Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Guru Sejati, Siapakah?

Guru Sejati, Siapakah?
(Ilustrasi: NUO).
(Ilustrasi: NUO).

Oleh: KH Husein Muhammad
Entah sejak kapan negeri ini tiba-tiba banyak guru agama atau sering disebut ustad/ustazah yang berusia muda. Mereka hadir  di banyak tempat dan  ruang sosial. Mereka tampil dengan aksesori dan performa bak seorang alim sejati dan berpidato bak orator ulung. Sebagian bergamis bersorban. Retorikanya amat menarik publik awam. Mereka juga menyajikan lelucon bagai pelawak yang membuat penontonnya/pendengarnya tertawa tergelak gelak, terhibur. Tetapi tidak jarang pula di antara mereka mencaci maki sekelompok sebuah komunitas yang dianggapnya sesat atau kafir.

 

Publik tak peduli dari siapa dan dari mana para pendakwah itu belajar agama. Publik juga tak paham sudah berapa lama mereka belajar agama. Buku atau kitab apa saja yang mereka baca. Semua latar belakang pendidikan mereka tersebut tak dianggap penting. Ustad betulan atau gadungan juga tak penting. Yang penting adalah dengan menghadiri ceramah para ustad itu keruwetan hidup atau stress hilang dan bisa tertawa-tawa. 

 

Publik juga tak jadi soal bila ayat Al-Qur'an yang ditulisnya atau dibacanya salah  dan kacau balau. Banyak orang yang terpikat lalu memuji mereka seraya menganggap mereka guru paling hebat, pintar, alim dan tak tertandingi. 

 

Fenomena model pendakwah seperti itu sesungguhnya selalu ada di segala zaman dan tempat di dunia. Syams Tabrizi, sang Darwish pengelana, guru spiritual Maulana Rumi, menemukan para guru dan ustaz semacam itu pada masanya. Ia lalu memberikan komentar atas fenomena itu sekaligus mengingatkan :

 

يوجد معلمون وأساتذة مزيفون في هذا العالم أكثر عددا من النجوم في الكون المرئي. فلا تخلط بين الأشخاص الأنانيين الذين يعملون بدافع السلطة وبين المعلمين الحقيقيين. فالمعلم الروحي الصادق لا يوجه انتباهك إليه ولا يتوقع طاعة مطلقة أو إعجابا تاما منك، بل يساعدك على أن تقدر نفسك الداخلية وتحترمها. إن المعلمين الحقيقيين شفافون كالبلور، يعبر نور الله من خلالهم. 

 

Para guru dan ustaz gadungan/palsu yang ada di dunia ini jauh lebih banyak daripada bintang yang tampak di alam semesta. Tapi anda Jangan keliru untuk tahu siapa saja para ustaz yang haus kekuasaan dan egois, dan siapa saja para guru sejati. Seorang guru spiritual sejati tak akan memintamu untuk patuh total kepada dirinya dan memujanya. Tetapi, ia akan membantumu untuk menemukan dan memuliakan dirimu sendiri. Para guru sejati bagai cermin bening yang menangkap cahaya Tuhan lalu memancarkannya. 

 

Para guru sejati dalam pandangan para guru sejati dan bijakbestari hadir untuk membagi cahaya pengetahuan kemanusiaan, bukan menghancurkannya dan membodohi orang lain. Mereka hadir untuk kebahagiaan orang lain, bukan untuk kesenangan diri sendiri. Mereka bagai lilin yang menyala yang cahayanya menyebar sementara dirinya rela jika terbakar (berkorban). Mereka rela menanggung luka demi cinta. Atau bagai pohon rindang dengan buah yang lebat. Mereka menaungi sekaligus memberi. 
 

Sayyid Abdullah al Haddad menulis tentang siapakah ulama, antara lain :

 

فمن علامات العالم : ان يكون خاشعا متواضعا خاءفا مشفقا من خشية الله زاهدا فى الدنيا قانعا باليسير منها ناصحاً لعباد الله. رحيما بهم أمرا بالمعروف ناهيا عن المنكر.. ووقار واسع الصدر لا متكبرا ولا طامعا فى الناس ولا حريصا على الدنيا

 

Tanda/ciri orang Alim (ulama) antara lain : pembawaannya khusyu (tenang), rendah hati, selalu merasa takut kepada Allah, bersahaja, "nrimo", selalu mengajak kepada kebaikan, menyayangi mereka dan menghindari keburukan/maksiat, hatinya lembut, lapang dada, tidak sombong, tidak berharap pada pemberian orang, tidak ambisi hal-hal duniawi dan lain-lain.

 

Sumber: FB Husein Muhammad
 

Terkait

Hikmah Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×