Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Semesta Kecil Bernama Imah (Bumi)

Semesta Kecil Bernama Imah (Bumi)
(Ilustrasi/Nasihin)
(Ilustrasi/Nasihin)

Oleh Nasihin

Rumah adalah tempat tinggal manusia. Sebagian dari fungsi rumah diantaranya:untuk tempat berlindung baik dari cuaca dan binatang, tempat berkumpul keluarga, istirahat dan tidur. Rumah biasa disebut 'imah' atau 'bumi' dalam bahasa Sunda.


Bumi dalam bahasa Indonesia adalah untuk menyebut planet di tata surya-atau bumi biasa disebut planet biru. Bumi adalah satu-satunya planet yang ditempati manusia, karena dalam pengetahuan manusia belum di temukan lagi planet yang layak di tempati manusia, hewan dan tumbuhan yang sempurna kecuali bumi. 


Bumi (imah) atau rumah bagi orang Sunda adalah Mikrokosmos (semesta kecil), Karuhun (leluhur) orang Sunda dahulu sangat identik dengan rumah panggung, rumah yang dibuat dari rangka kayu dan ditutup (dinding) dari anyaman bambu (bilik).Tinggi rumah panggung dari tanah sekitar 40-60 cm, balok-balok kayu  rumah atau tihang adeg berpijak ke batu pondasi atau 'lisung'. Bagian atap penutup ditutup injuk (ijuk) dari aren atau hateup dari daun palem, berlantai kayu atau bambu yang dirajang (palupuh).


Secara teknik rumah panggung memiliki tiga fungsi, yaitu: tidak mengganggu bidang resapan air, kolong sebagai media pengkondisian ruang dengan mengalirnya udara secara silang baik untuk kehangatan dan kesejukan, serta kolong juga dipakai untuk menyimpan persediaan kayu bakar (Adimihardja, 2008). Rumah adalah penanda budaya dan warisan sejarah-dibangun dengan arsitektur dan teknologi sesuai jamannya, dipengaruhi budaya, alam sekitar, dan kepercayaan. 


Rumah panggung mempunyai ruang-ruang yang sudah ditentukan baik fungsi dan nama. Sebelum memasuki rumah biasanya terdapat pagar dan halaman. Di dalam rumah terdapat ruang-ruang yang mempunyai fungsi dan aturan tak tertulis bagi anggota keluarga yang terikat pada pandangan sosial-relijius, bahkan orang tua dahulu sangat hati-hati dalam membuat rumah, dimulai dari sistem perhitungan tanggal(waktu), arah, posisi tanah dan dampak yang akan di timbulkan, baik bagi penghuni rumah, lingkungan dan alam sekitar.


Di Jawa Barat, terdapat bermacam-macam jenis rumah adat yang berbeda-beda baik atap, struktur bangunan dan nama rumah, diantaranya: tagog Anjing, Badak Heuay, Jolopong, Parahu Kumureb, Julang Ngapak, Capit Gunting, Jubleg Nangku, Buka Palayu hingga Buka Pongpok. Rumah panggung mempunyai kolong yang biasa dipakai untuk menyimpan kayu bakar atau memelihara ternak.


Rumah (imah) diawali ruang depan dengan nama 'Tepas', berlantai kayu atau bale dari bambu yang dirajang (palupuh) yang berfungsi sebagai tempat menerima tamu atau berkumpulnya laki-laki, di depan tepas ada yang bernama 'golodog' berbentuk seperti bangku yang berfungsi untuk membersihkan kaki-atau biasa juga dipakai untuk mengobrol dan menampi beras, dan ada golodog yang berbentuk tangga untuk pijakan.


Setelah 'Tepas' kemudian masuk ke dalam rumah yang terdapat ruang yang melewati pintu, ruang itu biasa di sebut 'Tengah imah' ruang ini bersifat netral secara peran bagi anggota keluarga. Ruang tengah biasa dipakai oleh seluruh anggota keluarga, ruang tempat berkumpul keluarga baik laki-laki, perempuan dan anak-anak dan berfungsi juga tempat menerima tamu. 


Disudut ruang tengah biasanya ada kamar yang di sebut ' Pangkeng' atau kamar untuk beristirahat dan tidur, ruang tersebut adalah wilayah milik orangtua yang di dominasi perannya oleh kaum perempuan atau ibu, bahkan dahulu anak- anak tabu( pamali), memasuki tempat tersebut kecuali anak yang masih kecil atau ada ijin orangtua untuk memasukinya.


Kemudian memasuki ruang belakang sebelum dapur biasanya di temui ruangan yang bernama 'Goah' atau ada yang menyebut padaringan. Goah berfungsi sebagai tempat menyimpan bahan makanan atau kebutuhan pangan rumah tangga. Ruang ini perannya lebih ke orangtua terutama kaum ibu.


Ruang terakhir adalah dapur atau biasa disebut pawon, pawon, ada yang langsung berlantai tanah ada juga yang berlantai kayu dan bambu. Tempat memasak atau kompornya dinamai 'Hawu' atau 'Parako' yang terbuat dari tanah berbahan bakar kayu dan bambu. Ruang ini di dominasi kaum ibu. Biasanya dari dapur ini ada pintu keluar menuju halaman belakang yang terdapat sumur gali untuk kebutuhan menyuci, minum dan lainnya. Halaman belakang juga biasanya ditanami pohon-pohon bumbu dapur, lalapan dan umbi-umbian.


Mungkin itulah sebagian dari fungsi dan makna rumah Sunda yang penulis tahu dan alami. Rumah panggung (Sunda) menjadi penanda dan lahirnya budaya lokal. Budaya yang melahirkan pendidikan etika(adat), sosial, arsitektur dan keyakinan(agama) bagi anggota keluarganya. Rumah yang menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. Budaya yang mengajarkan bahwa alam adalah titipan yang harus dijaga dan dilestarikan. Kearifan lokal yang melahirkan visi dan menjadi solusi bagi kita semua.


Semoga nilai-nilai kearifan lokal yang sudah wariskan leluhur negeri ini bisa kita terapkan di masa sekarang dan yang akan datang.


Diolah dari berbagai sumber dan sebagian pengalaman pribadi Penulis


Penulis adalah pengurus Lesbumi PCNU Kabupaten Bandung

Adrahi Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×