Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

KH Juhadi Muhammad: ​​​​​​​Ponpes Cipasung Memiliki Sejarah Besar Bagi NU

KH Juhadi Muhammad: ​​​​​​​Ponpes Cipasung Memiliki Sejarah Besar Bagi NU
KH Juhadi Muhammad: ​​​​​​​Ponpes Cipasung Memiliki Sejarah Besar Bagi NU. (Foto: SS Yt Pondok Pesantren Cipasung).
KH Juhadi Muhammad: ​​​​​​​Ponpes Cipasung Memiliki Sejarah Besar Bagi NU. (Foto: SS Yt Pondok Pesantren Cipasung).

Tasikmalaya, NU Online Jabar
Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Barat KH Juhadi Muhammad bersyukur bisa menghadiri kegiatan Haul Almarhum KH Ruhiat ke-45 dan Almarhum KH Muhammad Ilyas Ruhiat ke-15 di Pondok Pesantren Cipasung, Jumat (15/7) malam. Menurutnya, kedua tokoh tersebut merupakan pendiri dan penerus pondok pesantren Cipasung yang dalam sejarah NU banyak melahirkan orang-orang besar.


Kiai Juhadi mengungkapkan, pentingnya ta'aluq ataupun hubungan yang harus terus dibangun antara murid dan guru sampai hari kiamat.


"Mudah-mudahan dengan taaluq kita dengan pendiri dan pengasuh pondok pesantren mudah-mudahan nanti di yaumil qiyamah kita juga mendapatkan syafaatnya disamping syafaat Rasulullah SAW," ujarnya.


Kiai yang juga pimpinan Pondok Pesantren Hidayatuttholibiin Indramayu tersebut juga mengungkapkan, Cipasung memiliki sejarah besar bagi Nahdlatul Ulama secara skala nasional. Ia menyebutkan, satu-satunya Rais Aam PBNU dari Jawa Barat yakni Almarhum KH Muhammad Ilyas Ruhiat.


Dalam kesempatan yang sama, Kiai Juhadi juga memaparkan KH Muhammad Ilyas Ruhiat memiliki pengalaman berogranisasi di IPNU, Rais Syuriah PWNU Jawa Barat, A'wan PBNU, PLH Rais Aam tahun 1992, dan terpilih menjadi Rais Aam PBNU pada tahun 1994. Menurutnya, hal ini adalah sejarah yang luar biasa pada muktamar tahun 1994 bagi warga NU.


"Mungkin, muktamar yang paling menyedihkan bagi Nahdlatul Ulama, tapi juga ini menunjukan bahwa kekokohan Nahdlatul Ulama digoyang seperti apapun, oleh kekuasaan tidak akan mampu," tegasnya.


Selain itu, ia juga menjelaskan tantangan setiap zaman itu pasti berbeda. "Pada pendirian NU tantangannya adalah penjajah, kemudian zaman orde baru tantangannya adalah penguasa itu sendiri, dan hari ini tantangan kita adalah ideologi-ideologi yang datang belakangan," ungkap Kiai Juhadi.


"Tentu dari sejarah baik dari KH Ruhiat dan KH Muhahmmad Ilyas Ruhiat adalah prinsip beliau yaitu dalam hidup hanya dua, mengabdi dan berjuang untuk pesantren dan untuk NU. Kita sebagai penerusnya juga harus mempertahankan bahwa prinsip hidup kita adalah mengabdi untuk pesantren dan berjuang didalam NU," pungkasnya.


Pewarta: Muhammad Rizqy Fauzi

Terkait

terpopuler

rekomendasi

topik

×