Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Bagaimana Hukum Menggabungkan Qadha Puasa Ramadhan dengan Puasa Arafah?

Bagaimana Hukum Menggabungkan Qadha Puasa Ramadhan dengan Puasa Arafah?
Bagaimana Hukum Menggabungkan Qadha Puasa Ramadhan dengan Puasa Arafah. (Ilustrasi/frrepik)
Bagaimana Hukum Menggabungkan Qadha Puasa Ramadhan dengan Puasa Arafah. (Ilustrasi/frrepik)

Bandung, NU Online Jabar 
Dalam sebuah hadits diriwayatkan bahwasanya berpuasa di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah akan dilipatgandakan pahalanya bahkan setara dengan berpuasa sunnah selama satu tahun, termasuk dengan puasa tarwiyah dan arafah di dalamnya. 

 

مَا مِنْ أَيَّامٍ أَحَبَّ إِلَى اللّٰهِ أَنْ يُتَعَبَّدَ لَهُ فِيْهَا مِنْ عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ يَعْدِلُ صِيَامُ كُلِّ يَوْمٍ مِنْهَا بِصِيَامِ سَنَةٍ وَقِيَامُ كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْهَا بِقِيَامِ لَيْلَةِ الْقَدْرِ    

 

Artinya: “Tidak ada hari-hari yang lebih Allah sukai untuk beribadah selain sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, satu hari berpuasa di dalamnya setara dengan satu tahun berpuasa, satu malam mendirikan shalat malam setara dengan shalat pada malam Lailatul Qadar” (HR At-Trmidzi). 

 

Oleh karena itu, tak heran jika banyak umat Muslim berbondong-bondong ingin melakukan puasa sunnah di bulan yang mulia ini. Namun, bagaimana dengan mereka yang masih mempunyai hutang puasa Ramadhan kemarin, kemudian ingin mengqadha dan menggabungkannya dengan puasa arafah? Apakah puasa yang dilakukannya tersebut tetap sah? 

 

Dilansir NU Online Jatim dalam artikel yang berjudul Hukum Gabungkan Puasa Tarwiyah dan Arafah dengan Qadha Ramadhan, qadha puasa yang dilakukannya tetap sah. Ia juga tetap mendapat keutamaan yang didapat oleh mereka yang berpuasa dengan niat puasa sunnah arafah. Keterangan ini disampaikan Syekh Zakaria Al-Anshari dalam kitabnya Asnal Mathalib, juz V, halaman: 388 sebagaimana berikut: 

 

  قَوْلُهُ وَصَوْمُ عَاشُورَاءَ) أَفْتَى الْبَارِزِيُّ بِأَنَّ مَنْ صَامَ عَاشُورَاءَ مَثَلًا عَنْ قَضَاءٍ أَوْ نَذْرٍ حَصَلَ لَهُ ثَوَابُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ وَوَافَقَهُ الْأَصْفُونِيُّ وَالْفَقِيهُ عَبْدُ اللَّهِ النَّاشِرِيُّ وَالْفَقِيهُ عَلِيُّ بْنُ إبْرَاهِيمَ بْنِ صَالِحٍ الْحَضْرَمِيُّ وَهُوَ الْمُعْتَمَدُ (قَوْلُهُ صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ اُحْتُسِبَ عَلَى اللَّهِ إلَخْ) الْحِكْمَةُ فِي كَوْنِ صَوْمِ عَرَفَةَ بِسَنَتَيْنِ وَعَاشُورَاءَ بِسَنَةٍ أَنَّ عَرَفَةَ يَوْمٌ مُحَمَّدِيٌّ يَعْنِي أَنَّ صَوْمَهُ مُخْتَصٌّ بِأُمَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَاشُورَاءَ يَوْمٌ مُوسَوِيٌّ 

 

Artinya: (Puasa Asyura). Al-Barizi berfatwa bahwa orang yang berpuasa pada hari Asyura misalnya untuk qadha atau nazar puasa, maka ia juga mendapat pahala puasa sunnah hari Asyura. Pandangan ini disepakati oleh Al-Ushfuwani, Al-Faqih Abdullah An-Nasyiri, Al-Faqih Ali bin Ibrahim bin Shalih Al-Hadhrami. Ini pandangan yang muktamad. (Puasa hari Asyura dihitung oleh Allah) 

 

Hikmah di balik ganjaran penghapusan dosa dua tahun untuk puasa sunnah Arafah dan penghapusan dosa setahun untuk puasa Asyura adalah karena Arafah adalah harinya umat Nabi Muhammad SAW, yakni puasa sunnah Arafah bersifat khusus untuk umat Nabi Muhammad SAW. Sementara Asyura adalah harinya umat Nabi Musa AS. (Lihat: Syekh Zakariya Al-Anshari, Asnal Mathalib, juz V, halaman: 388). 

 

Orang-orang yang berpuasa di hari-hari tertentu yang sangat dianjurkan untuk berpuasa akan mendapatkan keutamaan sebagaimana mereka yang berpuasa sunnah pada hari tersebut, meskipun niatnya adalah qadha puasa atau puasa nazar. Sebagaimana keterangan Sayyid Bakri dalam kitab I’anatut Thalibin. 

 

 وفي الكردي ما نصه في الأسنى ونحوه الخطيب الشربيني والجمال و الرملي الصوم في الأيام المتأكد صومها منصرف إليها بل لو نوى به غيرها حصلت إلخ زاد في الإيعاب ومن ثم أفتى البارزي بأنه لو صام فيه قضاء أو نحوه حصلا نواه معه أو لا 

 

Artinya: Di dalam Al-Kurdi terdapat nash yang tertulis pada Asnal Mathalib dan sejenisnya yaitu Al-Khatib as-Syarbini, Syekh Sulaiman al-Jamal, Syekh ar-Ramli bahwa puasa sunah pada hari-hari yang sangat dianjurkan untuk puasa memang dimaksudkan untuk hari-hari tersebut. Tetapi orang yang berpuasa dengan niat lain pada hari-hari tersebut, maka dapatlah baginya keutamaan… Ia menambahkan dalam kitab Al-I‘ab. Dari sana, Al-Barizi berfatwa bahwa seandainya seseorang berpuasa pada hari tersebut dengan niat qadha atau sejenisnya, maka dapatlah keduanya, baik ia meniatkan keduanya atau tidak. (Lihat: Sayyid Bakri bin Sayyid Muhammad Syatha ad-Dimyathi, I‘anatut Thalibin, [Kota Baharu-Penang-Singapura, Sulaiman Mar‘i: tanpa catatan tahun], juz II, halaman: 224). 

 

Namun demikian, disarankan untuk mereka yang masih memiliki hutang puasa Ramadhan untuk sebaiknya mengqadha utang puasanya terlebih dahulu. Setelah itu mereka boleh mengamalkan puasa sunnah arafah. Tetapi kalau utang puasa Ramadhan itu baru teringat jelang hari Arafah, sebaiknya ia membayar qadha puasanya di hari Arafah.

 

Pewarta: Agung Gumelar

Syariah Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×