• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Senin, 4 Maret 2024

Kota Bandung

Nasihat Mbah Moen Ihwal Berbangsa dan Bernegara yang Membangkitkan Jiwa Nasionalis

Nasihat Mbah Moen Ihwal Berbangsa dan Bernegara yang Membangkitkan Jiwa Nasionalis
Kata-kata mutiara KH Maimoen Zubair atau Mbah Moen. (Foto: NU Online Jabar)
Kata-kata mutiara KH Maimoen Zubair atau Mbah Moen. (Foto: NU Online Jabar)

Bandung, NU Online Jabar
KH Maimoen Zubair atau Mbah Moen adalah ulama kharismatik Indonesia yang merupakan pengasuh pondok Pesantren Sarang, Rembang, Jawa Tengah. Selain dikenal sangat alim karena kedalaman ilmunya, Mbah Moen juga dikenal sebagai seorang ulama yang memiliki jiwa nasionalis yang tinggi.


Jiwa nasionalis yang dimiliki Mbah Moen itu dapat terlihat dari tutur kata dan nasihatnya ihwal berbangsa dan bernegara. Melalui nasihat-nasihatnya itulah Mbah Moen menyampaikan pesan cinta akan pentingnya menghormati setiap perbedaan yang ada dan menjadikannya sebagai satu kesatuan dalam hidup berbangsa dan bernegara.


Berikut adalah nasihat Mbah Moen ihwal berbangsa dan bernegara yang dapat membangkitkan jiwa nasionalis kita:


1.    Bangsa Indonesia membentuk negara yang tidak melupakan Tuhan (hablum minallah) seraya mengakui keragaman realitas sosial (hablum minannas). Mempraktikkan prinsip hablum minallah tidak dapat dilepaskan dari praktik hablum minannas. Bahkan menjadi ketentuan yang tak terpisahkan.


2.    Umat manusia selalu dipenuhi dinamika perubahan. Kehidupan selalu menuju arah yang lebih maju dan berperadaban. Ini ditunjukkan pada saat perang dunia kedua, tregedi kemanusiaan global berbuah kemerdekaan bangsa Indonesia yang patut disyukuri.


3.    Salah satu bentuk implementasi hablum minnas adalah mewujudkan keadilan. Keadilan berhubungan dengan maqashid syariah atau lima unsur penting dalam kehidupan yang menjadi pertimbangan dalam semua perumusan hukum syariat yakni keselamatan jiwa, penghargaan terhadap akal pikiran, penghargaan terhadap kehendak manusia untuk diakui dan bersosialisasi, kebutuhan material dan meneruskan keturunan.


4.    Kita semua-seluruh umat manusia-adalah saudara. Sama-sama keturunan Nuh as. Maka, yang terpenting adalah bagaimana agar bangsa Indonesia ini bisa memberi teladan kepada dunia tentang kehidupan ber-Bhinneka Tunggal Ika.


5.    Ya Allah, kebhinnekaan dan keberagaman yang Engkau titahkan pada kami benar sesuai irodah-Mu, li ta’arofu, untuk saling mengenal.


6.    Biar bagaimanapun perbedaannya, manusia tetap bisa disatukan, walau agama berlainan.


7.    Menjunjung harkat bangsa adalah satu hal yang tidak bisa dipisahkan dengan keislaman.


8.    Berbangsa tidak melihat kulit, tidak melihat wajah, sebab wajah bisa dirubah. Perbedaan rupa itu tidak menjadi persoalan, yang penting adalah kesamaan kemanusiaan. Inilah yang menjadi amanat dari Allah, baik atau jelek tetaplah manusia.


9.    Kita jangan sampai lepas dari jiwa nasionalis.


10.    Indonesia adalah satu-satunya negara mayoritas Islam yang paling bisa dilihat kerukunannya. Kalau Indonesia tidak dijaga kerukunannya, itu adalah suatu kehancuran yang besar.


11.    Orang itu berbeda-beda. Ada yang begini, ada yang begitu. Maka, menusia jangan diharapkan bisa sama semua, justru dengan perbedaan-perbedaan itu bisa jadi seni yang indah. Ada kuning, merah, hijau, biru. Kalau hanya satu warna, jadi tidak menarik.


12.    Kebangsaan terdiri dari berbagai unsur yang menjadi satu, tanpa memandang ia bangsa yang asli atau tidak asli. Menjunjung harkat bangsa adalah satu hal yang tidak bisa dipisahkan dengan keislaman.


13.    Islam tidak akan roboh hanya karena menghormati pemeluk agama lain.


14.    Hukum menjunjung dan membela Tanah Air adalah fardlu ‘ain (wajib dikerjakan oleh semua orang).


15.    Toleransi artinya jangan sampai perbedaan agama membuat kekisruhan. Agamamu, agamamu. Agamaku, agamaku. Oleh karena itu, kita harus mempunyai peradaban. Yang bertentangan ndak usah disatukan, ndak usah dibuat ramai-ramai.


16.    Masa sekarang tidak ada khalifah. Semuanya negara nasional. Pada masa sekarang kalau bangsanya tidak dijunjung, maka akan runtuh. Meski demikian, kebesaran Indonesia harus diiringi dan diwarnai dengan roh-roh keislaman.


17.    Jagalah keumatan dan kebangsaan. Tidak boleh ada pemisahan. Menjaga agama adalah menjaga negara.


18.    Jangan pernah memisahkan antara amaliah, tindakan atau perilaku keagamaan, dengan kecintaan terhadap bangsa Indonesia.


19.    Mereka yang ingin menjadikan Indonesia sebagai negara Islam adalah mereka yang tidak memahami sejarah bangsa Indonesia.


20.    Bangsa Indonesia ini perlu mempunyai wawasan kebangsaan disertai pengetahuan tentang pergerakan para pendahulu seperti gerakan Budi Utomo. Karena orang yang tidak menghargai gurunya atau para pendahulunya, maka Allah akan memberikan cobaan kepadanya dengan kesengsaraan.


Pewarta: Agung Gumelar


Kota Bandung Terbaru