• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Selasa, 16 April 2024

Ubudiyah

KOLOM BUYA HUSEIN

Bagaimana Memahami Al-Qur'an

Bagaimana Memahami Al-Qur'an
Bagaimana Memahami Al-Qur'an
Bagaimana Memahami Al-Qur'an

Memahami Al-Qur'an itu tidak sederhana. Imam al-Ghazali, sang argumentator, dalam karya magnum opusnya: "Ihya Ulum al-Din" menulis dengan indah :


فاعلم أن من زعم أن لا معنى للقرآن إلا ما ترجمه ظاهر التفسير فهو مخبر عن حد نفسه وهو مصيب في الإخبار عن نفسه، ولكنه مخطىء في الحكم برد الخلق كافة إلى درجته التي هي حده ومحطه بل الأخبار والآثار تدل على أن في معاني القرآن متسعاً لأرباب الفهم ... وقال ﷺ "إن للقرآن ظهراً وبطناً وحداً ومطلعاً"


"Ketahuilah, bahwa orang yang berpendapat : Al-Qur'an tak punya makna kecuali makna literal, maka dia sedang memberitahu tentang keterbatasan pengetahuan dirinya. Pemberitahuan itu benar tentang/bagi dirinya. Tetapi dia keliru dalam keputusannya yang mengharuskan semua orang meyakini seperti dirinya yang adalah terbatas dan akhir pemahaman. Banyak informasi dari nabi dan para sahabatnya yang menyatakan bahwa makna Al-Quran itu maha luas dalam pandangan orang- orang yang memiliki pengetahuan yang mendalam. Sahabat Ali bin Abi Thalib mengatakan: Rasulullah saw bersabda : "Al-Quran mempunyai makna lahir (literal), batin (rasio legis), had (tujuan akhir/maqashid),  dan mathla' (cahaya Tuhan) ".


Lalu apa dan siapa yang dimaksud empat lapis makna itu?. 


Syeikh Syams Tabrizi menyampaikan kepada Maulana Rumi kaidah ke 3 dalam buku 40 Kaidah Cinta : 


كل قارئ للقرآن الكريم يفهمه بمستوى مختلف بحسب
عمق فهمه. وهناك أربعة مستويات من البصيرة: يتمثل المستوى
الأول في المعنى الخارجي, وهو المعنى الذي يقتنع به معظم
الناس, ثم يأتي المستوى الباطني. وفي المستوى الثالث, يأتي
باطن الباطن, أما المستوى الرابع فهو العمق ولا يمكن الإعراب
عنه بالكلمات, لذلك يتعذر وصفه


"Setiap pembaca al Qur-an memahami ayat-ayatnya berbeda-beda sesuai dengan pengetahuannya. Di dalam hal ini ada empat tingkatan. Tingkatan pertama memahaminya secara literal (makna luar). Ini adalah pemahaman mayoritas manusia. Tingkat kedua memahaminya menurut makna yang ada di dalamnya. Tingkat ketiga memahami makna yang ada di dalam yang di dalam. Tingkatan ke empat adalah makna yang tersembunyi di ruang paling dalam yang tidak mungkin diungkapkan dengan kata-kata." 


Kemudian siapakah yang berada di empat lapis posisi itu?. 


العلماء الذين فى الشريعة يعرفون المعنى الظاهرى. والصوفيون يعرفون المعنى الباطنى والاولياء يعرفون باطن الباطن. اما المستوى الرابع فلا يعرفه الا الانبياء والمقربون من الله. (قواعد العشق الاربعون. ص ٧٩) 


"Para ulama Syari'at (ahli hukum) memahaminya secara literal. Ulama sufi memahami makna batin (yang di dalam). Para kekasih Allah (para waliyullah) memahami makna batin dari makna batin. Tingkatan ke empat hanya dipahami oleh para Nabi dan makhluk yang dekat Allah". (Qawa'id al 'Isyq al Arba'un, hlm. 79).


Komentarku : 


Sesudah membaca pandangan di atas aku acap mengatakan kepada para santri begini : Jika ada sebuah pernyataan sebuah teks, maka janganlah berhenti pada pernyataan literal itu (makna lahir? (makna zhahir, lapis ke 1). Tetapi bertanyalah : "mengapa begitu?. (Makna batin, makna ke 2 ). Lalu bertanya lagi : untuk apa begitu" (Makna tujuan, makna ke 3), dan akhirnya : Wallahu A'lam bi Muradihi (makna ke 4). 


Semoga saja. 


KH Husein Muhammad, salah seorang Mustasyar PBNU


Ubudiyah Terbaru