Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Kepada Tanah yang Fana

Kepada Tanah yang Fana
Kepada Tanah yang Fana. (Ilustrasi/Nasihin)
Kepada Tanah yang Fana. (Ilustrasi/Nasihin)

Kepada sunyi, Aku lupa berpuisi. Disadarkan baris guguran daun, kering kecoklatan. Disadarkan gerimis, lamat dan terhenti. Capung-capung terbang bermain hujan, menyeberang di petak tanah tak berumput. Waktu adalah tepian, lama detik berdiam.

 

Ranupani, bertanya tentang kebebasan, hanya merasa bersatu dengan udara antara Ranu Kumbolo-Cemoro Lawang. Angin bertiup menggoyangkan bunga-bunga di Oro Ombo. Dipaksa atau terpaksa, menghabiskan ribuan detak jantung menyusuri jurang-jurang Arcopodo. Hari dalam ketidakpastian, seperti takdir bunga yang jatuh, kering tak berwarna. Selamat malam, orang-orang yang terlelap di awal malam.

 

Bintang memutari peradaban, menemani kelahiran dan kematian, di penggalan kisah para pengelana, melukis di batu dan kayu. Perapian malam mulai padam, hanya sisa kepulan asap setinggi pucuk pinus, berlumut dan lembab.

 

Matahari melepas kelambu malam, menyapa puncak-puncak gunung, lembah dan ngarai keheningan. Lebah menggetarkan sayap, menghisap kuncup bunga kehidupan. Pagi datang, harapan bertabur doa sisa semalam, menempel di langit-langit tanpa tiang.

 

Tunas, tumbuh dan mati, menabur kembali menjadi saripati. Dari tanah kembali ke tanah, dari tiada kembali ke tiada, dari nirwana kembali ke nirwana. Menjelajahi waktu untuk kembali, hanya menjadi peran apa saja, tunduk dan patuh untuk kembali ke masa yang fana.

 

Nasihin, Lesbumi PCNU Kabupaten Bandung

Terkait

Adrahi Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×