Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Hikmah Menghindari Sifat Tercela

Hikmah Menghindari Sifat Tercela
Sifat Tercela. (Ilustrasi: NUO).
Sifat Tercela. (Ilustrasi: NUO).

Awal dari keributan atau perkelahian biasanya adalah celaan. Satu mencela, kemudian berbalas celaan, maka jadilah keributan. Ramainya medsos pun diantaranya banyak diisi oleh perkataan saling cela.


Rasa tidak suka, tidak satu pandangan, tidak satu kepentingan, biasanya yang melahirkan sentimen negatif, yang berbuah celaan, hinaan dan bullian yang kita saksikan setiap hari. 


Punya kawan dicela, punya tetangga dicela, punya pemimpin dicela. Beda pendapat dicela, beda pendapatan pun dicela. Karena tidak suka mudah mencela, mudah ingin merendahkan dan menjatuhkan. Padahal yang mencela itu belum tentu lebih baik.  


“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki mencela kumpulan yang lain, boleh jadi yang dicela itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan mencela kumpulan lainnya, boleh jadi yang dicela itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim “ (QS. Al Hujuraat :11)


Kalau mau dicari-cari, semua orang punya kelemahan dan kekurangan.  Namanya juga manusia. Bukan malaikat. Maka apa hebatnya mencela? Allah memerintahkan kita bertasbih. Dan kalau kita sudah menyelami makna tasbih, patutkah kita menganggap diri kita suci, dan berani mencela makhluknya?


Allah pun memerintahkan kita untuk bertahmid. Kalau sudah memahami makna tahmid, patutkah kita memuji diri kita sendiri? Lalu berani mencela yang lain?


Semua makhluk Allah memiliki kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Tidak ada yang sia-sia dari ciptaanNya. Karena itu, sebaiknya berikanlah pujian kepada segala yang kita sukai. Namun jangan pula melontarkan cacian terhadap apa yang tidak kita sukai, betapa pun kita membencinya. 


Terselip hikmah dari sesuatu yang tidak kita sukai. Bila tidak suka dengan seseorang jangan mencela atau caci maki, tapi jauhilah. 


Jangan mencela apa pun dari apa yang diciptakan Allah SWT. Nabi Saw bahkan tidak pernah mencela makanan yang gak enak. Sebaliknya, jika Beliau menginginkan sesuatu maka beliau memakannya atau kalau tidak suka, beliau meninggalkannya (tanpa harus mencela).


Nadirsyah Hosen, Rais Syuriah PCINU Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School

Terkait

Opini Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×