Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Kiai Juhadi: Kemajuan NKRI Bisa Terwujud Jika Warga NU Maju

Kiai Juhadi: Kemajuan NKRI Bisa Terwujud Jika Warga NU Maju
Ketua PWNU Jawa Barat, KH Juhadi Muhammad. (Foto: Arif Khasbullah).
Ketua PWNU Jawa Barat, KH Juhadi Muhammad. (Foto: Arif Khasbullah).

Garut, NU Online Jabar
Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Barat KH Juhadi Muhammad mengapresiasi kegiatan kaderisasi yang dilakukan oleh Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Kabupaten Garut yang bisa melaksanakan kaderisasi sebanyak tujuh angkatan, Kamis (17/2). 

 

"Ini keliatannya baru ada di Kabupaten Garut, di kabupaten-kabupaten lain kalaupun ada baru satu angkatan," ujarnya. "Mudah-mudahan kabupaten Garut yang menjadi atensi, baik pusat maupun provinsi karena memang ada satu yang menjadi perhatian khusus di Garut terkait dengan pernyataan ketua PCNU kemudian gerakan-gerakan dari kader NU juga yang di motori oleh ALMAGARI," lanjut Kiai Juhadi.

 

Menurutnya, diwilayah Garut harus ada perhatian khusus. "Walaupun sebenarnya tidak di Garut saja, tentu kalau di Grut ini sudah banyak pasti akan melebar kemana-mana. Ini adalah menjadi perhatian kita Nahdlatul Ulama dan perhatian pemerintah dan semuanya," jelasnya.

 

Kiai Juhadi berterima kasih atas keistiqamahan eksistensi kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh PCNU bersama seluruh badan otom dan lembaga termasuk MWC dan rantingnya.

 

"Saya yakin ini berkat perjuangan para tokoh-tokoh NU terdahulu. bayangkan kalau tidak ada NU di garut ini, mungkin sdh menjadi negara NII. Gerakan Nahdlatul Ulamanya sudah sangat luar biasa tapi tantangannya juga luar biasa, jadi memang imbang," katanya.

 

Dalam kesempatan yang sama, Kiai Juhadi juga mengajak agar warga Nahdliyin bisa terus berkiprah ditengah-tengah masyarakat.

 

"Berkiprah kita sebenarnya bukan hanya sekedar di sektor keagamaan saja, termasuk saya berharap kedepan kader-kader NU ini tidak hanya bergerak di ormas, tapi di semua ruang kader NU harus mampu berkiprah baik di eksekutif, legislatif ataupun di yudikatif. Supaya kita ini jangan hanya menjadi objek terus, kapan kita menjadi subjeknya? Padahal kita dan semua orang tau bahwa Indonesia ini adalah mayoritas warganya Nahdlatul Ulama, tapi sampai hari ini kita sebagai mayoritas masih menjadi objek dan belum menjadi subjek, masih menjadi penonton, belum menjadi pelaku, dan ini memang sengaja diciptakan seperti ini warga NU yang mayoritas ini menjadi objek," paparnya.

 

Kiai yang juga selaku Pimpinan Pondok Pesantren Hidayatuttholibiin tersebut mengungkapkan, Nadliyin harus memulai dan mengisi ruang-ruang publik yang ada di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

 

"Kalo kita menjadi pelaku di semua ruang publik, maka Indonesia saya yakin menjadi negara yang Baldatun Toyyibatun warobbun Ghofur," tuturnya.

 

Ia mengutip salah satu hadits Nabi Muhammad SAW:

قوام الدنيا بأربعة أشياء : علم العلماء , وعدل الأمراء , وسخاء الأغنياء , ودعاء الفقراء

 

"Bahwa kokohnya negara itu harus ditopang dengan 4 pilar yakni bi ilmil ulama, kalo saya menafsirkannya dengan sumber daya manusia yang unggul, karena yang namanya didunia ini harus diatur semuanya. Pendidikan, ekonomi, teknologi, kesehatan, dan yang lainnya kita harus berperan disitu pak. Kita siapkan kader-kader kita yang bisa berperan disemua sektor tadi termasuk disektor politik kita harus berada disana. Jangan hanya dikuasai terus oleh orang lain," kutipnya.

 

Kiai Juhadi meyakini, kemajuan negara Indonesia itu bisa terwujud jika warga NU nya maju.

 

"Kenapa? karena mayoritas warga NU itu ada di pedesaan yang kesejahteraannya masih berada di bawah disadari ataupun tidak. Apalagi sekarang zamannya teknologi, kalo kita tidak mengikuti maka akan ketinggalan jauh," ungkapnya.

 

Kedua Biadlil Umaro​​​​​​​. "Kalo saya menafsirkannya dengan kebijakan pemerintah yang seimbang. Maksud yang seimbang itu karena kiprah NU yang cukup besar di NKRI termasuk salah satunya di kabupaten Garut. Karena sesungguhnya, kalau di Indonesia termasuk di garut ini tidak ada NU, betapa beratnya tanggung jawab pemerintah. Dimana NU menciptakan kader-kader yang berakhlaqul karimah dengan membangun masjid, pesantren, madrasah-madrasah, membangun sekolah-sekolah, tanpa disuruh dan tanpa ada dukungan awalnya dari pemerintah. dengan dorongan dari hati nuraninya karena punya ilmu harus disebarkan harus diamalkan tanpa ada perintah dan tanpa memikirkan siapa yang akan memberikan honor, karena kita semua sudah yakin ketika kita sudah berbuat maka disitu ada barokah menyertai kita semua," tegasnya.

 

"Mudah-mudahan kedepan kebijakannya seimbang," sambung Kiai Juhadi.

 

Kemudian yang ketiga adalah sakhowatul aghnia.

 

"Kalo saya mengistilahkannya dukungan dari para pengusaha, sebab negara juga butuh terhadap dukungan dari para pengusaha, yang ke empat adalah duail fuqoro, doanya orang-orang faqir," pungkasnya.

 

Pewarta: Muhammad Rizqy Fauzi​​​​​​

Terkait

Nasional Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×