Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Avi Taufik: Gus Dur dan Makam Gajah Mada

Avi Taufik: Gus Dur dan Makam Gajah Mada
Avi Taufik: Gus Dur dan Makam Gajah Mada (Foto: NU Jabar Online)
Avi Taufik: Gus Dur dan Makam Gajah Mada (Foto: NU Jabar Online)

Gus Dur memang sosok manusia yang sangat unik, cerita tentangnya seakan tidak pernah habis untuk diceritakan. Selalu ada kisah menarik ketika bertanya kepada orang yang pernah bertemu dengan dia, contoh saja H Avi Taufik Hidayat putra dari Menteri Pariwisata Pos dan Telekomunikasi (1999-2001) H Jaelani Hidayat. Gus Dur sering berkunjung ke rumahnya di Jl Kinanti Bandung sejak Avi duduk di bangku SMP. Tak jarang  Gus Dur menginap di rumahnya ketika ada lawatan ke Kota Bandung. Dari situlah dirinya mengenal sosok Gus Dur. 

 

Saya berkesempatan untuk mewawancarai mantan ketua DPW PKB itu.  Ia bercerita tentang pengalaman menariknya  bertemu dengan Gus Dur, sahabat karib ayahnya itu. Menurut Avi, salah satu pengalaman yang paling menarik sekaligus membingungkan adalah ketika dirinya mendapat tugas dan tantangan dari Gus Dur untuk menemukan makam Gajah Mada dan Raden Wijaya. 

 

Suatu hari, ia mendapat tugas mengantar Pengurus Wilayah NU Jawa Barat untuk menemui Gus Dur di Gedung PBNU di Jakarta, kedekatannya dengan Gus Dur inilah yang membuatnya sering  mendapatkan tugas seperti ini.  

 

Singkat cerita, sesampainya di gedung PBNU dan bertemu dengan Gus Dur, mereka berbincang-bincang membahas banyak hal ke sana ke mari. Tiba-tiba secara spontan Gus Dur bertanya. 

 

“Avi, kamu tahu nggak kalau Gajah Mada dengan Raden Wijaya itu Muslim?” tanya Gus Dur.

 

“Wah masa, Gus?” tanya Avi keheranan. 

 

“Benar, Gajah Mada itu muslim. Ada kuburannya  di perbatasan Bengkulu,” jawab Gus Dur.

 

“Oh gitu ya, Gus,” jawab Avi masih, merasa kebingungan.

 

“Iya, saya juga mau ke sana, tapi kamu dulu yang harus ke sana. Kamu lewat jalan selatan, jangan jalan tengah,” kata Gus Dur 

 

Ini adalah tugas pertamanya sekaligus yang paling menarik. Dia disuruh untuk menemukan makam Gajah Mada dan Raden Wijaya yang katanya sudah masuk Islam, dengan satu syarat dirinya harus berangkat bersama kiai, siapapun itu. 

 

Avi akhirnya berangkat bersama dengan Kiai Fakih Limbangan, seorang santri dan kakak iparnya. Mereka berangkat dari Bandung. 

 

Setelah menempuh perjalanan selama dua hari, sampailah mereka di perbatasan Bengkulu. Tapi hari sudah larut malam. Akhirnya mereka memutuskan untuk mencari tempat  menginap agar bisa segera beristirahat untuk melajutkan perjalanan esok hari. Mereka melihat rumah-rumah penduduk di sekitar perbatasan itu dan diputuskanlah untuk menginap di salah satu rumah warga di situ. 

 

Di luar dugaan, pemilik rumah yang mereka tempati untuk menginap ternyata masih keturunan Gajah Mada. Mereka mengetahui ini setelah berbincang dengan si pemilik rumah dan menyampaikan maksud tujuannya untuk pergi ke Bengkulu. 

 

Keesokan harinya, mereka diantar untuk ke makam Gajah Mada dan Raden Wijaya. Ternyata memang benar ada makam tersebut, bentuknya bulat tidak seperti makam umum di zaman sekarang. Hanya dikelilingi dengan batu-batu dengan ukuran yang agak besar. Ada satu batu berdiri di tengahnya sebagai nisan tetapi tidak tertulis keterangan nama dan tahun meninggal.

 

Setelah berziarah dan berdo’a, mereka pulang untuk melaporkan kejadian ini kepada Gus Dur. Mendengar laporan tersebut, Gus Dur hanya tersenyum tanpa rasa keheranan kenapa mereka bisa menemukan makam itu, mungkin karena Gus Dur sudah tahu kalau makam itu ada. 

 

Dari peristiwa inilah, ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa sosok Gus Dur adalah manusia dengan sejuta misteri dan teka teki. Banyak peristiwa lain yang ia alami bersama Gus Dur, tapi mungkin ini adalah pengalamanya yang paling menarik dan mengesankan. 

 

“Tugas pertama yang paling berkesan,” pungkasnya.

 

Penulis: Agung Gumelar 

Terkait

Ngalogat Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×