• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Minggu, 23 Juni 2024

Keislaman

Hikmah Kisah Nabi Adam AS (1)

Hikmah Kisah Nabi Adam AS (1)
(Ilustrasi: NU Online).
(Ilustrasi: NU Online).

Segala yang tercipta dan terjadi dalam dunia ini tentu memiliki hikmahnya. Apalagi jika yang terjadi itu erat kaitannya dengan perjalanan manusia pilihan seperti halnya para Nabi dan Rasul. Apa saja yang dialami dan dilakukan oleh para Nabi dan Rasul sangat penting untuk direnungkan dan diambil hikmahnya, mengingat semuanya itu merupakan sebuah pelajaran bagi seluruh umat manusia. 


Seperti pada kisah Nabi Adam AS. Setiap yang dialami dan dilaluinya patut dijadikan bahan renungan. Baik itu terkait dengan tujuan penciptaannya, tempat yang menjadi huniannya, serta luka liku perjalanan hidupnya. 


Pertama, Nabi Adam AS-selanjutnya manusia secara keseluruhan-merupakan makhluk yang diciptakan Allah dengan misi utamanya yaitu sebagai khalifah di muka bumi, pemakmur alam semesta dan penjaga hukum dan aturan-aturan yang telah digariskan Allah SWT (QS al-Baqarah [2]: 30). 


Karena menjadi pemegang mandataris utama Tuhan di muka bumi, maka manusia diberi kemampuan untuk mengelola alam semesta dengan berbagai kreatifitasnya. Oleh karenanya wajar jika kemajuan dan perubahan kondisi kehidupan di segala bidang, dari waktu ke waktu berkembang begitu pesat. Inilah kiranya penegasan firman Allah SWT wa'allama aadama al asmaa kullaha bahwa Nabi Adam mampu memahami segala yang diajarkan Tuhannya di banding dengan makhluk yang lainnya. 


Kedua, Nabi Adam AS menjadi manusia pertama yang mampu mendiami dua alam (tempat) sekaligus. Pertama tinggal di alam jabarut di surga saat pertama kali diciptakan, kedua menetap di alam nasut di bumi ketika ia mengelola bumi hingga akhir hayatnya. 


Bumi menjadi tempat persinggahan manusia sementara. Adapun tempat yang kekal nan abdi adalah akhirat yang dilambangkan dengan surga. Dengan demikian akhirat-surga atau neraka- merupakan alam terakhir yang akan dihuni manusia. 


Ketiga, Nabi Adam AS diturunkan ke bumi. Keliru jika kita memahami bahwa Nabi Adam diturunkan ke bumi sebagai hukuman karena telah melanggar perintah Allah SWT. Apalagi jika ada asumsi bahwa Nabi Adam telah berdosa besar dan dosa itu menjadi bawaan bagi setiap manusia yang lahir sehingga cara penebusan dosanya dengan sebuah penyaliban, maka pandangan seperti ini sangatlah tidak logis mengingat setiap manusia yang lahir suci dan bersih dari dosa. Setiap kesalahan yang dilakukan seseorang  tidak serta merta menjadikan anak keturunannya menjadi bersalah. Dosa itu baru dianggap oleh Allah SWT setelah seseorang menjadi aqil baligh kemudian melakukan perbuatan-perbuatan dosa oleh sendirinya.


Dalam Al-Qur'an berulang-ulang disebutkan bahwa pelanggaran Nabi Adam itu sifatnya lupa. Nabi Adam dianggap Allah hanya tersalah dan bukan pendosa yang tak terampuni. Setiap kesalahan yang dilakukan manusia karena lupa tidak dianggap Allah sebagai dosa dan tidak dianggap sebagai dosa besar. Apalagi jika kesalahan akibat lupa itu terus menerus disesali, jelas akan terampuni.  Oleh karenanya, seseorang yang mampu menyadari kesalahannya dengan baik bukanlah orang yang berdosa, melainkan menjadi seorang yang amat mulia. Hal inilah yang kemudian dilakukan Nabi Adam AS dengan terus berdoa "Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi."(QS al-A'raf [7]: 23).  


Ditegaskan kembali, bahwa diturunkannya Nabi Adam merupakan skenario dari Allah SWT. Sebagaimana disebut diawal, Nabi Adam-selanjutnya manusia secara keseluruhan-diturunkan ke bumi yaitu untuk memakmurkan kehidupan alam semesta, bukan untuk menebus suatu kesalahan. 


Bersambung.


Rudi Sirojudin Abas, salah seorang peneliti kelahiran Garut yang sehari-hari bekerja sebagai tenaga pendidik


Keislaman Terbaru