Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Hadiri Haul Tokoh Al-Huda, KH Ahmad Jelaskan Lima Sikap yang Harus Dimiliki Setiap Alumni Pesantren

Hadiri Haul Tokoh Al-Huda, KH Ahmad Jelaskan Lima Sikap yang Harus Dimiliki Setiap Alumni Pesantren
Hadiri Haul Tokoh Al-Huda, KH Ahmad Jelaskan Lima Sikap yang Harus Dimiliki Setiap Alumni Pesantren. (Foto: Rudi Sirojudin Abas).
Hadiri Haul Tokoh Al-Huda, KH Ahmad Jelaskan Lima Sikap yang Harus Dimiliki Setiap Alumni Pesantren. (Foto: Rudi Sirojudin Abas).

Garut, NU Jabar Online
Setiap pondok pesantren tentu memiliki keinginan agar setiap santrinya dapat memanfaatkan ilmu yang telah didapatnya selama mereka berada di pesantren. Hal ini menunjukkan, bahwa kehadiran pesantren tentu tidak hanya sebagai lembaga yang bersifat individual saja, melainkan juga sebagai lembaga yang bersifat sosial yakni sebagai lembaga yang mampu memberikan sumbangsih nyata dalam persoalan-persoalan keagamaan di masyarakat.


Oleh karena itu, kebesaran setiap pesantren dapat ditentukan dengan sejauh mana peran dan fungsi pesantren tersebut dapat bermanfaat bagi kehidupan masyarakat secara luas.


Seperti yang diungkapkan oleh KH Ahmad saat ia menghadiri haul ke-13 tokoh Al-Huda KH Ulumuddin Bannany dan peringatan 40 hari wafatnya Ketua KBIH Al-Huda KH Irfan Hadian Bannany, di Ponpes Al-Huda, Kecamatan Tarongong-Garut, Ahad (17/7) lalu.


Kiai yang juga sebagai penyuluh harian agama di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Tarogong Kaler-Garut itu mengungkapkan lima sikap yang harus dimiliki setiap alumni atau santri terhadap ponpes yang menjadi tempat menimba ilmunya. Menurutnya, meskipun setiap santri yang kemudian menjadi tokoh masyarakat atau pengelola pendidikan pesantren di lingkungannya masing-masing, namun tetap berkewajiban untuk memuliakan dan membesarkan ponpes tersebut.


“Jika para santri atau alumni ingin sukses dan berkah, maka harus mempunyai 5 sikap atau konsep pengabdian. Konsep pertama yaitu rendah hati. Kalau dianalogikan mirip kaidah bil jar dalam ilmu alat yakni rendah atau di bawah. Kaidah tersebut sebagai simbol dari rendah hati. Tidak melupakan ponpes tempat di mana seseorang itu menimba ilmu, meskipun ponpes baru yang dikelola para santri itu telah memiliki banyak santri  melebihi jumlah santri di tempat ia mondok dulu ” ucapnya.


Kiai Ahmad mengutip salah satu hadits Nabi Muhammad SAW:


وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ


Kiai yang juga pernah menjabat sebagai ketua MWCNU Tarogong Kaler tersebut juga menuturkan, jika santri atau alumni ingin mendapatkan kemuliaan hidup, maka bersikap rendah hatilah kepada orang tua atau guru di pesantren tempat ia menimba ilmu itu. Menurutnya, bagi santri atau alumni yang memiliki sikap tersebut insya Allah akan terangkat derajat dan kedudukan hidupnya, baik itu di dunia maupun di akhirat. 


“Barangsiapa yang mempunyai sifat rendah hati, maka Allah SWT akan mengangkat derajat manusia itu di dunia maupun di akhirat. Orang yang memiliki sifat tawadhu apabila diilustrasikan ibarat sebuah bola dalam sebuah kolam. Meskipun bola tersebut ditenggelamkan terus menerus ke dalam air maka tetap akan mengampul ke atas. Itulah mulianya seseorang yang mempunyai sifat rendah hati,” tuturnya.


Sikap kedua yang harus dimiliki oleh setiap santri ataupun alumni pondok pesantren sambung kiai lulusan ponpes Al-Huda tahun 1982 itu adalah niat tulus ketika mondok di pesantren. Menurutnya, niat mondok itu harus diniatkan semata-mata hanya untuk mencapai ridha Allah SWT, bukan diniatkan untuk menjadi orang yang hebat dalam ilmu agama.


“Syariat dan hakikat dalam menimba ilmu itu adalah niat yang tulus untuk menggapai ridha Allah  SWT. Salahsatunya yang harus dilakukan adalah menerapkan konsep thariqotul wushul dalam semua kegiatan yang semata-mata tertuju kepada Allah SWT, paparnya.


Sementara sikap ketiga sebagai bagian dalam memuliakan sebuah pesantren yaitu dengan mendoakan kemajuan pesantren setiap saat.


“Salah satu cara agar pesantren tempat kita mondok berkembang yakni dengan selalu mendoakan agar pesantren tersebut terus maju, bertahan, dan berkembang. Menjadi satu kesalahan jika kita hanya berdoa untuk kepentingan dan kemajuan pesantren atau lembaga pendidikan kita sendiri, tanpa menghiraukan pondok pesantren tempat di mana kita menimba ilmu dahulu” ucapnya. 


Kiai yang membina madrasah dan majelis taklim Nurul Huda Cikondang Tanjung Kamuning, Kecamatan Tarogong Kaler itupun menuturkan, cara keempat untuk membesarkan pesantren tempat santri menimba ilmu yaitu mahabbah, mencintai dengan sepenuh hati kepada para guru dan kepada dzuriat-dzuriatnya.


Sikap kelima adalah melakukan kerja nyata untuk memuliakan dan membesarkan demi kemajuan pesantren tempat para santri mondok.


“Salahsatu cara yang dapat dilakukan oleh para alumni  sebagai bagian dalam memuliakan dan membesarkan pesantren tempatnya mondok yaitu dengan cara menginformasikan, mengkomunikasikan kegiatan-kegiatan pesantren ke masyarakat secara luas. Dan yang paling penting juga, mengajak para calon-calon santri di tempat masing-masing untuk mondok ke pesantren” pungkasnya.


Perlu diketahui, pondok pessantren Al-Huda merupakan salah satu ponpes tertua dan terkemuka di Kabupaten Garut yang dalam kurun waktu di tahun 2009-an ke belakang menjadi rujukan banyak orangtua untuk memondokkan para putera-puterinya.


Pewarta: Rudi Sirojudin Abas
Editor: Muhammad Rizqy Fauzi

Terkait

Garut Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×