Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Haul Muassis Ponpes Sirnamiskin, Gus Ishom Jelaskan Dalil Haul dan Dua Jenis Ruh di Alam Barzakh

Haul Muassis Ponpes Sirnamiskin, Gus Ishom Jelaskan Dalil Haul dan Dua Jenis Ruh di Alam Barzakh
Haul Muassis Ponpes Sirnamiskin, Gus Ishom Jelaskan Dalil Haul dan Dua Jenis Ruh di Alam Barzakh
Haul Muassis Ponpes Sirnamiskin, Gus Ishom Jelaskan Dalil Haul dan Dua Jenis Ruh di Alam Barzakh

Bandung, NU Online Jabar
Kematian merupakan suatu kepastian, namun tidak seorangpun yang tahu kapan kematian itu datang, semua orang, setiap yang hidup pasti akan merasakannya. Di kalangan umat muslim Indonesia, setelah wafatnya seseorang ada tradisi yang dikenal dengan tahlilan, tujuh harinya, empat puluh harinya, dan haul.

 

Tradisi tersebut merupakan tradisi atau budaya yang baik untuk di lakukan dan untuk dilestarikan karena tidak bertentangan dengan syariat islam. Tradisi tersebut mempunyai tujuan untuk mendoakan orang yang sudah meninggal, di doakan oleh kerabat, sahabat, sanak saudara dan keluarganya. Pada pelaksanaanya yaitu dengan melakukan perkumpulan di rumah duka dengan menggelar pengajian. 

 

Tradisi tahlil atau haul bukanlah tradisi wajib, dan tidak mesti diperingati. Haul biasanya diadakan untuk para keluarga yang telah meninggal dunia atau para tokoh, selain mendoakan juga untuk sekedar mengingat dan meneladani jasa-jasa dan amal baik mereka. 

 

KH Ahmad Ishomuddin menjelaskan pelaksanaan haul merupakan amalan atau tradisi muslim Nahdlatul Ulama yang tidak dilakukan oleh umat muslim yang lain. Pelaksanaan haul ini menurutnya ada dalil-nya dalam Kitab Fathur Rabbani Wa Faidhur Rahmani karya Syekh Abdul Qadir Al-Jailani

 

“Saya kutip ucapan ceramah dari Syekh Abdul Qadir Al-Jailani yang berkaitan dengan haul di pesantren, Wa’alaikum biziarotil kubur, kamu semua wahai orang-orang islam yang beriman wajib berziarah kubur, hendaklah rajin berziarah kubur. Karena intikhol itu ziaroh,” terangnya saat ceramah dalam acara Haul Muassis Pondok Pesantren Sirnamiskin, Rabu (16/11).   

 

Menurut Gus Ishom sapaan akrabnya, ucapan Syekh Abdul Qodir tersebut di ilhami oleh sabda Rasulullah Saw dalam hadisnya

 

كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ أَلَا فَزُورُوهَا، فَإِنَّهُ يُرِقُّ الْقَلْبَ، وَتُدْمِعُ الْعَيْنَ، وَتُذَكِّرُ الْآخِرَةَ، وَلَا تَقُولُوا هُجْرً


“Dahulu saya melarang kalian berziarah kubur, tapi (sekarang) berziarahlah kalian, sesungguhnya ziarah kubur dapat melunakkan hati, menitikkan (air) mata, mengingatkan pada akhirat, dan janganlah kalian berkata buruk (pada saat ziarah),” (HR. Hakim).

 

“Berdasarkan hadis tersebut, maka datanglah kalian ke kuburan, ke makam para ulama, ke makamnya orang-orang yang sholeh, karena sesuangguhhnya ziarah kubur itu mengingatkan orang hidup akan datangnya kematian, tidak ada orang hidup kecuali pasti akan mencicipi akan merasakan yang namanya mati,” ujar salah seorang Rais Syuriah PBNU masa khidmah 2010-2015 dan 2015-2021 itu.

 

Terkait kematian, Gus Ishom menjelaskan bahwa hanya jasadlah yang mati sedangkan ruh masih hidup ada di alam barzakh

 

“Setelah hidup didatangi malaikat, dicabut nyawanya itulah yang disebut maut atau mati muffarokoturruh al jasad berpisahnya ruh dan jasad , jasadnya masuk ke alam kubur, roh nya masuk ke alam barzakh,” jelasnya.
“Berpisahnya antara jasad, antara tubuh, antara fisik kita dengan ruh kita, adapun ruh manusia di alam barzakh tetaplah hidup,” imbuhnya

 

Gus Ishom menjelaskan bahwa ruh terbagi menjadi dua, dalam Kitab Arruh Fil Kalam Ala Arwahil Amwat Wal Ahya' murid Ibnu Taimiyah yang bernama Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah bercerita tentang suasana ruh di alam barzakh, apakah mereka saling berkunjung, saling berziarah atau tidak. 

 

Pertama Ruh Al-Arwah Al Mun’amah
“Ternyata ruh di alam barzakh itu dibagi menjadi dua ruh pertama al-arwah al mun’amah, yaitu ruh yang diberi nikmat oleh Allah Swt. ruh-ruh yang memiliki kebebasan karena sepanjang hidupnya mereka beriman kepada Allah, taat kepada Allah dan rasulnya sehingga di alam barzakh diberikan kenikmatan diberi kebebasan untuk saling mengunjungi silaturrahmi. Silaturrahminya tidak berhenti ketika di dunia tetapi berlanjut sampai alam barzakh,” tegasnya

 

Selain bersilaturrahmi saling berkunjung di alam barzakh, ruh al mun’amah ini juga bisa bertemu dengan ruhnya orang yang masih hidup

 

“Ruh ini bisa bertemu dengan ruh orang yang masih hidup, bertemu pada saat orang hidup dalam keadaan tidur,” katanya

 

“Karena tidur itu saudara dekat dengan kematian, tidur adalah mati yang tidak sempurna, adapun mati adalah tidur yang sangat sempurna. Maka kadang-kadang orang yang tidur dalam mimpinya bertemu dengan orang-orang yang telah meninggal dunia,” lanjutnya.

 

Kedua Al Arwah Al Mu’adzabah
“Ruh yang kedua kata Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah al arwah al mu’adzabah, ruh yang di siksa oleh Allah, yang di penjarakan, yaitu ruh-ruhnya orang yang durhaka kepada Allah maka mereka tidak akan bisa kemana-mana, di siksa, tidak bisa saling berziarah, tidak bisa ketemu dengan orang-orang yang baik,” pungkasnya. 

 

Pewarta: Abdul Manap

Kota Bandung Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×