• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Selasa, 18 Juni 2024

Kota Bandung

Fatayat NU Jabar Kembali Gelar Diskusi Lintas Iman, Bahas Pendampingan Kesiapsiagaan Kontra Radikalisasi dan Deradikalisasi

Fatayat NU Jabar Kembali Gelar Diskusi Lintas Iman, Bahas Pendampingan Kesiapsiagaan Kontra Radikalisasi dan Deradikalisasi
Diskusi Lintas Iman Fatayat NU Jawa Barat, Membahas Pendampingan Kesiapsiagaan Kontra Radikalisasi dan Deradikalisasi
Diskusi Lintas Iman Fatayat NU Jawa Barat, Membahas Pendampingan Kesiapsiagaan Kontra Radikalisasi dan Deradikalisasi

Bandung, NU Online Jabar
Pimpinan Wilayah (PW) Fatayat NU Jawa Barat bersama International NGO Forum on Indonesian Development (INFID) menggelar Focus Group Discussion (FGD) dengan tema “Melampaui Pekerjaan: Belajar dari Pendampingan Masyarakat dalam Kesiapsiagaan, Kontra Radikalisme dan Deradikalisasi di Jawa Barat.” Acara tersebut digelar di Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat, Rabu (22/05/24).
 

Acara ini merupakan bagian dari program Pengenalan Islam Damai untuk Forum Kajian Keagamaan. Kali ini merupakan acara seri ke-IV yang diinisiasi oleh PW Fatayat NU Jabar bidang Penelitian dan Pengembangan (Litbang). Acara ini melibatkan pelbagai latar belakang dan komunitas, meliputi perwakilan Fatayat NU di Jawa Barat, organisasi lintas iman dan komunitas. 
 

“Kegiatan Diskusi Pengenalan Islam Damai Untuk Forum Keagamaan seri keempat ini merupakan kelanjutan dari diskusi seri-seri sebelumnya. Pada seri pertama membahas mengenai moderasi beragama dan prinsip-prinsip gen-z, seri kedua membahas politik perempuan dalam perspektif agama sosial dan budaya, seri ketiga membahas pemetaan konflik, keagamaan di Jawa Barat dan diseminasi pengetahuan mediasi,” papar Hanifah Apriliani, perwakilan project dari Fatayat NU Jawa Barat. 
 

Sesuai dengan tema, seri diskusi kali ini, peserta dari berbagai organisasi dan lintas agama berkumpul untuk mendiskusikan dan sharing terkait pendampingan masyarakat dalam kesiapsiagaan kontra radikalisme dan deradikalisasi, belajar dari pengalaman para pelaku pendamping kontra radikalisme dan deradikalisme di Jawa Barat.
 

Hadir sebagai pemateri dalam diskusi yakni Ani farhani dari Peace Generation, Tulus TH Sibuea dari Kesbangpol Jabar, dan Satori dari Densus 88. Masing-masing pemateri memberikan pengalaman baiknya dalam pembinaan dan pendampingan pada kegiatan perdamaian.
 

Pada kesempatan tersebut, Ketua PW Fatayat NU Jabar, Hirni Kifa Hazefa menyampaikan bahwa forum diskusi ini merupakan bagian dari implementasi dakwah rahmatan lil alamin Fatayat NU Jawa Barat.
 

“Program ini kami wujudkan salah satunya dengan merespons radikalisme. Kami meresponsnya dengan memperkuat ketahanan keluarga, melalui pengajian bulanan di daerah. Karena kan Fatayat itu rutinitasnya adalah pengajian, maka kami bekali para daiyahnya dengan wawasan kebangsaan, makanya kami mempunyai program nyantri keren,” ujarnya.
 

Lanjutnya, Teh Hirni sapaan akrabnya menjelaskan bahwa program ini merupakan bentuk kepeduliannya terhadap islam yang damai yang menjunjung tinggi nilai toleransi.
 

“Kita ini berbeda keyakinan dan agama kita, tapi kita ini adalah satu, satu bangsa Indonesia sehingga seluruh tumpah dara di negara kita adalah tanggung jawab bersama. Jangan sampai perbedaan ini melahirkan kegaduhan, kerusuhan yang sebernya tidak perlu ada,” jelasnya.


Forum diskusi seperti ini lanjutnya juga merupakan aksi nyata dari semboyan Fatayat NU dalam hymnenya yang berbunyi ‘Ilmu Amaliyah dan Amal Ilmiah’. 


“Dalam hymne Fatayat NU itu ada ‘ilmu amaliyah dan amal ilmiah,’ jadi itu benar-benar kami lakukan dengan beberapa program yang kami jalankan, salah satunya forum ini. forum lainnya yaitu Joint Initiative for Strategic Religious Action (JISRA) bersama lintas iman,” katanya.


Melalui forum-forum diskusi ini, Fatayat NU dapat memetakan kondisi toleransi dan intoleransi di Jawa Barat, mempunyai bahan materi serta mengetahui cara mencegah paparan paham radikalisme dan ekstremisme.


“Salah satu manfaatnya dari forum-forum yang kami adakan ini yaitu melahirkan modul dakwah dari berbagai perspektif, buka hanya islam melainkan dari berbagai lintas iman, sehingga kami mempunyai kekayaan gagasan, oh ini kalau orang islam dakwah itu jangan seperti ini kata orang kristen, ini harusnya seperti ini, nah itu akhirnya kami melahirkan modul dakwah yang kiranya bisa dimanfaatkan untuk menyampaikan dakwah yang toleran,” pungkasnya.
 


Kota Bandung Terbaru