• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Selasa, 16 April 2024

Kota Bandung

Kiai Miftachul Akhyar: Kenabian Nabi Muhammad Saw Dilantik dengan Iqra’

Kiai Miftachul Akhyar: Kenabian Nabi Muhammad Saw Dilantik dengan Iqra’
Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar. (Foto: tangkapan layar/TVNU)
Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar. (Foto: tangkapan layar/TVNU)

Bandung, NU Online Jabar
Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar menjelaskan bahwa awal pelantikan dan hari jadi kenabian Rasulullah Saw terdapat gelar penyematan umat Iqra’ (membaca) sebagaimana turunnya surat al-‘Alaq yang menjadi pertanda kenabian.


اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ [1] خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ [2] اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ [3] الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ [4] عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ [5]


Artinya: "Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan! [1]. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. [2]. Bacalah! Tuhanmulah Yang Maha Mulia. [3]. yang mengajar (manusia) dengan pena. [4]. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. [5]."


Kiai Miftah menjelaskan, perintah untuk membaca tersebut tidak terbatas pada membaca tulisan. Akan tetapi, lebih jauh mencakup kemampuan membaca tanda-tanda alam (kauniyah) itulah perintah yang ada dalam perintah Iqra’.


“Artinya umat Muhammad Saw harus punya kemampuan yang tanpa batas, di mana ada pengetahuan, bahkan di mana ada gelar-gelar pengetahuan, maka ambillah,” ujar Kiai Miftah dalam video taujihatnya pada Resepsi Harlah ke-101 Nahdlatul Ulama di UNU Yogjakarta di kanal Youtube TVNU, Rabu (31/1/2024).


Lebih lanjut, Kiai Miftach juga mengingatkan bahwa perintah membaca (iqra’) selalu bergandengan dengan bismirabbik sebagai pengendali dan pengontrol.


“Mungkin ini yang dianggap pernah diramalkan oleh ki ronggo warsito ‘akeh wong pinter pada keblinger’, untuk tidak keblinger bismirabbik karena bismirabbik ini adalah kebenaran, sehingga benar dan pinter harus selalu bergandengan, di mana ada pinter di situ harus ada benar,” tuturnya.


Kiai Miftach juga mengungkapkan bahwa Islam adalah agama ilmu pengetahuan yang selalu didampingi dengan kebenaran.


Pewarta: Agung Gumelar


Kota Bandung Terbaru