• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Senin, 4 Maret 2024

Hikmah

Keajaiban yang Menimpa Halimah As-Sa’diyyah saat Jadi Ibu Susuan Nabi Muhammad Saw

Keajaiban yang Menimpa Halimah As-Sa’diyyah saat Jadi Ibu Susuan Nabi Muhammad Saw
Keajaiban yang Menimpa Halimah As-Sa’diyyah saat Jadi Ibu Susuan Nabi Muhammad Saw (Ilustrasi: AM)
Keajaiban yang Menimpa Halimah As-Sa’diyyah saat Jadi Ibu Susuan Nabi Muhammad Saw (Ilustrasi: AM)

Rabiul Awal adalah bulan yang dimuliakan atas lahirnya Nabi akhir zaman yang di utus oleh Allah Swt untuk menyempurnakan akhlak manusia di muka bumi. Beliau adalah Rasulullah Muhammad Saw yang lahir pada 12 Rabiul Awal tahun Gajah.


Penamaah tahun gajah karena pada saat itu bertepatan dengan penyerangan raja Abrahah dengan pasukan gajah yang ingin menghancurkan Ka’bah. Namun penyerangan tersebut di pukul mundur oleh serangan burung Ababil yang membawa batu dengan bara api yang dikirim langsung oleh Allah Swt.


Menurut beberapa riwayat, saat dan menjelang nabi lahir banyak peristiwa-peristiwa ajaib terjadi, mulai dari padamnya api abadi sesembahan orang majusi, tertutupnya akses langit bagi iblis, pintu-pintu surga terbuka lebar, pintu-pintu neraka ditutup rapat, ribuan malaikat turun ke bumi, bulan terbelah, bintang-bintang bersinar terang, dan burung-burung yang penuh cahaya memenuhi rumah Sayyidah Aminah ibunda Nabi Muhammad, saat itulah semesta menyambut kelahirannya.


Selain itu, banyak peristiwa-peristiwa menakjubkan lainnya yang terjadi setelah Nabi Muhammad dilahirkan. Kejadian tersebut yaitu keajaiban dan keberkahan menimpa Halimah As-Sa’diyyah ibu susuan Nabi Muhammad Saw.


Pada saat itu, masyarakat Arab yang hidup di daerah perkotaan memiliki tradisi untuk menitipkan bayi-bayi mereka kepada perempuan-perempuan desa. Bayi itu akan dirawat dan disusui dengan baik. Sebagai imbalannya, perempuan desa tadi akan mendapatkan upah yang telah disepakati sebelumnya.


Hal itu dilakukan sebagai tindakan preventif bagi si bayi. Iklim perkotaan Arab kurang baik untuk seorang bayi, sehingga dulu orang-orang Arab memilih untuk menitipkan bayinya ke perempuan pedesaan dan dirawat di desa, agar kesehatan bayi terjaga dan tumbuh kuat.  


Hal ini juga dialami oleh Nabi Muhammad saat masih bayi. Beliau pernah dirawat dan disusui oleh seorang perempuan desa dari kabilah Sa’ad bin Bakr yang bernama Halimah As-Sa’diyyah binti Abu Dzuaib. Muhammad kecil hidup di perkampungan kabilah Sa’ad sampai usia empat tahun, ada yang mengatakan sampai usia lima tahun.


Hal itu dilakukan sebagai tindakan preventif bagi si bayi. Iklim perkotaan Arab kurang baik untuk seorang bayi, sehingga dulu orang-orang Arab memilih untuk menitipkan bayinya ke perempuan pedesaan dan dirawat di desa, agar kesehatan bayi terjaga dan tumbuh kuat.  


Hal ini juga dialami oleh Nabi Muhammad saat masih bayi. Beliau pernah dirawat dan disusui oleh seorang perempuan desa dari kabilah Sa’ad bin Bakr yang bernama Halimah As-Sa’diyyah binti Abu Dzuaib. Muhammad kecil hidup di perkampungan kabilah Sa’ad sampai usia empat tahun, ada yang mengatakan sampai usia lima tahun.


​​​​​​​Halilmah As-Sa’diyyah sendiri memiliki tiga orang anak, yaitu Abdullah bin Harits, Anisah binti Harits dan Hudzafah atau Judzamah binti Harits (yang dijuluki asy-Syima’). Secara otomatis, tiga anak Halimah itu menjadi saudara susuan Rasulullah saw. Selain Rasulullah, Halimah juga pernah menyusui paman Nabi yang bernama Hamzah bin Abdul Muthalib. 


