Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Subhan Fahmi: Ruh Organisasi Ada di Kaderisasi, Ruh Kaderisasi Ada di Instruktur

Subhan Fahmi: Ruh Organisasi Ada di Kaderisasi, Ruh Kaderisasi Ada di Instruktur
Subhan Fahmi: Ruh Organisasi Ada di Kaderisasi, Ruh Kaderisasi Ada di Instruktur (Foto: Ansor Jabar Online)
Subhan Fahmi: Ruh Organisasi Ada di Kaderisasi, Ruh Kaderisasi Ada di Instruktur (Foto: Ansor Jabar Online)

Bandung, NU Online Jabar
Pimpinan Wilayah (PW) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jawa Barat menggelar Latihan Instruktur (LI) ke-1 Angkatan IV, serta Pendidikan dan Pelatihan Dasar Banser, di Asrama Haji Embarkasi Jl. Kemakmuran No.72, Kota Bekasi, dengan mengusung tema “Menumbuhkan Spirit Instruktur dalam Bingkai Ideologi Gerakan” yang digelar selama empat hari, yakni Kamis-Ahad (18-21/8).

 

Dalam kesempatan tersebut, Kepala Sekolah Kaderisasi Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Jawa Barat Subhan Fahmi menegaskan bahwa ruh sebuah organisasi berada pada kesungguhan dalam kaderisasinya. Sementara kesungguhan dalam kaderisasi tergantung pada kemampuan instrukturnya.

 

“Kalau calon instruktur tidak taat aturan, tidak kompak, tidak rapi, tidak disiplin akan begitu juga ke yang lain, ke anggota Ansor yang akan dikaderisasinya,” ungkapnya sebagaimana diberitakan Ansor Jabar Online, Selasa (23/8/22).

 

Menurut Fahmi sapaan akrabnya, GP Ansor mendesain pelatihan instruktur dengan cara yang benar-benar terukur, disusun rapi, dan dengan peraturan yang ketat. Ia moncontohkan, 3 hari sebelum kegiatan, panitia tidak lagi menerima peserta susulan. Apalagi datang tiba-tiba di hari H.

 

Seluruh calon peserta, kata pemuda asal Garut ini, harus betul-betul memenuhi persyaratan kepesertaaan yang telah ditentukan. Mereka harus lolos persyaratan administrasi, menyertakan makalah, serta membayar bayar infaq, dan lain-lain. Jika tidak memenuhinya, maka akan dinyatakan gagal jadi peserta.

 

Fahmi mencontohkan, pada LI 1 ini sebetulnya panitia menerima pendaftaraan dari 95 calon peserta dari 27 kota dan kabupaten di Jawa Barat. Namun, tapi panitia hanya meloloskan 77 orang yang memenuhi syarat.

 

“Mereka kelak akan menjadi insturktur juga. Jika tidak disiplin, bagaimana mau menjadi instruktur yang baik. Tidak memenuhi syarat kepesertaan artinya dia tida taat kepada peraturan. Kalau tidak taat pada peraturan pada sebuah kegiatan, bagaimanaa ia akan taat pada organisasi,” jelasnya.

 

Melansir Ansor Jabar Online, salah seorang peserta LI dari Kabupaten Sukabumi, Hasbullah, menceritakan bahwa apa yang dikatakan oleh Kepala Sekolah Kaderisasi GP Ansor Jawa Barat itu bukan omong kosong belaka. Namun, benar-benar dilaksanakan di lapangan.

 

Ia misalnya menceritakan tentang jadwal kegiatan yang berlangsung secara tertib dan tepat waktu. Setiap hari, kegiatan dimulai pukul 08.00 pada sebuah ruangan. Sebelum masuk ruangan, seluruh peserta harus melakukan absensi digital dengan barcode yang tergantung di id card masing-masing.

 

“Kita memiliki waktu spare waku sudah ada lokasi 15 menit sebelum materi, digunakan absensi barcode. Dispensasi hanya 5 menit. Jika lambat dinyatakan alpa meskipun masuk kelas. Satu kali alpa akan ditandai, didibolongan di id card. Lebih dari 4 bolongan, katanya akan dipanggil panitia,” jelasnya.

 

Menurut dia, pada LI 1 itu, dari 77 orang peserta hanya 15 orang yang id card-nya ditandai. Itu pun masing-masing hanya 1, tidak ada yang sampai 2 apalagi 3. Jadi, tidak ada yang dipanggil panitia.

 

Ia kemudian lebih merinci tentang jadwal. Para peserta harus berada di ruang kelas tepat pukul 08.00 dan berakhir pukul 01.00. Di sela-sela acara peserta mendapatkan waktu untuk shalat, istirahat, dan makan. Peserta kemudian mendapatkan waktu istirahat beberapa jam karena pukul 03.30 mereka harus bangun untuk melaksanakan mujahadah sampai menjelang Shalat Subuh. Lalu olahraga, sarapan dan masuk kelas lagi.

 

Menurut dia, ada waktu tidur sekitar 2.5 jam tiap hari. Namun, masing-masing peserta tidak bisa langsung memanfaatkannya untuk tidur. Rata-rata peserta hanya tidur sejam.

 

“Aslina da lungleng balik teh,” katanya sambil tertawa.

 

Peserta yang lain, Iman Nurjaman, asal Kabupaten Tasikmalaya juga menceritakan hal serupa. Reaksi sepulang dari kegiatan adalah membayar tunai dengan langsung dug sek alias tidur panjang.

 

Editor: Abdul Manap

Terkait

terpopuler

rekomendasi

topik

×