• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Jumat, 19 April 2024

Nasional

Dari Festival hingga Simposium Tradisi Islam Nusantara Hadir Meriahkan Harlah 1 Abad NU

Dari Festival hingga Simposium Tradisi Islam Nusantara Hadir Meriahkan Harlah 1 Abad NU
Simposium Tradisi Islam Nusantara Rekam Perkembangan Kebudayaan Islam di Indonesia Digelar Hari Ini
Simposium Tradisi Islam Nusantara Rekam Perkembangan Kebudayaan Islam di Indonesia Digelar Hari Ini

Jakarta, NU Online Jabar
Dalam rangka menyambut Hari Lahir (Harlah) Nahdlatul Ulama (NU) ke 1 Abad, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyelenggarakan Simposium Tradisi Islam Nusantara sebagai bagian dari Festival Tradisi Islam Nusantara yang berlangsung di Banyuwangi, Jawa Timur pada Selasa (10/1). Panitia Pelaksana Simposium Tradisi Islam Nusantara Ayung Notonegoro menyampaikan bahwa kegiatan itu dilaksanakan untuk merekam perkembangan tradisi Islam di Nusantara selama ini dengan keragaman bentuknya.


"Ini bertujuan untuk merekam secara intelektual, bagaimana perkembangan dan wujud dari tradisi Islam Nusantara itu sendiri yang mana dalam praktiknya tradisi di Indonesia ini sangat erat kaitannya dengan nilai-nilai keislaman," tuturnya dilansir dari NU Online Ahad (8/1).


Karenanya, simposium ini juga berupaya untuk merumuskan dan mengonsepkan definisi dari Tradisi Islam Nusantara dan ruang lingkupnya dalam berbagai dimensi kebudayaan yang ada.


"Itulah yang kemudian perlu dilakukan satu upaya intelektual dalam merumuskan apa sih definisi tradisi Islam Nusantara itu sendiri? Dan bagaimana ruang lingkupnya dalam berbagai bentuk-bentuk kebudayaan di Indonesia," jelas Ayung.


Ia juga mengatakan, tradisi Islam Nusantara yang dimaksud tidak hanya semata-mata perihal kebudayaan yang berupa tari-tarian atau nyanyian, tetapi juga dalam bentuk mode pakaian, arsitektur, hingga kuliner. "Itu banyak sekali ragam tradisi yang dipengaruhi oleh nilai-nilai keislaman sehingga hal ini perlu dibukukan dengan sangat baik," paparnya.


Oleh karana itu, sambungnya, simposium ini mengundang berbagai pihak untuk terlibat dalam perumusan tersebut agar diperoleh beragam perspektif sehingga saling melengkapi satu sama lain. "Di sinilah kami mengundang para cendekiawan, para ulama, dan juga para penggiat kebudayaan itu sendiri dari berbagai lokus kebudayaan di Nusantara," ujarnya.


Ayung juga mengungkapkan, cendekiawan atau akademisi yang bergeliat di kampus-kampus ini dilibatkan sebagai representasi intelektualitas keilmiahan suatu kajian. Sementara para ulama tentunya mewakili pandangan keagamaan mengenai kebudayaan. "Karena ini berkaitan dengan keagamaan, maka perspektif para ulama menjadi penting untuk memberikan pendefinisian," ungkap Ayung.


Selain itu, simposium juga menghadirkan para pakar yang ahli dalam ragam ekspresi kebudayaan Islam Nusantara, seperti pakar musik gamelan dan pakar wayang. Ada pula para penggiat kebudayaan dari berbagai daerah keislaman di Nusantara yang memiliki sejarah keislaman yang cukup kuat di Nusantara.


Simposium juga melibatkan kreator konten guna memberikan pandangan dalam menentukan arah tradisi Islam Nusantara ini bisa adaptif dengan perkembangan zaman yang ada. "Kita juga melibatkan para content creator agar turut memikirkan Bagaimana ekspresi dari tradisi Islam nusantara ini bisa beradaptasi dengan situasi zaman hari ini," pungkasnya.

 

Sebagai informasi, acara tersebut akan dimulai hari inj dengan rangkaian pentas seni festival tradisi islam. Dalam pagelaran simposium, setiap peserta diharuskan menulis artikel ilmiah populer tentang Tradisi Islam Nusantara dalam tema yang berbeda-beda. Tulisan yang panjangnya minimal 4.000 kata itu sudah terkumpul pada 1 Januari 2023 dan akan dibahas dalam simposium pada Selasa (10/01).

 

Dari Jawa Barat ada dua peserta yang ikut dalam simposium, yaitu Iip D. Yahya (Direktur Media Center PWNU Jabar) dan Dr. Yus Wiradiredja (seniman/dosen ISBI). Iip Yahya menulis artikel berjudul "Tradisi Islam Nusantara di Pesantren Priangan: Sebuah Refleksi", sementara Yus Wiradiredja menulis, "Ath-Tawaf: Alternatif Musik/Lagu Sunda Islami (Jelajah Kreatif-Empirik).


Pewarta: Syakir NF
Editor: Muhamma Rizqy Fauzi


Nasional Terbaru