Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Kisah Ajaib dari Perayaan Maulid Nabi 

Kisah Ajaib dari Perayaan Maulid Nabi 
Kisah Ajaib dari Perayaan Maulid Nabi. (Ilustrasi/NU Online)
Kisah Ajaib dari Perayaan Maulid Nabi. (Ilustrasi/NU Online)

Bandung, NU Online Jabar

Peristiwa penting dan luar biasa terjadi di bulan Bulan Rabiul awal tepatnya pada tahun 571 M. Di tahun tersebut lahir seorang bayi suci yang diberi nama Muhammad yang kelak menjadi seorang pemimpin dan suri tauladan bagi umat Islam di seluruh dunia. 

 

Bagi masyarakat Muslim khususnya di Indonesia, hari kelahiran Nabi Muhammad Saw adalah sesuatu yang sangat istimewa. Mereka selalu memperingati peristiwa ini dengan berbagai rangkaian acara mulai dari pembacaan shalawat, dzikir, dan mengundang penceramah untuk kembali mengenang jasa-jasa dan sejarah perjuangannya. Mereka menamai acara ini dengan sebutan Maulid, Mulud, atat Muludan. 

 

Mengenai peringatan Maulid Nabi ini, ada kisah ajaib yang didapat oleh seorang santri Rubat Syafi’ie Mukalla bernama Moh Nasirul Haq. Kisah ini datang dari Sayyid Muhammad al-Maliki dan Sayyid Muhammad dari ayahandanya Sayyid Alwi al-Maliki. Yang kemudian diceritakan ulang oleh Al Habib Jailani Asy-Syathiri pada 26 Rabiul Awal 1437 H/7 Januari 2016 tepatnya pada pukul 06.30 di Rubat, Tarim, Yaman. 

 

Alkisah, cerita bermula ketika Sayyid Alwi menghadiri peringatan Maulid Nabi di Palestina. Beliau terheran-heran menyaksikan orang yang terus berdiri sejak awal pembacaan maulid. 

 

Sayyid Alwi pun memanggilnya, "Duhai tuan apa yang Anda lakukan, mengapa Anda berdiri sejak awal Maulid?” 

 

Lalu ia menjawab bahwa dulu ia pernah berjanji saat menghadiri sebuah Maulid Nabi untuk tidak berdiri hingga acara selesai, termasuk saat Mahallul Qiyam, momen di saat jamaah berdiri senrentak sebagai tanda penghormatan kepada Rasulullah. “Sebab menurutku itu bid’ah,” katanya. 

 

Tiba-tiba, kata orang itu kepada Sayyid Alwi, pada momen Mahallul Qiyam ia menyaksikan Rasulullah hadir dan lewat di sebelahnya lalu berujar, “Kamu tak usah berdiri kamu duduk saja di tempatmu." 

 

“Aku pun ingin berdiri namun terasa susah. Sejak itulah aku sering sakit dan bahkan organ-organku bermasalah. Sehingga aku bernadzar jikalau Allah menyembuhkan penyakitku maka aku berjanji setiap ada maulid aku akan berdiri dari awal maulid hingga akhir. Dan alhamdulillah, dengan izin Allah aku diberikan kesembuhan, duhai Sayyid." 

 

Sayyid Alwi pun mempersilakan orang tersebut melaksanakan nazarnya.

 

Melansir NU Online Jabar, dalam artikel yang berjudul ‘Selamat Datang Rabiul Awal 1444 H, Berikut Keutamaan Bulan Maulid dan Cara Memperingatinya’ disebutkan bahwa Imam al-Suyuthi dari kalangan ulama Syafi’iyyah juga mengatakan, Maulid Nabi merupakan kegiatan positif yang mendatangkan pahala. 

 

Ia menganjurkan pada bulan Rabiul Awal umat Islam meluapkan kegembiraan dan rasa syukur dengan cara memperingati kelahiran Rasulullah, berkumpul, membagikan makanan, dan beberapa ibadah lain.

 

 هُوَ مِنَ الْبِدَعِ الْحَسَنَةِ الَّتِيْ يُثَابُ عَلَيْهَا صَاحِبُهَا لِمَا فِيْهِ مِنْ تَعْظِيْمِ قَدْرِ النَّبِيِّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَإِظْهَارِ الْفَرَحِ وَالْاِسْتِبْشَارِ بِمَوْلِدِهِ الشَّرِيْفِ   

 

“Perayaan maulid termasuk bid’ah yang baik, pelakunya mendapat pahala. Sebab di dalamnya terdapat sisi mengagungkan derajat Nabi Saw dan menampakan kegembiraan dengan waktu dilahirkannya Rasulullah Saw”.

 

Pewarta: Agung Gumelar

Terkait

Hikmah Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×