• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Senin, 4 Maret 2024

Kuluwung

Surat Rindu untuk Sang Kiai

Surat Rindu untuk Sang Kiai
(Ilustrasi/Nasihin)
(Ilustrasi/Nasihin)

Sang Kiai, mengisi malam-malam dengan tinta dan lembaran kehidupan di pinggiran sejarah dan sudut kampung. Ketika sebagian orang terlelap dan sebagian menutup telinga dari desingan peluru.

 

Tikar baru saja dilipat, jendela baru saja tertutup. Namun mata belum saja terpejam. Tumpukan kitab-kitab menjadi saksi, kubah tua seperti menantang dingin, udara berkecamuk di antara bau jelaga dan revolusi.

 

Sang Kiai, matanya tajam, memandang sudut-sudut dusun dan desa membelah garis bumi yang kelak bernama Indonesia. Langit malam masih saja bisu, membuai aliran sungai dan persawahan. Tambakrejo, Jombang.

 

Aku tak ada saat itu, mungkin, jika kharisma itu berwujud, seperti untaian mutiara, atau, langit yang indah penuh gemintang. Lampu minyak baru saja dimatikan, Sang Kiai, masih terduduk menghadap pintu Multazam, memanggil Asma penuh pujian, senandung madah tertiup dari langit jombang menerobos hijab dan terduduk di bawah pusara kubah Nabawi.

 

Waktu bergeser menyelimuti tiang-tiang sanubari. Sebelum esok bergumul dengan harapan dan kebebasan. Pekik burung malam, menyisir kehidupan orang yang terlunta dan terusir di negeri sendiri. Kebebasan adalah harga yang nyata, untuk tanah air.

 

Saat itu telah tiba, 1926, pertengahan waktu rajab. Berdiri Sang Kiai di hadapan lingkaran meriam, tinta qonun asasi menghancurkan benteng kokoh ratusan tahun tanah jajahan. Dari lisannya mengalir untaian huruf penuh kesejukan, menghidupkan ranting yang kering, menumbuhkan tunas yang yang layu, meneguhkan hati yang tercabik.

 

Tikar itu kembali digelar, jendela kembali dibuka, titahnya seperti tetesan hujan membasuh tanah yang tandus, menyalakan bara yang hampir padam. Panji-panji berkibar, lantunan pujian menggema hingga ke penjuru semesta.

 

Pria sederhana itu sekarang sudah kembali, ketika keramaian berwarna-warni di berbagai kota, Pria yang sering menatap langit sore di balik jendela. Meninggalkan senja yang indah, meninggalkan jalan setapak dan cangkir kayu di beranda rumah.

 

Aku menduga, saat ini, beliau menatap penuh senyum, seperti senyum rarusan tahun yang lalu, sejuk dan damai.

 

Aku hanya menduga, karena aku tak sejaman, tentang tatap matanya, lengan yang lembut dan jari tintanya. Aku hanya menduga, karena aku tak ada saat itu. Aku hanya membayangkan, kepulan asap jelaga menempel di kaca jendelanya, wangi bunga di halaman rumahnya, tempat lahir sejarah dan kesederhanaan.

 

Seratus tahun lebih masa itu berlalu, dusun gedang, tambakrejo, jombang.

 

Malam setelah ini mungkin aku tertidur pulas, ketika ratusan tahun yang lalu itu, Sang Kiai sulit terpejam. Satu abad ini menyadarkan kita, bahwa pernah ada hari-hari yang berat dilewati, kantuk dan lapar menghias pagi. Tersadar, ketika tanah dan langitpun menangis. Untuk siapa? Kita dan negeri ini.

 

Mungkin, akan tiba masa kita akan bertemu, pada pagi yang tak lagi bisu, tanpa lapar dan berpuasa.
Tersadar kembali, untuk mengenang Sang Kiai yang sederhana, yang melewatkan gemerlap malam menuju pagi penuh harapan.

 

Untuk waktu yang terlewat, untuk rindu yang melompat, saat seratus tahun lebih waktu berlalu.

 

Untuk rindu, untuk masa yang kemudian berlalu, untuk malam yang saat itu menemani. Ditepi langit dan dusun yang sepi, dan malam di tepian jombang.

 

Untuk Sang Kiai, Hadratus Syaikh Muhammad Hasyim Asy'ari.


Nasihin, Pengurus Lesbumi PWNU Jabar

Selamat Hari Santri, Selamat menjelang Satu Abad NU


Kuluwung Terbaru