Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

KH M Nuh Addawami: Ulah Sok Ngawur Kasintu, Ngagebah Hayam

KH M Nuh Addawami: Ulah Sok Ngawur Kasintu, Ngagebah Hayam
Mustasyar PBNU, KH M Nuh Addawami. (Foto: Ss Yt Nurulhuda Cibojong).
Mustasyar PBNU, KH M Nuh Addawami. (Foto: Ss Yt Nurulhuda Cibojong).

Garut, NU Online Jabar
Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Huda Cibojong, KH. M Nuh Addawami menjelaskan, hikmah dalam ajaran Islam itu  adalah memanusiakan manusia. Hal tersebut diungkapkan saat menghadiri acara Temu Alumni Ika-Nuh Lintas Generasi Tahun 2022, yang disiarkan secara langsung melalui kanal Youtube PP Nurulhuda Cibojong, Minggu (19/6) lalu. 


Kiai M Nuh Addawami mengatakan, dalam ajaran Islam itu sedang memposisikan manusia sebagai manusia. Apa yang disebut manusia itu? Kiai M Nuh mengutip firman Allah dalam Al-Quran surat At-Tin:


وَالتِّيْنِ وَالزَّيْتُوْنِۙ ١وَطُوْرِ سِيْنِيْنَۙ ٢وَهٰذَا الْبَلَدِ الْاَمِيْنِۙ ٣لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْٓ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍۖ ٤ثُمَّ رَدَدْنٰهُ اَسْفَلَ سٰفِلِيْنَۙ ٥اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ فَلَهُمْ اَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُوْنٍۗ ٦فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعْدُ بِالدِّيْنِۗ ٧اَلَيْسَ اللّٰهُ بِاَحْكَمِ الْحٰكِمِيْنَ ࣖ ٨


Artinya: "Demi (buah) tin dan (buah) zaitun,demi gunung Sinai,dan demi negeri (Makkah) yang aman ini,sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.Kemudian, kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya,kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan. Maka, mereka akan mendapat pahala yang tidak putus-putusnya.Maka, apa alasanmu (wahai orang kafir) mendustakan hari Pembalasan setelah (adanya bukti-bukti) itu?Bukankah Allah hakim yang paling adil?," (QS At-Tin).


Kiai yang akrab disapa Ceng Nuh tersebut mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang paling sempurna bentuknya daripada binatang. 


“Matak urang ulah ngarasakeun minder, pedah ayeuna urang diakurkeun jeng batur asana goreng patut urang batan batur urang selaku manusia adalah ahsani taqwim,” ucap Kiai Nuh.


Lalu, Ceng Nuh mengutip salah satu potongan ayat surat Al-Isra ayat 70:


وَ لَقَدۡ کَرَّمۡنَا بَنِیۡۤ اٰدَمَ


Artinya: “Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam”


Menurutnya, manusia merupakan makhluk yang mulia. Jadi islam adalah ajaran untuk memanusiakan manusia. Allah memuliakan manusia, tapi manusianya sendiri suka merendahkan dirinya sendiri. Bahkan, masih banyak manusia yang suka menyebut manusia dengan nama hewan, seperti bagong (babi).


Ceng Nuh berpendapat, manusia yang seperti itu belum menerima risalah Rasulullah SAW secara sempurna. Karna ajaran Islam, merupakan ajaran yang memanusiakan manusia. Dimana manusia sudah menganggap manusia hina sampai menyebut bukan manusia. Ia menegaskan bahwa manusia seperti itui sudah menyimpang jauh dari ajaran Islam.


Padahal, sambungnya, kebanyakan dari mereka sudah mengetahui ajaran Islam. Namun, dalam memahaminya keliru, karna memang sumbernya sesat. Kiai Nuh mengutip salah satu ayat Al-Qur’an surat An-Nahl ayat 125:


ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ


Artinya: ”Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”


Ceng Nuh mengingatkan agar umat muslim harus mengajak manusia yang salah agar menuju kepada jalan yang benar dengan nasihat dan perkataan yang baik dan lemah lembut. 


“Agama Islam teu pernah nganjurkeun, marentahkeun supaya aktifis muslim ujak ejek kanu salah, ujak ejek kanu teu bener,” ucap Kiai M Nuh, yang merupakan Pengurus Pondok Pesantren Nurul Huda Cibojong.


Dalam kesempatan yang sama, Ceng Nuh yang juga salah seorang Mustasyar PBNU tersebut juga mengungkapkan, pada zaman Rasulullah SAW, setelah orang-orang musyrik menyembah berhala, mereka masuk pada agama Islam dan langsung baiat kepada Rasulullah SAW. 


“Jadi beda, Islam anu baheula jeng Islam anu ayeuna. tos bae'at ka Rasulullah, tuluy eta tos jadi sahabat Rasulullah. Dina mengahadapi eta musyrikin teh lain diajak kana tauhid, tapi di ejek sesembahan-sesembahan maranehna,” jelas Ceng Nuh.


“Cara dakwah kitu ulah sok nyarekan sesembahan batur, engke Allah bakal dicarekan ku maranehana,” sambungnya.


Menurutnya, dengan cara dakwah seperti itu, secara tidak langsung kita telah memarahi Allah SWT, sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim 


سِبَابُ المٌسْلِمِ فُسُوقٌ، وَقِتَالُهُ كُفْر


"Mencela seorang muslim merupakan kefasikan dan memeranginya merupakan kekufuran,".


Menurutnya, mencela atau memarahi seorang muslim itu adalah suatu kebengkokan, kebengkokan dari jalan yang benar. Kita harus melarang dari tingkah yang salah, akan tetapi dalam praktiknya bukan melarang, tapi malah memarahi. 


”Manusia lamun dicarek goreng bakal ngarasa bungah, rasa diaku dulur ku batur. Tapi lamun manusia anu ngalakukeun salah teh dicarekan. Da lain atoh, tapi bakal nekad,” tuturnya.


Ceng Nuh juga menjelaskan, diantara ajaran memanusiakan manusia yang diajarkan dalam agama islam yakni membina kemanusiaan. “Saur sepuh papagon kolot, enggoning urang bermasyarakat kade ulah sok ngawur ka situ, ngagebah hayam.ari nu jauh di awur, ari baraya dipaseaan,” ujarnya. 


Pewarta: Isna Fitriani
Editor: Muhammad Rizqy Fauzi

Terkait

Nasional Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×