Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Jangan Sepelekan Shalat Sunnah Rawatib

Jangan Sepelekan Shalat Sunnah Rawatib
Shalat sunat rawatib (Foto: NU Online)
Shalat sunat rawatib (Foto: NU Online)

Indramayu, NU Online Jabar

Shalat sunnah rawatib berfungsi sebagai penyempurna jika terjadi kekurangan dalam shalat fardu seseorang, karena dalam shalat fardu kita seringkali melakukan banyak kesalahan, apalagi jika dikaitkan dengan kekhusyuan, maka sangat susah untuk mencapainya. Oleh karenanya jangan sepelekan shalat sunnah rawatib karena hal itu untuk menambal apa yang kurang dan sekaligus bernilai pahala yang tinggi,” demikian dikatakan KH Syaerozi HS dalam Pengajian Kitab Fathul Mu'in karya Syekh Zainudin al Malibary yang digelar rutin setiap hari Jum'at pukul 13.00-16.00 WIB di Kantor MWCNU Krangkeng, Indramayu.

Pada pengajian rutin, Jumat (18/09), KH Syaerozi HS membahas Bab Shalat Sunnah. Menurutnya, secara etimologis al naflu (sunnah) bermakna tambahan (al ziyadah). Sedangkan secara terminologi syara’, al naflu (sunnah) berarti mendapat pahala jika dikerjakan, dan tidak masalah (tidak mendapat ancaman sangsi hukuman) jika ditinggalkan. term al naflu juga biasa disampaikan (ditulis) dengan term tathawu’, sunnah, mustahab dan mandub.

“Adapun shalat rawatib dalam sehari berjumlah 20 rakaat sebagaimana disebutkan oleh Syekh Zainuddin Al-Malibary dalam kitab Fathul Muin ini:

 يسن للأخبار الصحيحة الثابتة في السنن أربع ركعات قبل عصر وأربع قبل ظهر وأربع بعده وركعتان بعد مغرب وندب وصلهما بالفرض ولا يفوت فضيلة الوصل بإتيانه قبلهما الذكر المأثور بعد المكتوبة وبعد عشاء ركعتان خفيفتان وقبلهما إن لم يشتغل بهما عن إجابة المؤذن فإن كان بين الأذان والإقامة ما يسعهما فعلهما وإلا أخرهما وركعتان قبل صبح Artinya, 

Disunnahkan shalat sunah 4 rakaat sebelum shalat ashar, 4 rakaat sebelum dzuhur dan setelahnya, 2 rakaat setelah maghrib dan disunahkan menyambung 2 rakaat ba’diyah maghrib dengan shalat fardhu, dan tidak hilang keutamaan menyambung 2 rakaat ba’diyah maghrib sebab melakukan zikir ma’tsur setelah shalat fardhu, kemudian setelah isya 2 rakaat yang ringan, begitu juga 2 rakaat sebelum shalat isya jika tidak sibuk menjawab azan. Apabila di antara azan dan iqamat ada waktu luang untuk mengerjakan 2 rakaat sebelum isya, maka dapat dikerjakan. Jika tidak, maka diakhirkan (setelah shalat isya), dan dua rakaat setelah subuh,” ungkap KH Syaerozi HS dalam pengajian yang dihadiri seluruh pengurus MWCNU Krangkeng, perwakilan pengurus Ranting NU dari beberapa desa dan para jamaah. 

KH Syaerozi HS menambahkan, menurut Syekh Zainuddin Al-Malibary, diantara shalat itu ada yang disebut dengan sunnah muakkad yaitu 2 rakaat sebelum subuh, 2 rakaat sebelum dzuhur, 2 rakaat setelah dzuhur, 2 rakaat setelah maghrib dan 2 rakaat setelah isya. Amalan sunah muakkad sangat penting sebagaimana dalam ilmu ushul fiqih :

 وهو الذي يكون فعله مكملا ومتمما للواجبات الدينية كالأذان والإقامة والصلاة المفروضة في جماعة 

Artinya, “Yaitu adalah Sunnah yang dilakukan untuk melengkapi dan menyempurnakan kewajiban agama seperti azan, iqamat, dan shalat fardhu berjamaah.” 

“Mengingat sedemikian pentingnya shalat sunnah rawatib terutama yang muakkad, maka sekali lagi saya berharap agar kita semua tidak menyepelekan shalat tersebut. mari kita istiqamahkan untuk senantiasa melaksanakannya, karena faedahnya sangat besar, dan tentunya dengan semakin memperbanyak amalan sunnah maka diharapkan kita akan semakin dekat kepada Allah, kita juga harus terus meningkatkan nilai ibadah kita, bukan hanya semata-mata mengejar pahala tetapi untuk mencapai ridho Allah dan kita mengerjakan amalan sunnah tersebut semata-mata karena rasa rindu dan cinta kita kepada Allah SWT,” beber KH Syaerozi HS.

Sementara Rais Syuriyah MWCNU Krangkeng, KH Badruddin Yuha berharap agar kegiatan ngaji rutin setiap Jum’at terus dijaga dan ditingkatkan, karena disamping memperdalam pemahaman keilmuan, juga sebagai ajang silaturrahim sesama warga dan pengurus NU serta tabarrukan dengan ulama salafusholihin.

“Jangan pernah puas dalam menuntut ilmu meskipun usia kita tidak muda lagi, kita harus terus mengaji dan mengaji, maka kegiatan ngaji rutin Kitab Fathul Mu’in ini sengaja kami gelar untuk terus memberikan kesempatan kepada kita semua menyempatkan diri mengaji di tengah kesibukan kita sehar-hari,” tutup KH Badrudin Yuha

Pewarta: Amin Hidayat
Editor: Iing Rohimin

Terkait

Daerah Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×