• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Selasa, 27 Februari 2024

Nasional

KH Ubaidillah Harits: ​​​​​​​NU itu Bagian dari Percikan Barokah Kenabian

KH Ubaidillah Harits: ​​​​​​​NU itu Bagian dari Percikan Barokah Kenabian
KH Ubaidillah Harits: ​​​​​​​NU itu Bagian dari Percikan Barokah Kenabian
KH Ubaidillah Harits: ​​​​​​​NU itu Bagian dari Percikan Barokah Kenabian

Indramayu, NU Online Jabar
Wakil Rais Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Barat, KH Ubaidillah Harits mengungkapkan dua fungsi pokok berdirinya NU yang harus dilaksanakan oleh warga Nahdliyin. Hal tersebut diungkap saat dirinya mewakili dari Rais Syuriah PWNU Jawa Barat KH Abun Bunyamin yang berhalangan hadir pada kegiatan Bahtsul Masail LBM PWNU Jawa Barat Zona 1 yang bertempat di Pondok Pesantren Hidayatuttholibiin Kabupaten Indramayu, Kamis (15/6/2023).


Kiai yang akrab disapa Kang Ubed tersebut menyebut fungsi dari NU yang paling pokok itu ada dua.


Pertama, Ri'ayatul Ummah. Menurutnya, konsideran ini sesuai dengan Mabadi Khoiru Ummah yang merupakan pondasi yang dirancang oleh Hadratusyeikh Hasyim Asy'ari.


"Mabadi khoiru ummah itu ada lima pokok yang merupakan dasar perjuangan yang harus digelorakan oleh warga NU. As-shidqu, Al amanah wal Wafa bil 'Ahdi, At-ta'awun, kemudian al adalah, Al-istiqomah. Konsepsi ini adlah dalam rangka mewujudkan mabadi khoiru ummah yang oleh kita diyakini dalam fikih ini ada lima konsep fikih menjadi dasar ri'ayatuddin, ri'ayatul nafsi, ri'ayatul mal, ri'ayatul nasl, ri'ayatul ard,"


Ia menilai, hal tersebut yang menjadi orientasi kita dan menjadi alasan mengapa ada ri'ayatul ummah.


"Ini menjadi pokok, sebab mata rantai dari kenabian NU kalo bahasa kita adalah hadza kit'atun min kit'atinnubuwwah. ​​​​​​​NU itu bagian dari percikan barokah kenabian," tegasnya.


Kalau barokah kenabian, sambung Kiai asal Karawang tersebut, maka unsurnya yang diabadikan didalam al-quran Ar-Ra'd ayat 17:​​​​​​​


فَاَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاۤءً ۚوَاَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِى الْاَرْضِۗ


"Jadi sesuatu buih kemudian akan hancur karena tidak ada nilainya. Tapi sesuatu yang bermanfaat kepada manusia akan Allah abadikan sampai akhir zaman karena ini mata rantai daripada annubuwwah​​​​​​​ dan annubuwwah ini kaitannya dengan sekarang kita sebagai kaum cendekiawan," tuturnya.


Kiai Ubed menyebutkan, tidak ada kenabian yang tidak disandari dengan ilmu. Ia mengutip firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah ayat 31:


...وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ


"Pertama nabi Adam As dialog untuk mempertahankan eksistensi annubuwah dengan malaikat dan termasuk iblis didalamnya, ini Allah sampaikan ​​​​​​​ini memberikan bahwa kaum intelektual dibutuhkan untuk menumbuhkan kit'atun minannubuwwah hatta yaumal qiyamah," paparnya.


Dan terakhir Nabi Muhammad SAW, tambahnya, diapresiasi oleh tuhan dengan bahasa iqro bismirobbikalladzi kholaq. "Itu kaitannya dengan ilmu yang merupakan keabadian kita. Itu fungsi daripada Ri'ayatul Ummah,"


Kedua, nilai mabadi khoiru ummah itu akan tumbuh baik apa yang menjadi visi misi hadratusyeikh harus ada Ri'ayatuddaulah atau keutuhan NKRI​​​​​​​. "Jadi tidak ada kamusnya bahtsul masail isinya persiapan pemberontakan, tidak ada di NU itu, perlu di catat itu. Hukumnya haram, di NU kumpul mempersiapkan pemberontakan, sebab kalo NU kumpul mempersiapkan pemberontakan maka NU menyalahi kodrat pendirinya sebagai riayatuddaulah" tegasnya.


​​​​​​​Jadi, tambah Kiai Ubed, jangan sampai ada NU kena asup angin, infiltrasi, minna, paham-paham yang tidak-tidak, yang kemudian mengajak kepada al bughot atau pemberontakan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia.


"Apapun kumpulan kita sebagai komunitas NU didalamnya harus ada dua konsep, ada riayatul umah dan ri'ayatuddaulah​​​​​​​. Mudah-mudahan, apa yang menjadi amanah dari Rais syuriyah ini menjadi tanggung jawab kita sebagai komunitas Nahdlatul Ulama," tandasnya.


Pewarta: Muhammad Rizqy Fauzi​​​​​​​


Nasional Terbaru