Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Berjalan di Tempat

Berjalan di Tempat
Ilustrasi: NUO
Ilustrasi: NUO

Syeikh Syamsi Tabrizi tampak resah mendengar dan menyaksikan sebuah perdebatan dalam isu-isu keagamaan. Ia terusik dan tak tahan ingin sekali ikut bicara. Ia berdiri dan minta bicara. Lalu dia mengatakan : 


الى ما تمضون اوقاتكم فى النقل عن فلان وفلان. اليس لديكم شيء جديد تقولونه؟. ومتى سيقول أحدكم : قلبى نقل عن الهى كذا وكذا. بدلا من أن تستعيدوا كلاما مكررا مسموعا ومعروفا؟ (شمس التبريزي).


"Sampai kapan kalian menghabiskan waktu-waktu kalian dengan mengutip kata si anu dan si anu?. Apakah tidak ada sesuatu yang baru yang kalian sampaikan?. Kapan ada orang yang mengatakan : "hatiku menerima dari Tuhanku begini dan begini, daripada mengulang-ulang kata-kata orang, atau menerima begitu saja pernyataan-pernyataan yang didengar dan yang sudah dikenal?". (Syarh Qawa'id al-Isyq al-Arbaun/Empat puluh Kaedah Cinta). 


Guru Maulana Jalaluddin Rumi dan sufi "nyentrik" ini tampaknya sedang mengkritik pengetahuan eksoteris, pandangan dan metode Bahtsul Masail bernuansa konservatif dan tekstualistik itu dan belum beranjak ke pemecahan substantif, filosofis, esoteris/sufistik dan kontekstual.


Kritik Syams yang tajam itu mengundang kontroversi bahkan kemarahan para ulama eksoteris. Tetapi ia tak peduli. Ia terus melangkah, mengkritik dan mengubah agar tak tertinggal. 


Realitas yang dilihat Syeikh Tabrizi itu tampaknya masih menjadi model yang populer dan menarik sampai hari ini.


KH Husein Muhammad, salah seorang Mustasyar PBNU

Terkait

Hikmah Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×