• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Minggu, 14 April 2024

Opini

Diplomat Sufistik

Diplomat Sufistik
Diplomat Sufistik di Gedung Dubes Indonesia atas Tunisia, KH Imam Jazuli duduk di depan yang mengenakan peci hitam
Diplomat Sufistik di Gedung Dubes Indonesia atas Tunisia, KH Imam Jazuli duduk di depan yang mengenakan peci hitam

Catatan Perjalanan KH. Imam Jazuli., Lc,. MA

Siapa yang mengira Gus Dubes Tunisia (Zuhairi Misrawi) yang dikenal publik sebagai intelektual muda NU yang liberal dan kiri ini ternyata seorang salik-sufi yang sungguh-sungguh?

 

Tidak percaya? Saya sebagai saksi, sekaligus teman yang sejak kuliah di Mesir sama-sama mengambil jurusan filsafat dan sama-sama pembaca berat buku-buku kiri-islam juga awalnya tak percaya.

 

Tetapi selama penulis di Tunisia mendampingi anak gadis yang sedang menempuh pendidikan disana, penulis beberapa hari membersamai Gus Dubes dan melihat aktivitasnya dari dekat dan baru percaya.

 

Gus Dubes, bahkan sebelum beraktivitas di Kedutaan atas nama negara, Sabtu subuh itu mengajak penulis ke sebuah Masjid yang disana banyak ditemukan komonitas salik-sufi.

 

Rasanya aneh bukan, seorang yang dikenal liberal-kiri pagi-pagi sudah ke Masjid? Tapi itulah kenyataannya. Percaya tak percaya.

 

Bahkan di Masjid yang letaknya di bukit Sadzuliyah ini, masyarakat setempat meyakini sebagai salah satu petilasan penting Syaikh Mursyid Akbar Abu Hasan as-Sadzili.

 

Di tempat itu tiap hari Sabtu, seperti biasa, sejak tengah malam sudah dipadati masyarakat dari kelompok tarikat Syadziliyyah yang mengadakan pembacaan aurad, doa bersama dan mujahadahan, dipimpin langsung oleh Mursyid tariqoh cicit dari Abu Hasan Asyadzili sendiri.

 

Sungguh mengherankan lagi, ternyata Gus Dubes begitu sampai, ia langsung ikutan duduk melingkar sebagai jamaah, tetapi yang mengagumkan, ternyata baik Mursyid tariqoh, maupun petinggi disitu nampak akrab dan mengenal baik dan begitu hangat menyambut Gus Dubes.

 

Tentu saja tanda Gus Dubes kesitu tidak hanya main-main atau kunjungan biasa, yang sesekali, sebagaimana kebiasaan para pejabat tinggi kita, tetapi ia datang atas nama salik yang sama-sama sedang menempuh jalan rohani.

 

Setelah aurad dibacakan dan mujahadahan selesai, kami kemudian dipersilahkan masuk ke sebuah lorong khusus, dimana Sang Mursyid Toriqoh Asyadzili sering berkhalwat disana.

 

Lalu siapa sebanarnya Syaikh Abu Hasan Asyadili ini?

 

Menurut Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam kitab Lathaif al-Minan, leluhur Imam Abu Hasan asy-Syadzili adalah Isa bin Muhammad bin Sayyidina Hasan.

 

Sedangkan menurut Ibnu ‘Iyadh dalam kitab al-Mafakhir al-‘Ulya fi al-Ma’atsir asy-Syadziliyyah, leluhur Imam Abu Hasan asy-Syadzili adalah Isa bin Idris bin Umar bin Idris bin Abdullah bin al-Hasan al-Mutsanna bin Sayyidina Hasan.

 

Imam Abu Hasan asy-Syadzili memiliki postur tubuh yang kurus, jari-jemari yang panjang, warna kulit yang bagus. Ia sangat fasih berbicara, ucapannya sangat lembut dan eksotoris.

 

Selain itu, ia selalu memakai pakaian yang indah -- jauh dari kesan bahwa seorang sufi itu gembel, dan senang menunggangi hewan tunggangan yang gagah.

 

Terkadang Ia juga tak segan untuk memakai pakaian sederhana, akan tetapi beliau tidak memakai pakaian yang ditambal sebagaimana beberapa kaum kaum sufi lainnya.

 

Nama Abu Hasan as-Syadili sering disandingkan dengan Sulthan Aulia Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani. Hal ini dikarenakan keduanya memiliki derajat kewalian yang sama, sebagaimana yang diungkapkan oleh al-Qarasyi:

 

"Keduanya adalah Shultan Auliya, Ketika aku menyebut tuanku Syekh Abdu Qadir al-Jailani, maka aku telah menyebut tuanku Syekh Abu Hasan asy-Syadzili, keduanya sama istimewa karomah-karomahnya, dan keduanya tidak dapat dipisahkan."

 

Di dalam lorong yang membuat bulu kuduk penulis merinding itu, penulis mendapat cerita langsung dari Musyid Tariqoh Syadiliyah, bahwa Gus Dubes memang sudah istiqomah datang kesitu dan sudah dibaiat.

 

Sesuatu yang penulis tadinya benar-benar kurang percaya.

 

Bagaimana tidak? Sejak masih kuliah, sampai sebelum mendapat amanah sebagai Dubes Tunisia ini, Gus Dubes masih sering membuat pernyataan yang berbauh kontroversi, karena pemikirannya yang liberal.

 

Apalagi dia bersama Mas Kiai Ulil Abshar Abdallah dan Mas Kiai Muqshid Ghozali pernah menjadi aktifis Jaringan Islam Liberal.

 

Tetapi setelah Sabtu Subuh itu penulis mengenalnya sebagai seorang birokrat yang sufistik. Maka pantas saja dalam perbincangan dua hari ini kata-kata yaang sering keluar darinya sering sangat eksoterik.

 

Karena itu, kadang penulis merenung dan membayangkan apa jadinya jika kelak kabinet 2024-2029, jika ada anggota Menteri yang sufistik seperti Gus Dubes.

 

Sungguh akan sangat indah sekali bukan?

 

Apalagi dia punya latar belakang intelektual progresif, akademisi dari Universitas Islam tertua di dunia yaitu Al-Azhar Assyarif Mesir.

 

Kembali ke soal lorong yang istimewa itu, dimana kami berdua diajak masuk ke dalamnya.

 

Menurut penuturan Sang Mursyid, dahulu kala Syaikh Abu Hasan Asyadzili, di tempat inilah beliau mendapatkan Ilham berupa Hizb Bahr yang diamalkan jutaan muslim di dunia termasuk Gus Dubes.

 

Tentu pilihan ini berbeda dengan penulis, yang sejak dahulu dan kedepan insyaallah istiqomah sebagai pengamal tirakat Dalailul khairat.

 

Terkadang pilihan-pilhan kami memang berbeda, juga pendapat dan pemikiran, tapi kami sama-sama memiliki tujuan yang sama, yaitu bagimana kami kedepan memberikan manfaat atau solusi untuk banyak orang dan Indonesia tercinta. Meskipun itu mungkin hanya setitik debu.

 

Dari lorong sunyi ini, kami berdoa untukmu Gus Dubes Zuhairi Misrawi, semoga suratan nasib pada tahun 2024 menjadikanmu anggota kabinet untuk Indonesia Jaya...Amin.

 

Penulis adalah Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon, Jawa Barat.


Opini Terbaru