadarnya, sekedar buat beli 2 atau 3 bungkus rokok Dji Sam Soe. Itu juga kalau mereka ngerokok, sih. Kalau nggak ya mungkin ngebako, atau mungkin nge-fave.


Sampai di dermaga, kami antri panjang untuk masuk kapal Feri (tidak pakai Salim, Maryadi, atau AFI). Selama hampir 2 jam lebih kami baru bisa masuk kapal. Di situ saya ngedumel, bukan karena lama ngantri tapi karena kesal pada mereka yang suka ngebully Banser di medsos. Andai mereka mau membaca sedikit saja, ada begitu banyak kisah-kisah keteladanan para anggota Banser dalam berkhidmah. Tapi begitulah, kalau sudah benci, jangankan salahnya, benarnya pun akan dianggap salah.


Selesai ngedumel, saya coba dinginkan hati dengan berdoa;


"Nun Gusti, mugia Banser sakabéhna, khusus si akang anu tadi, sing barokah tur waluya hirup jeung huripna. Sebagaimana saya dan seluruh Nahdliyyin yang ingin ngalap berkah dalam Muktamar ini. Amin."

Agung Purnama, Redaktur NUJO

Ngalogat Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×