• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Rabu, 21 Februari 2024

Hikmah

Sosok Pribadi yang Tangguh (1)

Sosok Pribadi yang Tangguh (1)
Ilustrasi: NU Online
Ilustrasi: NU Online

Oleh KH Zakky Mubarak

Bila kita mengamati kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat, maka akan dijumpai berbagai macam manusia dengan kepribadiannya masing-masing yang berbeda. Ada di antara mereka yang merupakan pribadi tangguh, dapat mewarnai masyarakat dan ada pula pribadi-pribadi yang lemah yang selalu diwarnai oleh orang lain. Kepribadian merupakan faktor penentu bagi baik atau buruknya seseorang.

Pada hakikatnya setiap diri seseorang, kualitasnya akan ditentukan oleh kuat atau lemahnya kepribadian yang bersangkutan. Bila dilakukan pengamatan yang teliti terhadap berbagai macam kepribadian manusia itu, pada dasarnya dapat dikategorikan menjadi tiga golongan atau kelompok. 

Kelompok pertama, mereka yang tidak yakin akan kemampuan dirinya dan menyia-nyiakan potensi yang ada pada dirinya, sehingga kepribadiannya sangat lemah. Mereka hanya mau berpegang kepada tradisi yang diwariskan oleh nenek moyang dan para pendahulunya belaka. Mereka tidak kritis terhadap warisan nenek moyang dan para pendahulunya itu dan bersikap tertutup dari segala yang baru. Karena itu mereka selalu menolak pembaharuan dan perbaikan, dan tidak menggunakan akal pikirannya dengan baik. Mereka menolak petunjuk dari ilmu pengetahuan yang mengarahkan manusia pada kemajuan-kemajuan dalam berbagai bidang kehidupan.
 
Kelompok ini disitir dalam beberapa ayat Al-Qur’an sebagai kelompok yang tidak memiliki kepribadian yang tangguh dan baik, sifat ini dicela dengan keras, antara lain disebutkan:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ ٱتَّبِعُواْ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ قَالُواْ بَلۡ نَتَّبِعُ مَآ أَلۡفَيۡنَا عَلَيۡهِ ءَابَآءَنَآۚ أَوَلَوۡ كَانَ ءَابَآؤُهُمۡ لَا يَعۡقِلُونَ شَيۡٔٗا وَلَا يَهۡتَدُونَ 
 

"Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?". (Q.S. Al-Baqarah, 2: 170).
 
Dalam ayat lain disebutkan bahwa sikap mereka selalu mengikuti jejak-jejak para pendahulu, meskipun jalan mereka tersesat dan tidak mendapat petunjuk. Bersikap membuta tuli terhadap segala pembaharuan dan perubahan, meskipun perubahan dan pembaharuan itu mengarah kepada kehidupan yang lebih baik dan bermanfaat. Pernyataan mereka disitir dalam suatu ayat:

إِنَّا وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا عَلَىٰٓ أُمَّةٖ وَإِنَّا عَلَىٰٓ ءَاثَٰرِهِم مُّقۡتَدُونَ 
 

"Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka". (Q.S. Al-Zukhruf, 43:23).
 
Sikap mereka jelas sekali, tidak mau menggunakan akal pikirannya, tetapi lebih menyukai jalan hidup yang sesat, terbelenggu dalam kejumudan dan kebodohan, dan sebaliknya menolak jalan hidup yang dinamis dan rasional serta mengikuti petunjuk Ilahi. Keadaan mereka digambarkan dengan jelas dalam Al-Qur’an:

وَلَقَدۡ ذَرَأۡنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلۡجِنِّ وَٱلۡإِنسِۖ لَهُمۡ قُلُوبٞ لَّا يَفۡقَهُونَ بِهَا وَلَهُمۡ أَعۡيُنٞ لَّا يُبۡصِرُونَ بِهَا وَلَهُمۡ ءَاذَانٞ لَّا يَسۡمَعُونَ بِهَآۚ أُوْلَٰٓئِكَ كَٱلۡأَنۡعَٰمِ بَلۡ هُمۡ أَضَلُّۚ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡغَٰفِلُونَ  

“Dan Sesungguhnya kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai hewan ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”. (Q.S. Al-A’raf, 7: 179).
 
Penulis merupakan salah seorang Rais Syuriyah PBNU
 


Hikmah Terbaru