Sebelum menyusu kepada Halimah as-Sa’diyyah, Muhammad pernah menyusu kepada perempuan mantan budak dari Abu Lahab, yaitu Tsuwaibah al-Aslamiyah. Selain menyusui Rasulullah Saw, Tsuwaibah juga pernah menyusui Masruh (putra Tsuwaibah), Hamzah bin Abdul Muthalib, dan Abu Salamah bin Abdul Asad al-Makhzumi. Jadi, Rasulullah merupakan saudara satu susuan dengan Hamzah dari dua jalur, yaitu Tsuwaibah al-Aslamiyah dan Halimah as-Sa’diyyah.


Kisah Halimah Mencari Bayi untuk Disusui 

Keluarga Halimah hidup di perkampungan kabilah Sa’ad bin Bakr. Perkampungan itu terkenal tandus, bahkan di Arab tidak ada perkampungan yang lebih tandus dari kampung itu. Kampung kabilah Sa’ad bin Bakr sedang dilanda paceklik. Hewan ternak di kampung tidak ada yang tumbuh subur, semuanya kering dan kurus. 


Tidak jauh berbeda dengan kondisi kampung tempatnya hidup, kondisi perekonomian keluarga Halimah juga sedang tidak membaik. Bahkan, kedua bayinya terus menangis karena seharian tidak bisa mendapatkan susu, air susu ibu (ASI) Halimah tidak mengeluarkan ASI dan unta miliknya pun tidak mengeluarkan air susu untuk diperah. Susah benar kondisi keluarga Halimah saat itu.


Suatu hari, Halimah bersama perempuan-perempuan kampung Kabilah Sa’ad pergi ke kota Mekah untuk menwarkan jasa ASI mereka. Dalam perjalanan menuju kota, ia juga ditemani sang suami (Haritsah) dan kedua anaknya yang masih bayi. Mereka berempat mengendarai keledai betina berwarna putih kehijauan dan seekor unta yang sudah tua (dalam versi lain unta berusia dua tahun).


Sepanjang perjalanan, keluarga Halimah merasa begitu sengsara. Di samping kendaraannya dalam kondisi lemah, kedua bayinya juga terus menangis. Bahkan kalau malam tidak bisa tidur karena kedua bayi masih terus menangis. ASI Halimah tidak keluar sama sekali, begitu juga unta tua yang dibawanya, setetes pun tidak mengeluarkan susu untuk diperah. Mereka hanya bisa mengharapkan keajaiban yang mengubah kondisi mereka saat ini.


Sesampai di Makkah, perempuan-perempuan kampung kabilah Sa’ad pun mencari bayi-bayi yang hendak mereka susui. Namun sayang, dari sekian perempuan yang ada, tidak satu pun yang mau membawa Rasulullah saw kecil untuk disusui. Hal itu wajar karena kondisi Rasulullah yang yatim membuat mereka tidak ‘melirik’ sama sekali. Mereka khawatir tidak bisa mendapatkan upah yang cukup jika menyusui seorang anak yang yatim. 


Semua perempuan sudah mendapatkan bayi dan semua sepakat untuk kembali ke kampung. Namun, lagi-lagi kenaasan menimpa keluarga Halimah, hanya ia sendiri yang belum mendapatkan bayi. Mungkin karena kondisi Halimah yang tidak meyakinkan. Untuk menyusui anak sendiri saja tidak bisa.  


Namun, karena tak mau pulang dengan tangan kosong, akhirnya Halimah sepakat dengan sang suami untuk mengambil bayi yatim bernama Muhammad itu.


Tak diduga, begitu sang bayi diterima, dan dibuka kain bungkusnya, Halimah melihatnya penuh takjub. Wajah sang bayi yang bercahaya membuat dirinya begitu kagum karena baru kali itu ia mendapatkan bayi yang luar biasa. Dalam hal ini Allah Swt sudah merencanakan kebaikan bagi keluarga Halimah.


Saat Rasul bayi sudah berada di pangkuan Halimah, keajaiban mulai dirasakan. Kedua asinya seakan bereaksi untuk menyusui bayi yang berada dalam pangkuannya.  ASI-nya tiba-tiba dipenuhi air susu. Rasulullah saw pun bisa menyusu dengan kenyang. Tidak hanya itu, kedua bayinya yang tadinya tidak berhenti menangis pun bisa ikut menyusu sampai kenyang dan bisa tidur pulas. 


Tidak saja kedua ASI Halimah yang penuh, namun Keledai dan Unta tua miliknya juga sama, air susunya melimpah bahkan yang semula kurus seketika menjadi gemuk dan kuat menempuh perjalanan. Halimah dan suami pun bisa menghilangkan dahaga masing-masing. Dan pada malam harinya mereka bisa beristirahat di perjalanan. Semuanya bisa kenyang dan tidur dengan pulas. Tidak seperti malam-malam sebelumnya. Sejak itulah keberkahan pun berlimpah, tidak hanya kepada keluarga Halimah, tetapi juga kepada kabilahnya.


