Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Keharusan "Ingkig" dalam Menulis Sejarah NU Lokal

Keharusan "Ingkig" dalam Menulis Sejarah NU Lokal
Direktur Media Center PWNU Jawa Barat, Iip D Yahya (Foto: ss youtube NUO)
Direktur Media Center PWNU Jawa Barat, Iip D Yahya (Foto: ss youtube NUO)

Bandung, NU Online Jabar
Menulis sejarah itu memiliki proses yang panjang. Perjuangan yang meletihkan dan menyita waktu. Namun hasil dari perjuangan itu akan membuat si penulis dikenang sebagai sebagai pembuka cakrawala kehidupan di masa lampau.


Melakukan penelitian sejarah memang bukan hal mudah. Banyak faktor yang dapat menghambatnya, seperti minimnya ketersediaan data kepustakaan atau literatur. Juga perlunya tunjangan dana yang memadai agar penelitian bisa berjalan dengan lancar.


Hal tersebut dialami sendiri oleh Direktur Media Center PWNU Jawa Barat, Iip D Yahya. Ia seorang penulis sejarah. Dari tangannya sudah lahir banyak karya, di antaranya buku NU Penjaga NKRI, Ajengan Cipasung, Ajengan Sukamanah. Karya teranyarnya yaitu buku Oto Iskandar di Nata Perintis Tentara Republik Indonesia.


Dalam menulis sejarah, terutama dalam sejarah NU, Kang Iip, sapaan akrabnya menuturkan perlunya tekad untuk bersedia berangkat kesana kemari, menelusuri sumber, walau dengan jarak tempuh yang berjauhan.


“Salah satu cara untuk mendapatkan data tentang sejarah NU di berbagai tingkatan NU, kalau dalam bahasa Sunda itu disebut “ingkig”. Artinya berangkat, atau dalam bahasa Jawanya, budal. 


“Jika ingin mendapatkan data NU, tapi diam saja di rumah, atau di kantor PCNU-nya masing-masing, mengharapkan kemudian datang turun dari langit, atau datang melalui kiriman WA, ya nggak bisa,” tuturnya melalui channel Youtub NU Online Selasa (21/6/22).


Kendala fundamental mengenai ketersediaan data sejarah NU, kata Kang Iip, yaitu masih tercecernya data di sejumlah tempat. Belum ada upaya yang signifikan dari lembaga otoritatif seperti PBNU, untuk menyatukan semua dokumen-dokumen resmi tentang sejarah Nahdlatul Ulama dari sebelum, ketika berdiri dan setelahnya.
“Padahal kalau bisa disatukan di satu tempat, katakanlah di perpustakaan PBNU, ini akan sangat membantu para peneliti untuk mendapatkan informasi awal, misalnya, siapa yang pertamakali datang ke Muktamar NU dari Brebes, Tegal, kemudian Banyumas, Tasikmalaya dan lain-lain,” katanya.


Dengan informasi itu, lanjutnya, penulis atau peneliti di daerah bisa menelusuri tokoh atau kiai yang dulu pernah ikut Muktamar pada masa-masa awal.


“Kawan-kawan di daerah akan bisa menelusuri kepada kiainya, atau anaknya cucunya, atau cicit dari kiai yang saat itu menjadi utusan kongres Nahdlatul Ulama pada masa-masa awal,” terangnya.


Data-data NU yang belum terhimpun di satu tempat, memang menyulitkan bagi peneliti. Namun, inilah tantangannya. Kalau semuanya serba mudah, tentu tidak ada rintangan yang harus dilewati.


“Harus ada proses mendatangi sumber-sumber yang dianggap memiliki data itu, didatangi satu persatu. Menelusuri bagaimana sejarah awalnya. Kalau tokoh yang didatangi tidak tahu, dia akan memandu peneliti untuk datang ke tokoh lain yang dianggap tahu. Terus begitu sampai ketemu narasumber yang diinginkan. Dengan telaten, berbagi tugas dengan kawan-kawan yang lain, nanti akan terkumpul sedikit demi sedikit data sejarah NU lokal,” tegasnya.


“Jadi memang harus ingkig, harus budal. Kalau diam saja,  nggak mungkin data itu didapatkan. Dengan berangkat, insya allah akan mendapatkan apa yang kita cari,” imbuhnya.


Pesannya bagi peneliti pemula, jangan lupa berdoa, dan perbanyak Al-Fatihah untuk narasumber yang kita telusuri.


“Jangan lupa kekuatan Al-Fatihah. Barokah Al-Fatihah itu insyaallah akan mengahtarkan kita untuk mendapatkan data sejarah NU yang kita inginkan,” pungkasnya.


Pewarta: Abdul Manap

Kota Bandung Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×