• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Senin, 4 Maret 2024

Kabupaten Bekasi

Hadirkan Tokoh Lintas Agama, Pesantren Motivasi Indonesia Gelar Seminar Kebangsaan Peringati Hari Sumpah Pemuda

Hadirkan Tokoh Lintas Agama, Pesantren Motivasi Indonesia Gelar Seminar Kebangsaan Peringati Hari Sumpah Pemuda
Hadirkan Tokoh Lintas Agama, Pesantren Motivasi Indonesia Gelar Seminar Kebangsaan Peringati Hari Sumpah Pemuda
Hadirkan Tokoh Lintas Agama, Pesantren Motivasi Indonesia Gelar Seminar Kebangsaan Peringati Hari Sumpah Pemuda

Bekasi, NU Online Jabar
Pesantren Motivasi Indonesia, Bekasi, Jawa Barat menggelar seminar kebangsaan dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada Sabtu (28/10/2023). Dalam seminar tersebut, Pesantren Motivasi Indonesia menghadirkan tokoh lintas agama dan membahas tema 'Dengan Semangat Sumpah Pemuda, Kita Bangkitkan Moderasi Beragama Menuju Indonesia Emas 2045'.


Adapun Tokoh lintas agama yang hadir dalam seminar kebangsaan ini adalah KH Taufik Damas sebagai perwakilan umat Islam, Pendeta Martin Lukito Sinaga yang mewakili umat Kristen, dan Banthe Sutiyono Tejavaro dari Buddha. 


Pengasuh Pesantren Motivasi Indonesia KH Ahmad Nurul Huda Haem (Kiai Enha) menyampaikan tentang peluang strategis pemuda untuk menempati berbagai posisi dalam kepemimpinan di level pemerintahan. Namun, Kiai Enha menekankan bahwa generasi muda hendaknya tidak berproses secara instan atau disebut sebagai generasi 'karbitan' yang minim pengalaman. 


"Justru generasi muda yang seperti itu akan membahayakan masa depan bangsa dan negara. Pemimpin karbitan adalah masalah serius," kata Kiai Enha.


Ia melanjutkan, kepemimpinan dalam level apa pun butuh kematangan dalam berpikir, bersikap, dan mengambil keputusan. Menurutnya, pemimpin butuh jam terbang yang tinggi dan tidak boleh coba-coba karena mempertaruhkan nasib banyak orang. 


Sebagai contoh, Kiai Enha memberikan gambaran bahwa para pendiri bangsa Indonesia adalah anak-anak muda yang sudah matang ditempa ujian sulit pada masa penjajahan. 


"Generasi muda pendiri bangsa adalah orang-orang matang yang ditempa ujian sulit era penjajahan, bukan diberi karpet merah oleh orang tua atau kolega," tegas Kiai Enha. 


Sementara itu, Pengajar Sekolah Tinggi Filsafat Teologia Jakarta Pendeta Martin Lukito Sinaga yang hadir sebagai narasumber dalam seminar ini menyampaikan makna substansi pemuda pada saat tercetusnya Sumpah Pemuda pads 1928. 


Menurut Pendeta Martin, angkatan muda pada masa itu adalah orang-orang yang punya semangat dan pikiran-pikiran jauh ke depan tentang nasib bangsa dan negara.


"Muda bukan tentang usia, tapi cara berpikir," katanya. 


Dalam perspektif moderasi beragama, menurut Pendeta Martin, sumpah pemuda merupakan spirit kebersamaan dalam iman yang dipraktekkan dalam kehidupan nyata. "Ini adalah tantangan bagi generasi-Z yang kamu memahami agama dari media sosial," ungkapnya.


Sementara itu, Wakil Katib Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta KH Taufik Damas menyampaikan pentingnya pendidikan pluralisme bagi pemuda. Ia mendorong umat beragama menjalani agama dengan benar, menjadi pribadi yang toleran, bijak dalam bersikap, dan sejuk dalam bertutur.


Kiai Taufik membahas tentang penerimaan Pancasila oleh Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari yang disebutnya sebagai penerimaan spiritual, bukan penerimaan politik semata. 


"Kiai Hasyim berdoa sangat lama, beristikharah, dan akhirnya memberi jawaban kepada putranya, Kiai Wahid Hasyim, yang meminta fatwa kepada pendiri Nahdlatul Ulama itu," kata Kiai Taufik. 


Selain itu, Banthe Sutiyono Tejavaro sebagai perwakilan dari agama Buddha menekankan pentingnya nilai-nilai agama dan moralitas untuk menjaga bangsa dan negara. Seorang warga negara yang beriman harus mempunyai kesadaran keyakinan, moral yang baik, niat yang tulus, kemurahan hati, dan kebijaksanaan. 


"Bangsa yang besar adalah bangsa yang mencintai negaranya dengan menjaga nilai-nilai dan moral keagamaan" katanya.


Sebagai informasi, selain tokoh lintas agama, seminar kebangsaan ini dihadiri oleh Kepala Kementerian Agama Kabupaten Bekasi Asnawi, Ketua PCNU Kabupaten Bekasi KH Atho Romli, para pengurus NU Kota Bekasi, Gerakan Pemuda Ansor Mustikajaya, Keluarga Kudus, perwakilan agama Hindu, Orang Muda Katolik, dan para santri Pesantren Motivasi Indonesia. Seminar ini terlaksana atas kerja sama Pesantren Motivasi Indonesia dengan Forum Persaudaraan dan Kerukunan Umat Beragama Grand Wisata dan Sekitarnya. 


Pewarta: Aru Lego Triono


Kabupaten Bekasi Terbaru