Home Nasional Warta Adrahi Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Harlah PMII ke-62, KH Ma'ruf Amin: Tugas Kita Menyiapkan Intelektual Muda yang Unggul

Harlah PMII ke-62, KH Ma'ruf Amin: Tugas Kita Menyiapkan Intelektual Muda yang Unggul
Wakil Presiden RI KH Ma'ruf Amin saat memberikan sambutan pada puncak kegiatan Harlah PMII ke-62 di Museum Nasional, Jakarta Pusat, Senin (18/4). (Foto: Ss Yt PMIIOFICIAL).
Wakil Presiden RI KH Ma'ruf Amin saat memberikan sambutan pada puncak kegiatan Harlah PMII ke-62 di Museum Nasional, Jakarta Pusat, Senin (18/4). (Foto: Ss Yt PMIIOFICIAL).

Jakarta, NU Online Jabar
Pengurus Besar (PB) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) menggelar puncak peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-62 di Museum Nasional Jakarta Pusat pada Senin (18/4). Kegiatan tersebut dihadiri secara langsung oleh Wakil Presiden Republik Indonesia (Wapres RI) KH Ma’ruf Amin.


Kiai Ma'ruf Amin berharap, peran PMII sebagai generasi pemikir bangsa di masa yang akan datang mampu menunjukkan kiprahnya dalam meningkatkan daya saing global. Ia menjelaskan, upaya tersebut menuntut kontribusi cendekiawan pergerakan yang mampu melihat dimensi secara luas dan simultan, baik dari sisi keindonesiaaan maupun dunia internasional, seperti yang dilansir dari website nu.or.id.


Kiai yang juga merupakan salah seorang Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tersebut juga menyinggung soal tema Harlah Ke-62 PMII yakni Transformasi Gerakan: Menjaga Tradisi dan Merawat Peradaban. Menurutnya, tema itu memiliki kedalaman perspektif yang sangat penting dalam sebuah pergerakan organisasi mahasiswa modern. 


"Tema ini juga merefleksikan semangat juang PMII yang meskipun lahir lebih dari enam dekade yang lalu, tetapi komitmen dan prinsip pendiriannya tetap hidup dan terus digelorakan. Pertambahan usia PMII hendaknya diiringi dengan penguatan serta pelestarian nilai dasar pergerakan organisasi," terangnya.


Dalam kesempatan yang sama, Kiai Ma’ruf menuturkan bahwa saat ini merupakan waktu yang tepat untuk memanifestasikan revitalisasi perjuangan PMII, terutama melalui terobosan-terobosan inovatif dan implementatif dalam transisi bangsa memasuki masa endemi setelah pandemi.


Kepada kader PMII, Wapres pun mengingatkan tentang bonus demografi yang akan didapatkan Indonesia pada 2045 mendatang, yakni bertepatan pada satu abad kemerdekaan. Upaya mewujudkan visi Indonesia Emas 2045 tak lepas dari berbagai tantangan dan peluang, di antaranya adalah penguasaan pengetahuan dan pengembangan ekonomi di tengah ketatnya kompetisi global. 


"Saat ini kita berada pada era dimana nilai tambah ekonomi tidak lagi hanya bergantung pada peningkatan jumlah modal dan tenaga kerja, tetapi justru pada penguasaan pengetahuan dan teknologi yang mampu mendongkrak produktivitas secara berlipat ganda,” ungkap Kiai Ma’ruf. 


Meski begitu, lanjutnya, pengembangan ekonomi berbasis inovasi dan kreativitas di Indonesia belum sepenuhnya tercermin dalam kegiatan ekonomi nasional. Saat ini, rasio kewirausahaan Indonesia masih sekitar 3,4 persen. Masih tertinggal dari negara-negara tetangga seperti Singapura (8,7 persen), Malaysia 4,7 persen, dan Thailand 4,2 persen. 


Sementara Indonesia Emas 2045, menurut Wapres, juga bertumpu pada kualitas sumber daya manusia (SDM). Hal ini sangat penting bagi generasi muda untuk memiliki karakter intelektual yang komprehensif, mulai dari kecerdasan intelektual, emosional, hingga spiritual. 


“Saya menantikan peran strategis dan kontribusi aktif para kader pergerakan, dalam mendukung pemerintah membangun SDM sebagai jembatan menuju kemajuan ekonomi bangsa. Tugas kita adalah menyiapkan intelektual muda yang unggul, serta memastikan bonus demografi tidak menjadi bencana demografi,” katanya. 


Sebab bonus demografi bisa saja menjadi bencana, apabila peningkatan populasi tidak dibarengi dengan peningkatan produktivitas. Penguasaan ilmu pengetahuan dan pengembangan ekonomi menjadi kunci bagi peningkatan produktivitas sebuah negara. 


"Itu penting tetapi keduanya perlu disertai pula dengan landasan keimanan dan ketakwaan berdasarkan paham Ahlussunnah wal Jamaah. Ini yang menjadi semangat PMII," tuturnya. 


Sebagai informasi tambahan, PMII merupakan organisasi kepemudaan yang didirikan di Surabaya pada 17 April 1960 oleh para kelompok pemuda Nahdlatul Ulama. PMII memiliki beberapa nilai utama yakni keislaman, keindonesiaan, kebangsaan, kemasyarakatan, profesionalisme, dan independensi. Saat ini, PMII memiliki 231 pengurus cabang (PC) yang bergerak di tingkat kota/kabupaten se-Indonesia, serta 25 pengurus koordinator cabang (PKC) di tingkat wilayah/provinsi.


Pewarta: Aru Lego Triono
Editor: Muhammad Rizqy Fauzi

Terkait

Nasional Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×