Pagi harinya mereka melanjutkan perjalanan menuju kampung. Lagi-lagi keajaiban dialami keluarga Halimah. Keledai yang mereka tunggangi melaju dengan begitu cepat. Bahkan mengalahkan rombongan lain yang menunggangi unta merah. Unta merah adalah jenis unta terbaik. 


Rombongan yang lain merasa keheranan, keledai yang tadinya lemah dan jalannya sangat lambam, kini justru melaju cepat mengalahkan kendaraan terbaik mereka. Ada sesuatu pada keledai itu. Pikir mereka. 


​​​​​​​Sesampainya di kampung, keanehan pun belum selesai dialami keluarga Halimah. Kondisi kampung yang sedang paceklik membuat susah mencari rumput dan hewan ternak mereka kurus serta tidak mengeluarkan susu untuk diperah. Namun tidak dengan kambing milik Halimah. Kambing miliknya mengeluarkan susu yang begitu banyak sehingga bisa diperah berkali-kali. 


Melihat keganjilan itu, orang-orang kampung berinisiatif untuk mengikutkan kambing-kambing mereka ke mana pun kambing Halimah digembalakan. Tapi tetap saja, kambing-kambinng mereka kurus dan tak mengeluarkan air susu. Sementara kambing Halimah terus berisi susunya dan bisa diperah berkali-kali untuk diminum.


Dua tahun berlalu, Muhammad tumbuh menjadi anak yang sehat dan kuat. Bahkan tidak seperti anak pada umumnya. Sebelumnya sudah kesepakatan bahwa Muhammad kecil hanya dua tahun saja disusui Halimah. Sudah saatnya Muhammad kembali ke pangkuan ibunda, Siti Aminah. Selama dua tahun, Halimah merasakan betul keberkahan Muhammad kecil. 


​​​​​​​Halimah pun menemui ibu Rasulullah saw. Tapi ia tidak bermaksud mengembalikannya ke pangkuan ibunda. Halimah justru menawar dan membujuk Aminah agar Muhammad tetap dirawatnya hingga ia besar.
 

“Saya berharap engkau berkenan jika anak ini aku rawat sampai besar. Sebab, aku khawatir dia akan terserang penyakit menular yang biasa menjangkiti kota Makkah,” bujuk Halimah. Halimah terus memelas di hadapan Aminah. Usaha Halimah berhasil dan Muhammad ia bawa kembali untuk dirawatnya.
 

Hikmah dan Pelajaran
1. Kebaikan akan dibalas dengan kabaikan
Saat perempuan-perempuan tidak ada yang melirik Nabi Muhammad kecil untuk menyusuinya karena anak yatim, Halimah dengan niat menolong dia membawa Rasul bayi untuk disusuinya. Ia tidak berpikir akan dibayar berapa, yang penting dia membawa hasil. Usahanya dalam merawat bayi dengan mengasuhnya dengan sepenuh hati. Atas kebaikannya tersebut, Halimah pun dibalas dengan kebaikan pula. Bahkan lebih dari itu. Kondisi perekonomiannya jauh lebih baik daripada orang-orang Kabilah Sa’ad.  


2.   Jangan Putus Asa 

Ketika semua perempuan Kabilah Sa’ad sudah mendapat bayi untuk disusui dan sepakat untuk kembali ke desa, Halimah belum juga mendapat seorang bayi. Namun Halimah tidak menyerah begitu saja, ia tetap mencari bayi untuk dibawanya dan didapatilah Rasulullah kecil. Kegigihannya membuahkan hasil. Kehidupan keluarganya sejahtera. Coba, andai saja Halimah memutuskan untuk pulang bersama perempuan yang lain tanpa membawa bayi (Rasulullah saw), mungkin kondisi keluarganya tidak akan berubah. 


3.    Persiapan Sang Rasul 
Keajaiban yang menimpa Halimah ini adalah skenario Allah Swt. Ia menakdirkan masa kecil Rasulullah saw untuk hidup di lingkungan perdesaan agar jauh dari kebisingan kota. Rasulullah saw akan menjadi seorang nabi yang mendakwahkan ajaran Islam. Oleh karena itu, ia harus memiliki pikiran yang bersih, hati yang teduh dan budi pekerti yang baik. Secara geografis, kehidupan di desa lebih tenang, tidak terganggu oleh kebisikan kota. Hal ini sangat mendukung untuk membentuk karakter unggul seorang Rasulullah saw.
 


Hikmah Terbaru