• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Jumat, 19 April 2024

Opini

Bulan Gus Dur

Mengenang Gus Dur

Mengenang Gus Dur
KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. (Ilustrasi: NUO).
KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. (Ilustrasi: NUO).

Oleh: Rudi Sirojudin Abas
Membicarakan KH. Abdurrahman Wahid  (Gus Dur), rasanya tak akan kehabisan kata-kata. Dilihat dari berbagai perspektif, ia tergolong sebagai sosok pribadi yang boleh dibilang sangat lengkap. Dalam dunia perpolitikan, ia tercatat sebagai politisi yang unggul. Capaian terbaiknya adalah ketika menjadi Presiden Republik Indonesia yang ke-4 (1999-2001), meskipun tak habis masa jabatannya.

 

Kala itu di tahun 1999, berbekal kemampuan intelektualnya yang tinggi, Gus Dur mampu mengalahkan para pesaing politiknya untuk menjadi orang nomor satu di Indonesia. Tanpa lobi-lobi sebagaimana halnya para politisi, tanpa didukung cost politik yang memadai, bahkan tanpa mengeluarkan uang sepeser pun, ia dengan mudah dapat melenggang menjadi presiden Indonesia yang ke-4.

 

Mengamati perjalanan Gus Dur menjadi presiden sebagaimana disebutkan di atas, kemudian banyak orang bilang, Gus Dur menjadi presiden hanya bermodalkan ‘dengkul’. Sehingga dengan demikian, fenomena Gus Dur menjadi presiden, rasanya akan sulit dialami oleh siapa pun yang akan atau ingin menjadi seorang presiden di Indonesia. Mungkin, hanya Gus Dur lah orang satu-satunya di Indonesia yang menjadi presiden dengan mudah tanpa susah payah.

 

Bisri Effendy (w.2020) seorang budayawan, peneliti, sekaligus inspirator intelektual warga Nahdlatul Ulama (baca: Nahdliyin) bahkan pernah berseloroh. Satu tambahan dari tiga ‘misteri hidup yang hanya diketahui Tuhan”, yaitu “kelahiran, jodoh, kematian, serta Gus Dur”. Gus Dur pun merupakan sosok cendekiawan misterius, seperti halnya rahasia Tuhan yang tidak diketahui manusia, bahkan oleh kelompoknya sendiri, yaitu NU dan pesantren. (Pengantar dalam buku Gus Dur “Tuhan Tidak Perlu Dibela”, 1999: LKiS Yogyakarta).

 

Di bidang organisasi, Gus Dur merupakan organisator ulung. Ia tercatat sebagai orang kedua dari sepuluh orang yang paling lama menjadi Ketua Umum Pengurus Besar NU. Gus Dur menjadi Ketua Umum PBNU selama 15 tahun (1984-1999) berada di bawah KH Idam Chalid yang menjabat Ketua Umum PBNU selama 28 tahun (1956-1984).

 

Di bidang seni dan budaya pun, Gus Dur pernah menduduki jabatan penting, yaitu sebagai Ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pada tahun 1982-1985. Sebagaimana diketahui, DKJ merupakan sebuah lembaga yang memfasilitasi kegiatan seni dan budaya serta pengembangannya di wilayah Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta yang dibentuk pada tahun 1968 oleh Gubernur Ali Sadikin. 

 

Salah satu latar belakang Gus Dur menjadi Ketua DKJ adalah karena ceramah kebudayaannya pada tahun 1975 di Teater Arena Taman Ismail Marzuki Jakarta yang begitu memikat, berbobot, penuh intelektual, dan meyakinkan para pendengarnya. Kala itu, Gusdur menyinggung persoalan sensitif yang menyangkut kegagapan masyarakat Indonesia yang mengidentifikasi kebudayaan Arab sama dengan kebudayaan Islam.

 

Gus Dur mengatakan “Diktum Arab adalah Islam, yang seringkali berakibat Islam adalah Arab, menjadi semacam rangka berpemikiran yang telah membuat kita bersikap tidak realitas selama ini. Sudah waktunya cara memandang semacam ini diubah, dengan cara menyadari sepenuhnya akan besarnya diversifikasi unsur-unsur kebudayaan Arab, sebagaimana yang juga dimiliki oleh kebudayaan bangsa kita sendiri”. (dkj.or.id).

 

Demikianlah sedikit dari sekian banyak ‘misteri’ seorang Gus Dur. Masih banyak lagi yang menarik yang perlu diungkap dari berbagai perspektif. Baik Gus Dur sebagai agamawan (ulama), diplomator, penulis maupun kolumnis, bahkan sebagai komentator olahraga sekalipun, dlsb.
Bagi siapa saja yang ingin mengetahui kedalaman Gus Dur dalam menyampaikan pemikiran-pemikirannya, minimal bisa membaca Buku Gusdur berjudul “Tuhan Tidak Perlu Dibela”. Sebuah buku yang berisi tulisan-tulisan Gus Dur yang dimuat pada majalah Tempo dalam kurun dasawarsa 1970-an dan 1980-an.

 

Buku tersebut terdiri dari 73 artikel tulisan yang dibagi kedalam tiga bagian: 1) Refleksi Kritis Pemikiran Islam, 2) Intensitas Kebangsaan dan Kebudayaan, 3) Demokrasi, Ideologi, dan Politik Pengalaman Luar Negeri. Dari buku tersebut kita akan melihat bagaimana kedalaman wawasan berpikir Gus Dur yang mampu memberikan kritik, solusi, serta tanggapan dalam berbagai bidang persoalan terhadap fenomena permasalahan lokal, global, dan dunia internasional.
Untuk Gus Dur. Al-Fatihah.

 

Penulis adalah pengagum Gus Dur.


Opini Terbaru