Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Bagaimana Memahami Al-Quran?

Bagaimana Memahami Al-Quran?
(Ilustrasi: NUO)
(Ilustrasi: NUO)

Ada seseorang, sebut saja A, bilang kepada temannya yang senang berdiskusi : "kita tidak usah berdiskusi dan berdebat begini atau begitu. Kembali saja kepada Al Qur'an dan Hadits Nabi". 


Teman itu, panggil saja B, bertanya : Apa makna ayat Al Qur'an ini : "Udkhulu fissilmi kaaffah". 


A menjawab: "masuklah kalian ke dalam agama Islam secara menyeluruh". B mengatakan "Bagaimana dan dari mana anda tahu bahwa kata "assilmi" berarti Islam?. Kalau aku sih memaknainya : "masuklah kalian ke dalam proses perdamaian secara total/sepenuhnya"?. 


Lalu bagaimanakah yang dimaksud "menyeluruh" itu?. 


A tampak menunjukkan ekspresi tercengang dan seperti mikir, sesekali menunduk, meski kemudian menolaknya dengan kata-kata yang tak simpatik. 


B kemudian menyampaikan pandangannya :


"Memaknai teks keagamaan terutama Al Qur'an dan Hadits secara harfiah, literal, tanpa memahami makna genuin sebuah kata, kalimat (rangkaian kata), gramatika, sastra, gaya bahasa, tanpa memahami faktor yang melatarbelakangi lahirnya teks itu, tanpa memahami rasio legisnya (mengapa demikian pernyataannya) serta tanpa memahami konteks sosial-budaya-politik nya saat teks itu dihadirkan atau disampaikan, berpotensi gagal membuat keputusan yang sesuai dengan cita-cita agama atau ide kemanusiaan. Bisa menimbulkan kontradiksi antar ayat atau ayat dan hadits, dan seterusnya.


Mengapa para ulama tafsir, para ahli fiqh dan ahli hadits berbeda-beda pendapatnya, meski merujuk pada sumber keagamaan yang sama?. Uraiannya bisa sangat panjang. 


Aku diam saja, sambil menaruh kekaguman pada kedalaman pengetahuan teman B ini. 


Mendengar ini lagi-lagi melintas di pikiranku kata-kata Imam Abu Hamid al-Ghazali, sang Hujjah Al Islam, argumentator Islam :


فاعلم ان من زعم ان لا معنى للقرآن الا ما ترجمه ظاهر التفسير فهو مخبر عن حد نفسه وهو مصيب فى الاخبار عن نفسه ولكنه مخطئ فى الحكم برد الخلق كافة الى درجته التى هى حده ومحطه بل الاخبار والاثار تدل على ان فى معانى القرآن متسعا لارباب الفهم. ...


"Ketahuilah bahwa orang yang menganggap bahwa al-Qur'an hanya memiliki makna lahirah (literal, tekstual), sesungguhnya dia tengah mengabarkan tentang keterbatasan pengetahuan dirinya sendiri. Dia benar untuk dirinya sendiri. Akan tetapi dia melakukan kekeliruan manakala dia memaksakan semua orang agar mengikuti pandangannya yang terbatas itu..."Banyak sekali hadits dan pandangan para sahabat Nabi yang menunjukkan bahwa makna al-Qur'an sangatlah luas bagi para pemilik pengetahuan yang dalam". (Lihat, Ihya Ulum al-Din, I/289). 


Seorang ulama besar dan bijakbestari Syeikh Abd Allah Al Tustari mengatakan :


قال سهل بن عبد الله التستري : " لو أعطي العبد بكل حرف من القرآن ألف فهم لم يبلغ نهاية ما أودع الله في آية من كتابه لأنه كلام الله وكلامه صفته وكما أنه ليس لله نهاية فكذلك لا نهاية لفهم كلامه .. وإنما يفهم كل بمقدار ما يفتح الله على قلبه


"Andaikata seorang hamba Allah diberikan pengetahuan untuk satu huruf Al Qur'an seribu makna, maka dia belum sampai mencapai seluruh pengetahuan yang dikehendaki Allah. Karena ia adalah Kalam Allah (kata-kata Allah). Kata-katanya adalah sifat Allah. Oleh karena Allah Maha Tak Terbatas, maka pemahaman atasnya juga tak terbatas. Masing-masing orang memahami sekedar apa yang dianugerahkan Allah kepadanya".


KH Husein Muhammad, salah seorang Mustasyar PBNU

Terkait

Hikmah Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×