• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Selasa, 16 April 2024

Ngalogat

Jadi Pengurus Ranting Tak Kalah Keren

Jadi Pengurus Ranting Tak Kalah Keren
Jadi Pengurus Ranting Tak Kalah Keren. (Foto: NUJO/Yahya)
Jadi Pengurus Ranting Tak Kalah Keren. (Foto: NUJO/Yahya)

Tulisan Abdulah Alawi di NU Jabar Online menggelitik saya ingin kembali menulis tentang "menjadi pengurus" yang menurut beliau dari majalah Al-Mawaidz edisi 13 tahun 1935 bahwa menjadi pengurus NU itu harus karena Allah bukan karena olih (mendapatkan sesuatu). 


Di Muktamar 34  dalam sidang komisi organisasi saya mengusulkan agar demi menghindari "rebutan" menjadi pimpinan di Nahdlatul Ulama sebaiknya pemilihan ketua Tanfidziyyah lewat Ahlul Halli wal'aqdi (AHWA) saja. Pembahasan soal ini alot sekali dan tidak menemui titik temu, sehingga diputuskan meminta voting muktamirin di sidang pleno, namun karena tidak tersedianya waktu voting itu tidak dilakukan. Kalau nilai transaksinya besar begitu maka akan dapat kita derivatifkan ke bawahnya juga begitu. Nanti menjadi ketua lembaga akan rebutan juga.


Setelah Konferwil Jabar Oktober 2021 kemarin, saya mulai berfikir untuk kembali berkhidmah di ranting saja. Banyak orang berpendapat berkhidmah di ranting itu tidak keren, tidak bergengsi. Di banyak MKNU saya sampaikan berdasarkan pengalaman saya bahwa sejatinya perjuangan terberat "menghidupkan" perkumpulan itu justru di level ranting. Butuh strategi yang mumpuni, butuh kerja-kerja yang realistik, butuh ketrampilan ekstra agar kita bisa mengubah realitas. 


Saya yang tinggal di Indramayu Barat yang notabene "abangan" tentu mengenalkan NU adalah kerja-kerja yang berat sekali. Tumpuan kerja-kerja itu adalah beban pengurus ranting. Kerja terberat harus dikerjakan beramai-ramai oleh orang-orang yang memiliki "kualifikasi" mumpuni bukan kacangan.


Setiap kader punya kesempatan yang sama untuk berkhidmah, saya terenyuh sekali ketika kawan saya kang H. Dalam, anggota DPRD kab. Indramayu Fraksi PKB bercerita, "Saya tidak pernah duduk menjadi pengurus kang, tapi saya bisa dengan leluasa sekali berkhidmah di Nahdlatul Ulama." katanya. Saya mengenal beliau lama lebih dari 15 tahun sejak saya mulai menjadi pengurus ranting. Kang Dalam terus memfasilitasi, mengundang, membiayai beragam kegiatan NU, IPNU, Ansor dsb. Peran beliau sangat signifikan bagi pengembangan kader NU sudah sejak lama.


Fenomena menarik juga dilakoni KH. Imam Jazuli yang dari kota kembali ke kampung, ini kebalikan dari berbondong-bondongnya kader yang dari kampung bermigrasi ke kota. Dibutuhkan banyak kader yang siap kembali ke dasar, ke kampung-kampung meramaikan kembali gerakan. Butuh banyak sarjana, butuh banyak doktor dan ulama agar kerja kita benar-benar buttom up. 


Berfikir bahwa seharusnya ada trickle down effect dari PBNU sampai ke ranting dalam bentuk implementasi program itu menurut saya keliru. Hal-hal seperti ini akan terus melahirkan kekecewaan yang berkepanjangan. Sudahi berharap seperti ini mari membangun jamiyyah dari bawah.


Kemandirian itu hanya bisa kita realisasikan jika kita bergerak dari bawah, bukan sebaliknya. Sudahi berebut menjadi pengurus karena kerja-kerja kita di level grassroot itu sangat menumpuk. Khidmah itu ya kita bekerja dilevel mana saja, bukan gagah-gagahan menempel nama menjadi ini dan itu kemudian tak melakukan apa-apa. Kawan saya menyebutnya ini mental "Tempekong" tidak melakukan apa-apa pengen disembah. Kita butuh banyak orang yang mau "ngurusi" bukan kerjanya "urusan terus menerus".


Semoga kerja-kerja kaderisasi NU terus dijalankan, karena di level ranting kita masih butuh banyak orang. Kenapa banyak program di level MWC, ranting tidak bisa kita realisasikan itu karena kita kurang orang yang mau bekerja di level grassroot ini. Menjadi santri Mbah Hasyim Asy'ari itu keren di manapun kita berada.


Yahya Ansori, Sekretaris PCNU Indramayu 2016-2021


Ngalogat Terbaru