Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Setiap Insan Punya Cara Sendiri, Bagaimana Meraih Rahmatnya Allah 

Setiap Insan Punya Cara Sendiri, Bagaimana Meraih Rahmatnya Allah 
Tukang Sapu (foto: tribuntravel.com)
Tukang Sapu (foto: tribuntravel.com)

Setiap insan dan setiap hamba memepunyai caranya sendiri bagaimana ia memperoleh rahmat dan ridho Allah Swt, tidak melulu bagi mereka yang sehari-harinya beraktivitas dan hidup dalam lingkungan agamis, melainkan rahmat Allah itu ada dimana-mana dan dapat diraih dengan cara apa saja.

 

Rahmat itu kadang berada pada amal-amal yang sepele, bisa saja rahmat itu terletak dalam diri anak-anak jalanan yang menengadah minta uluran tangan pada hadapan kita, atau bisa saja pada mereka yang jualan koran dijalanan, dan juga mungkin rahmat itu terletak dalam amal kita, ketika tak sengaja melihat paku dijalan lalu kita membuangnya. Wal hasil sekecil apapaun amal itu tidak boleh kita sepelekan.

 

Maka dari itu rahmat Allah itu berada dimana saja dalam amal baik yang kita perbuat. Jangan mudah menganggap profesi orang atau pekerjaan orang yang kita anggap jauh dari nilai agama, belum tentu dimata sang pencipta itu jauh dari nilai agama, bisa saja disitu adanya rahmat Allah. Seperti kisah seorang wanita penzina yang diampuni karena amalannya memberi minum Anjing yang kehausan di tengah gurun pasir.

 

Dari Abu Hurairah, Nabi shallAllahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


أَنَّ امْرَأَةً بَغِيًّا رَأَتْ كَلْبًا فِى يَوْمٍ حَارٍّ يُطِيفُ بِبِئْرٍ قَدْ أَدْلَعَ لِسَانَهُ مِنَ الْعَطَشِ فَنَزَعَتْ لَهُ بِمُوقِهَا فَغُفِرَ لَهَا

 

“Ada seorang wanita pezina melihat seekor anjing di hari yang panasnya begitu terik. Anjing itu menngelilingi sumur tersebut sambil menjulurkan lidahnya karena kehausan. Lalu wanita itu melepas sepatunya (lalu menimba air dengannya). Ia pun diampuni karena amalannya tersebut.” (HR. Muslim no. 2245).


Dari kisah itu kita tahu bahwa rahmat Allah itu ada dan berlaku bagi siapa saja, setiap insan punya caranya sendiri, orang yang kerja sebagai Petani, rahmat Allah berada dalam usahanya yang sabar merawat dan menunggu hasil panen, orang yang kerja sebagai Nelayan, rahmat Allah berada dalam usahanya tabah mengarungi lautan demi menghidupi keluarganya, orang yang kerja sebagai penyapu jalanan, rahmat Allah ada dalam usahanya membuat jalanan terlihat rapih dan bersih. 

 

Kita menganalogikan bukan lima tambah lima, karena hasilnya sudah pasti sepuluh, namun berapa tambah berapa supaya hasilnya sepuluh, bisa delapan tambah dua, bisa enam tambah empat, bisa tujuh tambah tiga, ini mengartikan bahwa banyak cara kita sebagai hamba untuk mendapatkan rahmat dan ridhonya Allah, tergantung bagaimana kita bersikap, dan niat dalam menjalankan apa yang kita lakukan. 

 

Innamal A'malu binniyati


عَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ


Dari Umar, bahwa Rasulullah shallAllahu alaihi wasallam bersabda: "Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan; barangsiapa niat hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya adalah kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa dia diniatkan." (HR. Bukhari) [ No. 54 Fathul Bari] Shahih.

 

Mengenai rahmat Allah dapat diperoleh dengan cara apa saja, bagi orang yang taat menjalankan perintah Allah dan taat kepada Allah dalam menjauhi larangan-larangan-Nya dengan kesadaran dan niat ta’abbud merupakan esensi dari takwa kepada Allah swt. Apabila seorang hamba sudah bertakwa, maka sudah barang tentu Allah akan ridho kepadanya. Dan jika Allah telah ridho kepada seorang hamba, maka Allah akan menyayanginya dan merahmatinya. 

 

Namun perlu kita ingat pesan baginda Rasulullah Saw, ia berpesan sesungguhnya tidak ada seorang hamba yang masuk surga murni karena amal ibadahnya. Ini bukan berarti Allah menyia-nyiakan amal ibadah hamba-Nya.

 

Manusia bisa selamat dan bahagia di akhirat itu karena rahmat dan kasih sayang Allah.
Rasulullah mengabarkan sebanyak apapun ibadah yang dilakukan seorang hamba, tidak akan cukup ditukar dengan nikmat-nikmat yang dianugerahkan Allah kepadanya.

 

Maka dari itu, sangat diperlukan keikhlasan dan ketulusan dalam menjalani ibadah yang dilakukan oleh setiap hamba, tidak boleh sombong dan merasa paling alim dan layak masuk surga karena telah banyak beribadah. Justru ketika seseorang mengaku dan merasa telah banyak beribadah sesungguhnya ia bukanlah seorang ahli ibadah.


Apalagi jika ia merasa lebih baik dan lebih shaleh dari orang lain, maka sesungguhnya ia telah terkena penyakit ujub yang justru bisa menjauhkannya dari rahmat Allah. Padahal rahmat dan kasih sayang Allah itulah yang bisa menyelamatkannya dari nasib buruk di hari kiamat. Bukan semata amal ibadahnya.


Oleh karena itu, selain menyuruh hambanya untuk ikhlas dalam beribadah, Allah memerintahkan kepada kita untuk memiliki sifat rahmat atau kasih sayang kepada sesama makhluk Allah. Tentu bukan kebetulan ketika sifat Allah yang maha pengasih dan penyayang merupakan sifat-sifat Allah yang paling banyak kita ucapkan setiap hari. Setiap hari, ketika sholat maupun ketika kita hendak mengerjakan sesuatu, kita mengucapkan kata bismillahirrahmanirrahiim.  

 

Allah sendiri telah menyatakan bahwa rahmat dan kasih sayangnya meliputi segala sesuatu atau semua makhluknya; makhluk hidup maupun benda mati. Kasih sayang Allah juga meliputi semua manusia, baik mereka beriman atau ingat. Allah juga menyatakan bahwa rahmat-Nya didahulukan atas murka-Nya.  


Di dalam memperlakukan hamba-Nya, seburuk apapun dia, Allah mendahulukan sifat rahmatnya dari murkanya. Sebab itu, Allah tidak pernah bosan memberi ampun kepada hambanya yang telah bermaksiat. Bahkan ketika seorang hamba itu berulang kali bersalah dan berulang kali pula bertaubat. Allah menyatakan Dia tidak akan pernah bosan menerima taubat hambanya, sampai hamba tersebut yang bosan bertaubat. 

 

Editor: Abdul Manap
Artikel ini diolah dari berbagai sumber di media NU Online

Hikmah Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×