• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Jumat, 23 Februari 2024

Kuluwung

Orang-orang Rapuh yang Menanam Senyum

Orang-orang Rapuh yang Menanam Senyum
Orang-orang Rapuh yang Menanam Senyum. (Ilustrasi/Nasihin)
Orang-orang Rapuh yang Menanam Senyum. (Ilustrasi/Nasihin)

Orang itu berkelit dari keramaian, menyepi melihat malam berkelip bintang. Beberapa menit sebelumnya menyeduh kopi dan menggenggam geretan api--menaiki tangga rumahnya yang entah berapa ribu kali diinjaknya.

 

Duduk disudut kemudian membakar tembakau, dia hisap asap dalam-dalam setengah mengaduh pelan. Kopi setengah pahit yang mulai dingin dihirup dan diteguk--dadanya mengaduh tapi enggan berteriak.

 

Mungkin saja atau...bisa saja, kawannya pernah berfikir dia berjasa menemani orang-orang susah bergembira, menjawab keraguan orang pinggiran tentang surga dan neraka. Atau... mungkin pernah juga dia menjadi bagian dari orang yang ikhlas sekaligus sesekali menggerutu.

 

"Aku rapuh tuhan, di hadapan manusia lain aku begitu kuat dan bijak, tapi, sering sesak dan menangis melihat rupa anak dan istri terhimpit keinginan, atau terluka, ketika melihat wajah layu tetangga yang tak tercatat didaftar penerima bansos, aku harus apa?, bersedih?, gembira?, atau tak peduli lagi dengan nasib kesejahteraan yang tak nampak di teras orang jompo", dia tertegun semakin dalam.

 

Dasar rapuh, jikapun kuat, tak sebanding sering kecewanya, jelas saja orang datang hanya untuk kepentingan semata, atau, ada nilai bisnis yang hanya wacana kemudian menguap seperti asap pembakaran.

 

Asap tembakau sedikit kecut dan padat, baranya mengecil ditiup angin, aroma vanili lembut tercium sepi, bersama harap tetangganya tertidur lelap. Tak terhitung waktu tanpa rasa syukur, tak terhitung sehat dan kewarasan tanpa usaha. Layar Android menyala, pesan berjejer, grup WhatsAap menumpuk membawa berita-berita berantai kejadian hari ini, dari berita politik sampai harga-harga yang naik.

 

Dia tersenyum teringat kawannya, yang kadang menjadi pakar, hasil ilmu dipencarian google, bahkan diapun tersenyum melihat tingkahnya yang kadang seperti motivator dihadapan kawan dan saudaranya. Hidup memang lucu!, sekaligus membosankan bisiknya, keningnya mengkerut mengingat wejangan tokoh agama dipengajian kemarin malam, bahwa cinta dunia itu biang kerok permasalahan.

 

Dia bakar tembakau yang kedua, diingatnya tokoh-tokoh yang telah meninggal, miris hatinya dan ada secangkruk sedih menggenang di mangkuk hati, karena paku-paku bumi penyejuk hati susah gantinya, yang tersisa hanya pedagang sumber daya alam dan manusia.

 

Waktu semakin tak dimengerti, semakin tak faham tentang kehidupan karena memang bukan urusannya, hidup adalah tentang jalan hidup setiap orang yang berbeda-beda. Malam terlarut menjelang berganti menurut tahun masehi, bulan melebihi genting rumahnya, langit bersih tanpa awan dan asap.

 

Dia mencoba menanam senyum, harapan, doa dan hangatnya pagi esok hari, semoga dan semoga, karena Tuhan itu ada, dan kehidupan akan terus berjalan ada ataupun tak ada dirinya, tak peduli orang menamakan dan mengaitkan dengan apa tahun-tahun yang terus berganti, yang pasti semua terus akan berubah, berganti seperti angka jam dinding. Semoga rapuhmu adalah hikmahmu.

 

Esok harus kembali bergumul dengan jalan hidup yang entah seperti apa dan dimana, menerobos jalan gang yang sempit, tepian sungai yang kotor, tangisan pilu dan kesedihan orang pinggiran, hiruk-pikuk panas terik barisan trotoar.

 

Kita akan kembali mendengar dengan sabar keluhan, kegembiraan dan ribuan kebutuhan dan kebuntuan diatas fotokopi KTP dan KK. Kita akan menyaksikan kembali sisa-sisa makanan yang terbuang, nasi-nasi yang menangis, dan air menguap terbuang ketika di belahan dunia lain dahaga.

 

Kita akan kembali bergumul dengan makam-makam tua, sejarah-sejarah bangsa, kitab-kitab tua dan setumpuk rumput-rumput kering tak bernyawa. Kita kembali menggerakan nafas yang hampir putus asa, menyeka airmata wanita tua, menuntun petani yang hilang sawah dan haknya.

 

Itulah hidup bernama tanpa rupa, kadang seperti indah seperti alunan seruling, kadang pahit seperti racun tanpa bisa. Temui kembali orang-orang sakit, sedih, luka karena Tuhan bersama mereka.

 

Nasihin, Lesbumi Kabupaten Bandung


Kuluwung Terbaru